Wednesday, December 17, 2008

Tumpukan Mimpi Berkarat

Menyambut akhir tahun ini, seperti biasa, saya dan Jupri kembali berkontemplasi. Hwahahaha….Jupri, maaf, tiap kali kita ngobrol, saya selalu report laporan di blog ini…mulai seperti sepasang kekasih saja…

But thanks Jup, sembari kita mengobrol tadi malam, di tempat bukan biasanya (at excelso_red) saya malah menemukan kalimat indah buat naskah tulisan saya, kalimat yang saya cari-cari selama ini. Sipirili…

Baiklah kembali pada isu yang kita hadirkan malam kemarin, mimpi-mimpi yang kita ciptakan diantara setumpuk rutinitas.

Mimpi saya dan mimpi Jupri. Mimpi dua perempuan yang selalu dihidupkan oleh bahan bakar kehidupan. Kalimat ini terkesan dramatis sekali. Hmm

Dan sesederhana waktu yang terus berjalan ini, pertanyaan yang muncul, sudahkah berbuat sesuatu untuk mewujudkan mimpi itu? Atau hanya sekedar angan belaka yang membuat hari-hari kita semakin omong kosong.

Perfect, saya lebih terlihat pada pilihan kedua. :D

Baik saya ingin mengupas mimpi saya.

Apakah saya sudah memulai menekuni mimpi saya? Saya memang sudah melalui beberapa step untuk mewujudkan. Saya juga sudah memulai perjalanan pertama namun amunisi saya belum banyak dan saya masih mencari perbekalan. Jadi untuk mimpi ini, saya masih berusaha. Berusaha mewujudkan seperti apa yang saya katakan pada Gugus, satu teman yang selalu mengingatkan saya akan mimpi ini. Dan dia juga ga pernah absen mengingatkan saya setiap minggu.

Sepertinya saya memang sudah melakukan untuk mewujudkan mimpi saya. Tapi saya tidak benar-benar melakukannya. Iya, saya masih setengah2. Mencambuk pikiran untuk tetap fokus, ga semudah apa yang saya bayangkan.

Iya sih….saya memang tidak berhenti melakukan sesuatu untuk mimpi ini, tapi saya tidak mengerjakan dengan benar2, hanya berkutat dengan blog sampah kesayangan, seperti ini. Hehe  

Di satu sisi, dunia nyata yang saya jalani sekarang menjadi ajang pencarian alasan atas ketidakmampuan saya mengejar mimpi.

Saya selalu bersikukuh bahwa pekerjaanlah yang menyebabkan saya tidak mengejar mimpi. Padahal saya tahu, pekerjaan ini salah satu roda yang membantu saya mewujudkan mimpi saya itu. Saya larut dalam dunia yang saya hidupkan ini meski sebenarnya saya sadar, saya kehilangan momentum2 dalam diri sendiri.

Saya mulai mengalami kekeroposan pada bagian-bagian yang ga bisa saya sentuh dalam diri saya sendiri. Ego diri yang mulai mengendor diganti dengan ego persaingan yang cukup melelahkan. Tenaga yang saya butuhkan untuk berada pada persaingan ego ini mengaburkan mimpi saya.

Jadi beginilah mimpi embun bantal : stuck dengan segala pembenaran-pembenaran untuk tidak mewujudkan mimpi.

 

 

Lain saya, lain Jupri. Jupri lebih menyebut mimpi-mimpinya dengan mimpi plural. Satu mimpi ga bisa sejalan dengan mimpi yang lain. Bahasa inteleknya memang mimpi plural Jup…kalau bahasa bapakmu, kamu punya banyak keinginan.

Satu mimpi tentang berada pada kemapanan dan idealnya hidup di ibukota.

Satu mimpi lagi tentang idealisme yang dipuja dan diagung-agungkan. Pertanyaan simple dari mimpi ini, sudahkah kita melakukan sesuatu bagi orang lain?

(Jup..jup tak doain kamu jadi Caleg, biar kamu mapan tapi masih bisa menyuarakan idealismu ini)

Sebenarnya saya lebih menyetujui untuk mengejar mimpi keduanya. Berani memutuskan untuk melepas keinginan-keinginan kemapanan dan mengejar apa yang dia inginkan dalam hidup ini. Tapi hidup memang lebih berpihak pada kemapanan itu lagi.

Jadi kesimpulan mimpi Jupri : stuck jalan ditempat untuk tetap menunggu kedua mimpi berjalan beriringan.

 

Nyampah jup…kita memang terlalu banyak nyampah malam itu.

 

 

Dunia Kopi

Entah kenapa, pembicaraan tentang kopi tampak begitu menyenangkan buat saya. Hmmm beberapa waktu lalu saya juga sempat posting tentang rokok, kopi dan cowok. Tiga hal yang membuat saya tidak melepaskan pandangan mata saya begitu saja. 

Ya lagi-lagi tentang kopi.

Sebut saja, di Amerika Selatan, rasa kopi disana lebih ringan ketimbang Amerika Tengah yang rasanya lebih bright atau punya karakter kopi yang sangat jelas. Di salah satu negara di benua Afrika (hmm ini saya lupa, hehe), rasa kopinya bisa bercampur aroma anggur karena tanah tempat mereka tanam tanaman kopi sering kali ditanami anggur-anggur terbaik. Semoga bagian ini, saya tidak salah.

Tanaman kopi juga harus ditanam di daerah dataran tinggi dengan elevasi tertentu. Agar biji-biji kopi tumbuh lambat namun sempurna matangnya. Dan biasanya, kebun kopi dikelilingi tanaman yang lebih tinggi agar saat terik matahari, tanaman tinggi itu bisa melindungi biji-biji kopi yang manja ini.

Biji kopi yang baik, dipilih dengan sangat selektif. Proses selektif juga bisa berulang kali. Mulai dari pemilihan biji di pohon sampai dengan serangkaian proses basah dan kering sebelum menjadi kopi bubuk halus.

Basah means, kopi difermentasi, kulit ari akan terlepas, biji yang pecah akan terbuang, dan yang ringan akan keluar dengan sendirinya. Ini juga merupakan proses selektif alamiah. Masuk kebagian proses kering yaitu penyortiran dengan pengayakan. Diayak sampai yang ringan tersingkirkan. Ga hanya berhenti disitu, tangan manusia juga ikut memilih biji-biji kopi yang berkualitas. Sampai akhirnya biji-biji terakhir lah yang disajikan buat kita.

Biji-biji kopi pilihan ini akhirnya dipanggang untuk dapat mengeluarkan aroma kemudian dihancurkan.

Pada tahap akhir, kopi pilihan dites dengan sesapan satu sentakan untuk bisa merasakan rasa kopi yang ditinggalkan pada lidah. Rasa yang ditinggalkan dilidah punya efek kering kalau yang biasa disebut acidity. Proses ini yang akan menentukan, kopi mana yang akan dihidangkan langsung dan kopi mana yang dicampur nantinya oleh sang barista atau si peracik kopi, ditambah flavor..seperti rasa tiramisu, hazelnut, cappucino. Hmm…

 

Bicara kopi sambil dengerin musik chillout..jadi ngantuk…

 

 

 

Embunbantal on the coffee bean dan tea leaf spot, Pacific Place, 12 December 2008