Mungkin karena itulah saya
membutuhkan cinta.
Seperti gelap. Cinta pun
membutakan.
Saya tidak butuh kacamata
matahari demi mendapatkan gelap di kala siang menyala.
Saya tidak perlu menutup
tirai dan pintu serta menyumbat sela-sela terbuka yang membiarkan cahaya
menerobos masuk supaya kegelapan yang saya inginkan sempurna.
Saya hanya perlu mencinta dan dengan seketika
butalah mata saya....
Banyak yang mempertanyakan. Kenapa saya bertemu
hanya kala siang?
Kenapa tidak pagi buta atau
malam?
Karena buta, saya bilang.
Dalam kebutaan saya bisa
mengadakan apapun yang saya inginkan. Tak terkecuali pagi. Tak terkecuali
malam.
Banyak yang tambah mempertanyakan.
Kenapa harus buta?
Kenapa tidak menggunakan
mata asli demi melihat pagi asli atau malam asli.
Karena cinta, saya bilang.
Dalam cinta saya bisa
merasakan segala sesuatunya asli, walaupun di kala pagi dan malam yang tak
asli.
Terus terang, saya tidak pernah dapat memastikan
apakah pertanyan-pertanyaan itu asli.
Kadang saya merasa pertanyaan-pertanyaan itu
tidak datang dari orang-orang,
Melainkan datang dari diri saya sendiri.
Sehingga saya pun tak dapat memastikan apakah
jawaban saya asli.
Karena tidak mungkin sesuatu yang asli lahir dari
yang tak asli.
Namun lagi-lagi perasaan ini
terasa asli.
....
Cerpen Gerhana Mata, Kompas,
20 Mei 2007, Djenar Maesya Ayu
No comments:
Post a Comment