Thursday, February 21, 2008

20 Februari 2008

Malam hari ini memang tidak begitu dingin, perasaanku juga tidak begitu kacau, hanya kelelahan yang melanda di sekitar tengkuk leher, lutut dan pikiran. Air hangat…itu adalah satu-satunya cara menghangatkan badan ini, hanya kenyamanan air hangat yang paling membantu.

Malam ini memang tidak begitu dingin, meski pada akhirnya tiba-tiba dingin merayap di beberapa permukaan kulit. Yap, selalu tepat di bulan Februari. Untuk kedua kalinya berpisah. Dan kali ini benar-benar sebuah kesepakatan bersama. 

 Jangan lagi ada kata perpisahan. Kata-kata terakhir yang selalu berpesan jaga diri, hati-hati. Karena itu akan membuat suasana terlalu penuh sesak dengan perasaan yang mengharu biru. Just say, have a nice sleep. Hal yang sering kita lakukan untuk mengucapkan perpisahan pada malam-malam biasanya. Ucapkan saja perpisahan itu pada sang malam.

Kita memang punya ego masing-masing untuk mempertahankan keadaan. Keadaan satu lebih baik dari keadaan satunya lagi. Hingga tidak ada yang bisa mengalah. Lalu kita berpura-pura untuk saling mengerti tentang keadaan ini dan berpasrah. Tapi  saat kita terbangun dari mimpi panjang membuai perasaan, kita tahu, keadaan memang membuat kita tidak bisa bersama.

Tidak ada yang perlu diucapkan dari sebuah perpisahan. Kata perpisahan selalu menyakitkan.

Jadi memilihlah. Pilih untuk mengucapkan kata perpisahan yang menyakitkan atau ucapkan saja selamat malam, selamat tidur. Dan jalani hari esok dengan tenang.

 

 20 Aug 2005 – 20 February 2008

Monday, February 18, 2008

Dear Ada,

Malam ini bulan benar-benar sedang mengamuk. Aku sampai pusing bagaimana cara menenangkannnya. Aku menunggu berjam-jam sampai ia bisa kembali tenang. Menunggu sambil membayangkan bagaimana kalau bulan bersanding dengan menara eifel. Tapi saat ini matahari merenggutnya dari malam kekuasaannya. Matahari benar-benar angkuh. Tapi bukan begitu kehidupan jagat semesta ini. Sesekali selalu ada saja yang iri dengan kebahagiaan yang lain. Aku tidak menyalahkan matahari, terkadang bulan juga demikian. Meski demikian, gerhana matahari dilangit tidak mempengaruhi malam cinta disini.

Eifel memang menara paling indah seperti katamu, dan menara yang paling romantis yang pernah kulihat. Malam ini rupanya cinta sedang bertumpah ruah. Banyak pasangan disini dan aku seperti biasa, menunggu emailmu disalah satu bangku taman. Sesekali memandang danau yang tenang.

Ada, kamu dimana? Di rig? Tempat biasa kamu menghabiskan waktumu? Bagaimana bulan di Qatar? Apakah matahari mencoba merebut kebahagiaannya juga disana?

Kangen,

 

Arimbi

 

 


A Paragraph Ada Untuk Arimbi – by embun bantal

Sunday, February 10, 2008

Malam kelabu

Awan mengepul menghitam, warna langit menjadi jingga marah. Yap, malam ini tidak ada hujan yang menghampiri. Air yang biasa membasahi bumi, berganti dengan awan hitam yang bukan petanda mendung, tapi petanda api yang sedang marah, menjilat-jilat perumahan penduduk.

Bergidik juga melihat warna merah api bercampur kelabu itu. Kebakaran tersebut memang tidak jauh dari kos gw…HUAAAA yasmin…baru aja 3 hari ngerasa home sweet home di kos, karena ga kemana-mana, harus ditakut-takuti dengan sang api…(kalau pernah baca postingan gw tentang persiapan menghadapi kebakaran, nah inilah saatnya bung, tuk buktikan kelihaian menyelamatkan diri)

Waktu itu gw sedang mengerjakan laporan buat besok meeting, dan seketika itu juga, gw menutup laptop memasukkan kedalam tas, berikut dengan ijasah. Dan..hm kemudian berpikir membawa DVD player baru gw, sepatu kerja, bletzer..arghhhh hentikan Yasmin..bawa HP, kartu ATM ma jaket. Titik.

Sambil ikut-ikutan nerves, gw pun datengin beberapa anak kos yang sedari tadi memandang sang monster api pasrah.

“Waduh jangan-jangan sampai ke tempat kita, ga lagi deh, masak untuk ketiga kalinya sih”

Gw melirik tajam ma tu temen kos gw, yaikss…bagaimana bisa gw memilih tempat idup gw di jakarta, yang ternyata api paling doyan main-main kesini.

Menurut pengakuan mereka, kejadian terakhir terjadi di belakang kos. Waktu itu kekacauan sempat terjadi. Dan untungnya Cuma 4 rumah yang kelalap api. Ngeri juga dengerinnya. Bayangin kejadian itu terjadi lagi, gw pasti uda nangis meraung-raung. Dan sekarang pun udah kejadian didepan mata gw…belum selesai menerima kejujuran teman kos, lampu diseluruh pemukiman penduduk pun mati lampu. 

 

Mama, aku mau pulang kampung ma…aku tak angon sapi wae ma…

desaku yang damai nan permai, desah gw sambil mengingat-ingat saat gw berada diatas sapi dan membajak sawah leluhur..(ini boong)

 

 

Saat kecemasan melanda, apakah tu api bakal mendekat ke kos atau ga, gw pun mencetuskan ide brilian.

“hei, gimana kalo kita datengin tu api”

“hah”

“Iya”

“Kenapa? Kenapa tidak menghubungi pemadam kebakaran saja”

“Itu mah uda ada yang manggil. Yang kita butuhkan adalah kepastian api tu dimana, uda sampai mana, biar kita tidak digantung-gantungkan gini ma si api dan keadaan”

“Tapi, kalau kita datang kesana, trus si api uda nyamperin kos kita gimana”

“Hmm iya juga sih”, gw pun berpikir keras.

“Yah gini aja, mending kita kesana, sambil cari makan malam??”

Entah kenapa temen2 kos gw pada manggut-manggut dan ngikutin apa kata gw. Sebenarnya yang gw butuhkan temen makan malam aja sih…

Lampu sepanjang gang padam

Suasana makin mencengkam

Dan satu titik, gw pun menangkap beberapa pria berkumpul di satu warung

Sambil kecemasan tingkat tinggi, gw datengin tu warung

Entah kenapa warung itu lampunya ga mati dan entah kenapa para bapak-bapak berkumpul disana

Ada kah korban jiwa disana??

Gw mulai tak sabar menanti oleh-oleh paman dari desa (halah..jaka sembung)

Setelah gw datengin tu warung ,

busyyeeet dah…ternyata bapak2 itu sedang nonton bola. Karena rumah mereka pada mati lampu

 

Melihat fenomena begini gw miris

Bagaimana bisa suasana duka, orang-orang kehilangan rumah tinggal, masyarakat tetangganya masih mentingin bola

Gw sumpahin tu acara bola yang digelar di Bandung itu ga ada suporternya..(ya emang disabotase kali miiinnn ><)

 

Sumpah serapah sudah keluar, kini gw dan temen-temen kos gw ngelanjutin perjalanan mara bahaya.

Perjalanan ini ternyata lama juga, secara gelap gulita, meraba-raba dinding yang bertebaran disepanjang jalan.

Sang asap mulai kelihatan batang hidungnya

Dan Gw pun bisa melihat sang api melalap apa yang bisa dimakan ma ketimun dan kemangi.

 

Usut punya usut ternyata api itu ada diseberang jalan tol, tepat di area eksekusi satpol PP yang mengambil lahan warga untuk dijadikan taman penghijauan.

 

Sedih, karena kebakaran itu katanya emang disengaja, biar semua warga bisa cabut dari lahan tersebut.

Sedih karena gw sebagai anak FISIP yang biasa demo dijalanan, setelah kerja gini ga bisa ngapa-ngapain

Sedih karena orang hanya bisa menyaksikan tanpa berbuat apa-apa

Tanpa bisa melakukan apa-apa, karena kita dipisahkan jalan tol.

Gw pun mengajak temen2 kos gw balik. Ga ada yang bisa kita lakuin disini. Kita pulang aja.

 

Saat itu malam masih terasa sepi, gw makan siomay gelap-gelap, sambil menatap mata nanar…

 

                                                                                     

                                                                             Wrote by embun bantal

 

Friday, February 8, 2008

hari ga ngapa-ngapain..^^

Hari ini full di Kos…hoho…rasa syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, Allah Maha Besar atas hari indah yang diciptakan Nya.

Untuk merayakan full day in the kost, gw pun menuju indomaret, mulai mengisi amunisi milo, indomilk penggemuk, roti, keripik kentang, yoghurt, yoghurt dan yoghurt, pear, jeruk, kiwi, anggur, apel, hehe yang aneka buah hasil rampokan kulkas kantor tadi malem dan beli ketoprak dipinggir jalan.

Kata temen : “besok kembali kerja kan? Sebegitu banyak kah makanan yang harus dipersiapkan??”

Ini hari kemenangan buat diri sendiri, ya iyalah harus dirayakan…teringat kata-kata supir taksi kemarin, ngapain kerja capek-capek kalau ga beli makanan…bener tuh…kehidupan mah harus disyukuri terus…

Orang bilang tahun baru imlek, banyak hujan banyak rejeki dan untuk menghayati renungan ini pula, gw memilih berada di kos.

Jarang banget bisa berada di kos sendirian. Kl ga kerja, ada aja yang ngajak ketemuan ataupun jadwal ketemu ma keluarga. Hari ini, spesial gw persembahkan kepada diri sendiri.

Saking kangennya ma kos, gw memulai dengan tradisi mengepel lantai 3 kali, cuci baju, nguras kamar mandi, bikin steril peralatan kebersihan, dan mulai masuk dengan kegiatan inti yaitu :

1.    Tidur di karpet sambil makan kripik kentang yang mulai berserakan remah-remahnya

2.       Mijet-mijet tombol TV pake kaki, karena remote TV diatas lemari baju, males ngambil

3.       Nyalain laptop seharian, nungguin ide menulis muncul kembali, tapi ga satupun ide brilian keluar dari otak yang makin tumpul ini

4.       Ambil yoghurt, langsung teguk, buang cupnya pake kaki ke tong sampah, ga nyampe, jadinya Cuma menggelinding di lantai. Memandang tanpa makna kemudian kembali peluk-peluk guling..Hoho

5.       Garuk-garuk rambut sambil mikir enaknya shampoan ga hari ini, kemudian memutuskan sebaiknya ditunda besok hari

6.       Sekelibat terpikir kerjaan besok, tidak..tidak..kembali konsentrasi nonton gosip dari satu channel ke channel lainnya

7.       Karena buahnya nongkrong aja diatas lemari, mulai bagi-bagi ke anak-anak kos lainnya

8.       Ngeliatin langit mendung siap-siap kembali berebah dan ambil selimut…

9.       Nungging-nungging ga jelas, kemudian menempel ke dinding-dinding..dingin..brrr..ini adalah tindakan selingan yang bisa dilakukan untuk mengisi kekosongan waktu

10.   Tergeletak tak berguna sambil nyalain HP dimatiin dinyalain dimatiin lagi.

11.   Tidur-tidur ayam, tidur-tidur kucing, dan akhirnya tidur beneran…

Berada di kos seharian itu mukjijat di tahun baru Imlek..5 hari full kerja, weekend sosialisasi ma temen, keluarga ditambah les dan beres-beres rumah.

Tidak melakukan apa-apa sambil tidak memikirkan apa-apa ternyata sangat menyenangkan. Ga kerasa waktu cepat berlalu..besok akan segera tiba…dan kembali bekerja…

 

Liburan yang menyenangkan