Friday, November 23, 2007

Dini..

Musim hujan belum seharusnya jatuh bulan ini

Tapi kenapa air matamu terlanjur banyak yang jatuh?

Bukankah terlalu awal surat-surat cinta itu terkirim untuknya

Sementara udara disini masih saja dingin seperti kemarin-kemarin...


-temi-

Wednesday, November 14, 2007

Jakarta Kelabu

Jakarta kelabu kemarin, setelah berhasil lolos dari kemacetan luar biasa, pulang-pulang…kamar kos sudah dipenuhi air. Karpet plus kasur pada ga tau diri, tidak menyingkir dari kenyataan banjir.

 

Katanya sih kemarin hujan angin, pohon-pohon pada runtuh. Tapi yang meruntuhkan hati, gue kemarin sok simpati pada tetangga sebelah, melihat dia lagi beres-beres kasur saat gue pulang kerja.

 

“Lhoh mbak, banjir ya”

“Iya nih, loe ga tau, tadi hujan angin. Tuh lukisan kakak2 loe gue simpenin. Pada kemana-mana. Kasur kita kena nih”

“Masak sih…, mbak, gue punya karpet, mau pinjem buat tidur malam ini?”

“Gapapa kok, kita biasa tidur dilantai”

“Oo gitu ya, kalau mau pinjem karpet, pinjem aja. Ntar bilang kalau butuh.”

 

“Lhoh min, loe sendiri ga liat kamar loe??”

 

“Iya ya, kamar gue gimana ya...??” (*tuing...)

 

Kyyaaa…gue sok simpati ternyata kamar gue juga kena …hiks..hiks….

 

Hasilnya hari ini, badan gue kesakitan plus kesemutan karena tidur di lantai dingin, gue datang terlambat ke kantor karena sibuk njemur kasur, dan meeting gue ma klien di cancel pagi ini.

 

 

Sekarang lagi ngantuk tuk…tuk…huaaammm…

Wednesday, November 7, 2007

aku hanya ingin kau tau

Aku tidak marah padamu

Aku tidak ingin marah padamu

Dan aku selalu berharap kemarahanku tidak pernah ada padamu

Aku tidak kecewa padamu

Aku tidak ingin kecewa padamu

Dan aku selalu berharap kekecewaanku tidak pernah ada padamu

Yang kuinginkan hanya satu…

 

Duduk bersamamu

Beri aku kesempatan untuk bisa duduk bersamamu

Akan kubuatkan secangkir kopi hitam pekat untukmu

Sebungkus Djarum pun tlah ku siapkan untukmu

Mari kita duduk bersama

 

Didepan halaman depan yang kau rawat dengan kasihmu

Didepan bunga-bunga yang kau tanam dengan cintamu

Sambil kau bersihkan lensa dari kamera tua yang kau rawat baik

Kamera yang melebihi usiaku

Temani aku di beranda itu…

 

Aku memintamu untuk diam sebentar

Duduklah disampingku

Tidak perlu bicara…Tidak perlu

Karena aku hanya ingin kau mendengarkan saja

Dengarkan ceritaku

 

 

Saat usiaku 9 tahun

Aku berjalan di satu jalan setapak hutan lindung Sumatera

Aku berjalan sendiri dengan baju putih merahku dan termos yang masih menggantung dipundakku

Aku merasakan sensasi kesendirianku

Aku tahu sejak itu aku akan sangat menikmati sensasi itu

 

Saat usiaku 14 tahun

Aku mengayuh sepeda mungilku, di tengah sebuah taman.

Aku duduk disana sambil makan rujak yang kubeli dari sisa uang jajanku

Sambalnya jatuh menempel di seragam putih biruku

Aku duduk disalah satu ayunan tua.

Aku duduk sampai petang menghinggap..dan malam pun mulai beranjak

 

Ketika usiaku 16 tahun

Aku mengambil beberapa pakaian ke dalam tas kecilku.

Tak lupa seragam putih abuku.

Aku mengambil kunci sepeda motor

Malam begitu dingin, aku mengencangkan speedonya

Aku hanya ingin berlari sekencang-kencangnya

 

Saat usiaku beranjak 18 tahun,

Saat hasil ujian negara meyakinkanku

Aku tahu, akhirnya aku mendapat tiket kebebasanku!!

 

Saat usiaku beranjak 20 tahun,

Aku mengenakan stocking hitam dan eyeliner pedas dimataku

Aku menggenggam gaji pertamaku 

Sejak itu pula, aku yakin setiap detik akan melahirkan satu sensasi yang membuatku ingin terus hidup

 

Saat usiaku beranjak 22 tahun

Aku berlari dari satu tempat ke tempat lain dengan tape recoderku

Aku berlari dengan sepatu kets kuning hasil jerih payahku.

Aku tau dari setiap langkahku, aku bisa mendapatkan sensasi kesendirian itu lagi  dan lagi

 

Saat usiaku menjelang 24 tahun

Aku duduk di satu bis antar propinsi,

Duduk sendiri termenung

Aku mulai merasakan kebebasanku itu sekali lagi

Melebih sensasi kebebasan yang dulu-dulu

 

Aku hanya ingin kau tahu, bahwa di setiap detik itu aku menikmati kehidupanku

Dan aku hanya ingin kau mendengar kisah 14 tahunku yang terlewat begitu saja darimu…

 

 

Tapi waktu tetap saja berlalu,

Tanpa pernah ada beranda itu

Tanpa pernah ada perbincangan ini

Kau tetap saja bicara

Kau masih saja berbicara tanpa mendengar satu bagian dari kisahku

 

Dan aku hanya diam

Kembali diam seperti biasanya

Karena hanya ingin membuat hatimu senang

Dan kau bilang, “Maafkan, semua ini salahku”

Dan aku hanya diam tanpa satu kata pun

Tak ada rasa yang bisa kuungkapkan

Karena aku tidak ingin marah padamu

Karena aku tidak ingin kecewa padamu

Karena aku tidak ingin menangis untukmu

 

Aku hanya melihat langit semakin malam pekatnya

Sang pelaju tetap memaksaku untuk terdiam

Tanpa amarah, tanpa kekecewaan yang berarti

Tanpa air mata bahkan tak ada satu perasaan tergurat di benak ini

Tidak ada

 

Hanya saja,

Pada satu malam Malioboro

ketika seorang pria senja memanggul dagangan bakiaknya

Melangkah satu demi satu tungkai kakinya yang keriput

Tiba-tiba aku menangis…

Aku menangis sejadi-jadinya