Saturday, May 24, 2008

Tempo : Proyek Indonesia yang belum selesai

Kalau tidak punya waktu untuk duduk–duduk sekadar membaca sejarah negeri, atau bahkan sudah tidak peduli lagi dengan negara ini. Coba lirik sejenak majalah Tempo edisi Kebangkitan Nasional. Majalah ini menyuguhkan rangkuman semuanya. Layaknya sebuah etalase negeri sepanjang abad.

Tempo edisi Kebangkitan Nasional tercatat sebagai Tempo tertebal sepanjang sejarah penerbitannya. Cukup unik memang, Tempo berhasil berbagi fenomena sejarah yang pernah ada, mulai dari maklumat, peta, pidato, catatan harian, puisi, prosa serta buku-buku fiksi dan nonfiksi. Potret sebuah negara dari sebuah teks.

Siapa sih yang tidak kenal Thomas Stamford Raffles, ternyata pria kebangsaan Inggris ini mengumpulkan manuskrip lokal, mulai dari berbagai babat dan kesusastraan Jawa. Bersama ahli arkeologi Belanda, ia dibantu menerjemahkan lontar-lontar tersebut. Dan pada akhirnya lahirlah buku The History of Java, yang mengupas romantisme Jawa.

Atau kita masih diingatkan kembali dengan Eduard Douwes Dekker, dengan karangan buku Max Havelaar, tidak lain adalah buku pegangan Mohammad Hatta dalam perjuangannya mendirikan negara ini.

Buku pemikiran para pejuang bangsa juga tidak lepas disorot, Dibawah Bendera Revolusi yang melegenda hasil pemikiran Soekarno, Aspirasi Pemerintahan Konstitusional oleh Adnan Buyung, Massa Aksi dan Madilog oleh Tan Malaka, artikel di sebuah surat kabar ‘Seandainya Aku Seorang Belanda’ yang menyebabkan, si penulis, Ki Hajar Dewantara dibuang ke pulau Bangka.

Kita juga diingatkan kembali dengan review buku ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’ karangan RA Kartini dan ‘Catatan Seorang Demonstran’ yang ditulis sejak usia 15 tahun oleh Soe Hok Gie. Atau Wiji Thukul ikon demonstrasi melawan penguasa orde baru, yang ‘sengaja dihilangkan’ negara tapi masih terus hidup berjuang dalam puisi-puisinya dan satu kata Wiji Thukul yang terkenal dikalangan para demonstran sampai sekarang, “Lawan”.

Beberapa kesusastraan terkenal sepanjang abad Indonesia menjadi bagian pula dalam rangkuman 100 tahun Kebangkitan Nasional. Masih ingatkan dengan Siti Nurbaya, karangan Marah Rusli atau Layar Terkembang yang ingin menyampaikan identitas bangsa pada saat itu, atau Salah Asuhan karangan Abdoel Muis. Dan tentu saja, Pramoedya Ananta Toer dengan Tetralogi Pulau Buru menjadi salah satu daftar pula dalam sastra Indonesia.

Naskah Proklamasi yang begitu sederhana ternyata mengungkap keadaan genting pada saat itu. Naskah Persiapan UUD 1945, Dekrit Presiden, Pidato lahirnya Pancasila, GBHN, Sumpah Pemuda dan beberapa maklumat yang pernah ada juga menjadi coretan tinta sejarah bangsa ini.

Indonesia memang proyek yang belum selesai. Kita menjadi bagiannya. Entah jadi pelaku atau objek dari proyek tersebut. Tapi banyak diantara kita yang tidak mau tahu dengan proyek bersama ini. Yaa…mungkin salah satu diantaranya adalah saya. Semakin saya tua, semakin saya tidak peduli dengan negara ini. Asal cukup makan dan tidur. Atau saya hanya bisa berkomentar buruk tentang pemerintahan, tanpa melakukan apa-apa untuk negara ini. Ya begitulah saya.. kemana jiwa nasionalisme yang dulu mati-matian ditanam saat masa sekolah dulu? Sudah lupa tuh..Bahkan guru sejarahnya saja, saya tidak ingat..tidak ada plan rencana kehidupan saya sebagai bangsa. Ogah membicarakan bangsa ini menjadi titik paling aman dari saya sebagai bagian bangsa ini.

Buku yang pernah saya ingat dan saya baca, hanya satu. Biografi Soekarno dalam buku Penyambung Lidah Rakyat karya Cindy Adams. Itu karena saya menyukai perjuangan Soekarno merintis semangat bangsa ini. Padahal ada banyak pemikiran-pemikiran pendiri bangsa yang layak untuk dibaca, tidak…tidak, tapi wajib dibaca oleh generasi penerus bangsa ini.

Paling tidak edisi majalah ini mengingatkan kita kembali sebagai bangsa yang penuh dengan romantisme perjuangan. Jangan pernah lelah untuk mencintai bangsa ini ya...

Breaktrough, break the mediocrity

Sabtu lalu di Segarra Ancol, one heaven on earth, baru saja menjadi tempat ajang malam penganugerahan Cakram Award 2008. Ajang ini justru lahir awalnya di saat krisis moneter menghantam bisnis komunikasi tahun 1999. Disaat belanja iklan menyusut, mereka harus terus melahirkan kreativitas-kreativitas. Maka lahirlah penghargaan bagi teman-teman di dunia periklanan.

Ajang bergengsi ini mengusung tema Breaktrough. Hmm kenapa memakai istilah ini ya?

Persiapan teman-teman majalah Cakram juga cukup solid. Sebelum acara penganugerahan award berlangsung, Cakram menyelenggarakan 3 rangkaian seminar yang menghadirkan pakar periklanan yang cukup punya reputasi. Sebut saja teman-teman dari Ogilvy Beijing, JWT Indonesia, MORE Indonesia, Octocomm, DesignBrige London, Landor Dubai dan banyak lagi. Topik-topik yang diangkat juga yang paling up to date, diantaranya mobile marketing, solusi mengawinkan kreatifitas dan efektifitas dalam pemasaran dan iklan hingga destination branding.

Konsep breaktrough inipula yang akan menjadikan kriteria penjurian memilih pemenang. Tidak harus yang ter-ter (terbanyak, terindah, terbesar…) tapi dilihat sepak terjangnya untuk menjadi lebih unggul.

Kategori award diantaranya : perusahaan makanan/minuman, otomotif, telekomunikasi, jasa keuangan, jasa non keuangan, kebutuhan konsumen, elektronik, PR Agency, Ad Agency, PH, surat kabar, stasiun radio, stasiun TV, tabloid, majalah, news portal, TVC, Radio Ad, Print Ad, kampanye komersial (ATL) dan non komersial (PSA), kampanye BTL, insan media, client service, pengarah kreatif, brand product/marketing manager.  

Sayang saat pemilihan pemenang kategori pengelola surat kabar, Kompas kalah, dan tersaingi dengan Seputar Indonesia. Salah satu teman sempat menanyakan kenapa si rising star ini bisa menang? Yap mereka memang bekerja keras untuk menjadi si remaja 17 tahun. Dan ga bisa dianggap remeh dari kelahirannya, 2-3 tahun belakangan ini. Bisa dibilang daya juang dan pemetaan pasar serta implementasinya dilapangan, patut diacungin jempol.

Dara, breaktrough of fashion performing art

Pertunjukan panggung bertajuk “Dara”, Fashion Performing Arts sudah beberapa waktu digelar di Assembly Hall – Jakarta Convention Center, tepatnya 15 April 2008. Namun konsep peragaan busana yang fenomenal ini tidak bisa dilupakan begitu saja. Musa Widyatmojo, sang desainer dan Boi G Sakti, sang sutradara berhasil menawarkan sebuah konsep baru dari sebuah peragaan busana, dipadu dengan seni tari kontemporer dan teaterikal yang mengalir mulus bak Siti Nurbaya modern.

Identitas bangsa tampak dalam detil-detil dan pemilihan warna dalam setiap busana yang dikenakan para penari dan model-modelnya. Kain songket, permainan bordir dan warna-warna berani seperti merah, hitam, emas, kuning banyak bermunculan. Aksen yang pas menggambarkan ide cerita. Musa benar-benar moncondongkan warna-warna Sumatra Barat tapi tidak melepaskan pengaruh kolonial Eropa, Timur Tengah, India dan China. Budaya-budaya yang ada disekitar Indonesia ini menjadi arsiran warna sekunder yang justru memunculkan fenomena baru dari sebuah pertunjukan.

Pemilihan karakter pas dengan sentuhan make up artistnya. Permainan batu dan aksesoris emas dengan ornamen kuno juga banyak ditemukan dalam peragaan busana yang ditampilkan.

Dentingan melayu dan china sangat akrab diawal sampai akhir paragraf pertunjukan. Pemilihan metofora sebagai simbol-simbol penceritaan terkesan mulus dan penggunaan multi media memberi warna techno yang apik dan lincah.

Cukup bikin tercengang dengan pertunjukan spektakuler seperti ini, Musa juga sangat concern dalam memperkenalkan busana tradisional bangsa di kancah internasional. Musa adalah salah satu desainer Indonesia yang mendalami bidangnya di New York, tapi inspirasinya berasal dari konsep kesederhanaan potongan dan sentuhan budaya Indonesia. Satu kata yang bisa mewakilkan perasaan pada saat itu : indah.


Feel The Rain in Your Skin

I am unwritten, can't read my mind, I'm undefined
I'm just beginning, the pen's in my hand, ending unplanned

Staring at the blank page before you
Open up the dirty window
Let the sun illuminate the words that you could not find

Reaching for something in the distance
So close you can almost taste it
Release your innovations
Feel the rain on your skin
No one else can feel it for you
Only you can let it in
No one else, no one else
Can speak the words on your lips
Drench yourself in words unspoken
Live your life with arms wide open
Today is where your book begins
The rest is still unwritten

I break tradition, sometimes my tries, are outside the lines
We've been conditioned to not make mistakes, but I can't live that way

Staring at the blank page before you
Open up the dirty window
Let the sun illuminate the words that you could not find

Staring at the blank page before you
Open up the dirty window
Let the sun illuminate the words that you could not find

Today is where your book begins

A Perfect Day

Sitting on the edge of an un-chair
Me seatbelt un-fastend
Shoelaces not tied

Letting the wind mess my hair
Makeup all smudged
Wake up all blury-eyed

Its too early in the morning
For my words to come out right
Just getting used to sunlight
Squinting in the light

And it looks like
A perfect day
Just too get away
On this monday
Has brought out the rebel i was born to be

And it feels like
The perfect time
Just to break away
This is my life
Its sision from the north

I'm an uncomformised
I like doing stupid things
Like laughing on a train
Or falling in love again
Television, magazines
To tell you how to live your life
But not how to use your brain

I wanna do sumthin i've never done
Dip my toes beneath the surface of a sea that i've never seen the bottem of

I'm not perfect
Don't have to be
I can walk around in just bare feet
I'm comfortable in my own skin
My confidence starts within

This is my life
Its sision from the north

Tuesday, May 6, 2008

somewhere only we know

I walked across an empty land
I knew the pathway like the back of my hand
I felt the earth beneath my own feet
Sat by the river and it made me complete

Oh simple thing where have you gone
I'm getting old and I need something to rely on
So tell me when you're gonna let me in
I'm getting tired and I need somewhere to begin

I came across a fallen tree
I felt the branches of it looking at me
Is this the place we used to love?
Is this the place that I've been dreaming of?

Oh simple thing where have you gone
I'm getting old and I need something to rely on
So tell me when you're gonna let me in
I'm getting tired and I need somewhere to begin

So and if you have a minute why don't we go
Talk about it somewhere only we know?
This could be the end of everything
So why don't we go
Somewhere only we know?
Somewhere only we know?



This could be the end of everything
So why don't we go?

Thursday, May 1, 2008

Perempuan Jawa…

Ada ya konsep jawa, ntah dari mana sumber bukunya, salah satu teman kuliah saya, sempat berbagi cerita kepada saya. Begini konsep perempuan jawa…

Seorang perempuan hidup sesuai kodratnya. Dia akan jadi istri dan ibu dari anak2nya

Seorang istri akan mengikuti suaminya, mengasihi dikala dekat, menjaga dikala jauh, menentang dikala suaminya berucap yang tidak di porsinya

Seorang perempuan memegang trah keturunan, bukan lelaki. Jadi perempuan yang baik akan melahirkan anak2 yang baik

Anak yang tumbuh dengan cara yang buruk adalah tanggung jawab seorang ibu dan ketidakmampuan tempaan seorang ayah

Hidup perempuan jawa sama halnya dengan lelaki, semua berasal dari satu titik. Darma dan Karma.

Darma adalah semua tingkah, ucapan, dan batin yang kamu terapkan sehari2 menuju kebaikan. Jika kamu berdarma yang baik, karma yang muncul juga baik

Karma adalah akibat yang kamu dapat dari semua polah, batin, dan ucapan

Perempuan derajatnya lebih tinggi daripada lelaki, karena dia punya harta tak ternilai dari Tuhan di dalam tubuhnya

Di tubuhnya dia punya "kehidupan" aka womb aka rahim

That's why hiduplah sesuai darma dan karmamu karena sesungguhnya hidup itu mengulang sesuatu yang sudah ada sebelumnya. kamu bisa jadi mengulang hidup salah satu individu di keluargamu. Makanya dalam satu trah keluarga ada yang cerita hidupnya mirip

Kamu yang generasi baru harus memperbaiki kesalahan yang dilakukan pendahulumu...karena hidup itu hanya sebuah pengulangan

Alias reinkarnasi...Islam tidak kenal reinkarnasi

tapi itu yang terjadi...

Makanya kadang kita suka ngerasa dejavu

Perempuan yang tidak menikah dinamakan "madat" menyalahi kodrat…perempuan yang berjuang untuk hidupnya harus paham bahwa di satu sisinya ia bukan memperjuangkan eksistensi dirinya tapi secara tidak sengaja dia mencoba memperbaiki hidup keturunannya sebelumnya

Kesalahan yang terjadi dalam hidup adalah lecutan yang harus di perbaiki oleh keturunan-keturunanmu selanjutnya. Kamu yang mengalami harus menyucikan diri. Caranya mudah....dan ini diakui dalam islam "tobat dan ikhtiar”.

Tulisan ini bikin saya sedikit merenung…

*Ding

atau merinding ya...

Mr.superman, where are you?

Katakan dimana aku bisa menemuimu?

Dalam satu tarikan nafas, aku menyebut-nyebut namamu

Siapa tahu, aku benar-benar menemukan jejakmu dalam sekelebatan malam

Apakah nantinya kau yang akan memberitahuku

tentang manisnya hidup sekaligus kegetirannya

Kalau aku berdiri di satu bukit tinggi

Hingga tak ada penghalang antara aku dan putaran malam

Apakah kau akan terlihat jelas dihadapanku?

Apakah aku sudah terlambat menemuimu?

Maaf baru mencarimu sekarang

Tapi masih bisakah kau menungguku

Berhentilah sejenak

Agar aku bisa melihatmu