Nasihatin orang yang lagi putus harapan tu emang gampang, baru-baru
ini aku juga ditanyain seseorang, “mik gimana sih hidup survive?”
Aku Cuma bilang, “Jangan jadi batu di sungai, jadilah arusnya. Bukan
harus survive seperti batu, lalui saja kehidupan apa adanya.”
Kalau aku inget2 omonganku lagi, aku Cuma bisa tertawa sama diri
sendiri. Bisa-bisanya orang yang putus harapan ditanya soal survive, padahal dia
sedang membuktikan hipotesisnya benar apa ga. Pathetic ya…
Tapi selalu ada harapan disetiap kita jatuh. Hmm aku tidak sedang
jatuh, Id. Aku benci terkadang aku masih mengkasihani diriku. Antara tidak
percaya bahwa aku bisa dicintai dan mencintai lagi.
Jengah..mungkin itu kata yang tepat sekarang. Aku takut mencoba lagi.
Takut seseorang jatuh cinta sama aku dan aku jatuh cinta sama dia, dia kecewa
karena aku tidak benar-benar mencintai dia dengan benar trus aku ditinggalkan
untuk kesekian kalinya. Aku sampai takut mengingat-ingat apa kemarin aku
mencintai dengan benar atau mencintai dengan sepenuh hati, seperti katamu.
Kalau bukan karena rahim ada masa expired, aku kepengen semua dalam
bagian hidupku hanya menjadi teman. Teman, karena disaat kita jatuh mereka
selalu ada. Itu yang terpenting. Dan saat kita senang, dia selalu tulus tertawa
buat kita juga. Bener ga? Atau aku tak perlu mencari pacar tapi memilih teman
dari sekian teman yang aku punya.
Jangan tanggapi kontruksiku soal rahim yang bisa kadarluarsa, bukankah
itu alasan orang menikah. Aku berharap seseorang yang mengajakku menikah bukan
karena dia mencintaiku, tapi sebuah alasan yang aku sendiri belum tahu
jawabannya. Sebuah alasan yang buat aku ingin hidup bersamanya.
Baca novel teh Ninit, ‘Test Pack’, seharusnya aku tahu jawaban kenapa
orang mau menikah. Sebuah alasan yang cukup berat saat Wine, si sperma tak bisa
diajak bekerjasama dengan Ultra Milk, si rahim yang punya batas kadarluarsa.
Lagi-lagi cinta platonik.
Balik lagi alasan yang aku sendiri belum nemu, ironisnya pacar-pacar
yang awet sama aku, orang yang ga bisa meramu kata-kata indah. Aku masih inget
pacar pertamaku suka mengirim puisi, setelah beberapa bulan kami pacaran, dia
tak lagi mengirim puisi. Aku Tanya kenapa? Dia jawab singkat, website-nya uda
tutup. Aku Cuma ketawa aja sama gayanya tapi justru itu yang bikin aku awet
pacaran sama dia.
Aku ini orang yang bisa menghujani kekasih dengan kata-kata, sekalinya
pria yang mendekatiku berkata indah, aku bisa langsung ilfil ga karuan.
Waduh gawat juga…aku bakal susah nemu orang yang pinter bikin alesan
tapi ga bikin aku ilfil seketika.
Pikiran gila kadang menyerbuku, gimana ya kalau aku ketemu lagi dengan
mantanku yang terakhir? Aku ingin sekali berjuang buat dia, beri satu kesempatan
buat aku buktiin perasaanku lagi. Aku ingin sekali buat dia tersenyum, palagi
kalau liat matanya tertawa karena bersamaku. Kalau kamu melihatnya, mungkin
kamu akan jatuh cinta dengan makhluk ini. Matanya benar-benar tersenyum dan
buat hatimu terharu.
Hari terakhir aku bersamanya, aku melihatnya lamat-lamat…aku melihat
mata itu tak lagi tersenyum. Aku sudah tidak bisa buat mata itu tertawa. Aku
malah buat dia bersedih. Dihari terakhir, ia menangis untukku.
Baru untuk pertama kalinya, ada pria menangis untukku ketika aku
mengatakan aku masih jatuh cinta padanya sampai detik dia memutuskanku. Aku
masih jatuh cinta melihat matanya. Memang tampak pengecut, aku di Jakarta
sekarang. Merasa tenang karena aku ga perlu melihat matanya yang buat aku jatuh
cinta itu lagi.
Aku ga bohong aku menangis keras kehilangan dia. Aku menangis terluka,
seluruh metabolisme dalam tubuhku bergetar kencang. Tapi aku ga bohong bahwa
aku lega dia kasih aku keputusan seperti ini. Ketika dia menyuruhku makan, aku
berusaha memaksa nasi masuk dalam mulutku. Aku ingin hari terakhir bersamanya,
dia melihatku baik-baik saja. Dia minta aku mengejar impianku. Aku hanya
mengangguk dan saat itupun aku berjanji, aku akan mengejar impianku…tanpanya
tentunya.
Betapapun aku marah karena
kehilangan dia, aku tahu benar mantanku ini orang yang hidup dengan
pertimbangan-pertimbangan logis yang seringkali aku ga punya. Ini memang sebuah
penyesalan tapi penyesalan ini hanya sementara saja. Suatu saat ini akan menjadi
kenangan manis lagi, begitukan Id?!
Kopi yang pahit tidak akan terasa pahit kalau kita terbiasa
meminumnya, sama seperti kehidupan yang terkadang rasanya pahit justru akan
membuat kita lebih dewasa.
Id, aku ga ingin membuktikan apa-apa padanya seperti apa yang seringkali
diucapkan orang yang baru putus cinta, “Aku bisa hidup tanpamu”. Mencoba
menegarkan hati mereka dan bertahan dengan perasaan terluka.
Ketika aku ingin menangis, aku akan menangis. Tinggal membutuhkan air
mata dan menghapusnya. Aku Cuma ingin menikmati kehidupan yang berjalan apa
adanya. Setiap aku bernafas,melangkah, belajar, menulis, aku terus bersyukur
sama Tuhan. Menjadi arus adalah dengan melalui kehidupan apa adanya. Jangan
menjadi batu, karena kita tidak bisa bertahan terlalu lama dengan arus yang
semakin kuat. Inti dari Supernova, berpasrah-lah.
No comments:
Post a Comment