Thursday, June 26, 2008

Aku terduduk dalam cengkraman buku fiksiku

Aku terduduk dalam cengkraman buku fiksiku

Dalam bayanganku,

Aku hanya terdiam tanpa sinar matahari pagi hangat yang biasa menerpa rambutku

Kadang dingin merayap tak biasa dalam perjalananku ke rumah ibu

Aku tak tahu bagaimana bersembunyi dari rasa dingin itu

Jangan terlelap, begitu kataku

Saat mataku terpejam

Aku bisa merasakan kebekuan menusuk nusuk tulang punggungku

Iya sekali lagi aku terdiam

Sekelebatan dancing fountain bergoyang tanpa senandung

Iya sekali lagi tanpa warna temaram lampu kota yang menghujani malam itu

Aku sedang tidak menunggu, sadarku

Bukan dia yang terkena batu kryptonite

Aku pikir dia pun sudah berlalu memunggungiku tanpa sempat menjemput penantian

Aku hanya menunggu waktu yang salah saja

Sederhana Irene, kembalilah membaca fiksimu

Dia hanya seorang yang punya kisah hidup datang dan berlalu

Iya seperti kata-kataku padamu

Dengan butir-butir pasir mengotori celana jeansnya

Dengan kisah petualang tanpa titik

Aku tidak sedang dijemput penantian

biarkan bagian selanjutnya hilang

Seorang menulis pesan di langit Jakarta

Agar ketika aku kembali

Aku bisa membaca pesannya

Dia hanya menghapus warna mendung dilangit

Itupun sudah cukup menuliskan kata sederhana untukku

(madiun, 14 Juni 2008. 2x2 kamar embun bantal)

 

Tuesday, June 17, 2008

Tidak sedang menunggu

Aku terduduk dalam cengkraman buku fiksiku
Dalam bayanganku,
Aku hanya terdiam tanpa sinar matahari pagi hangat yang biasa menerpa rambutku
Debu debu memainkan nadanya,
mereka menari diatas sinar yang menyelinap melalui jendela
Kadang dingin merayap tak biasa dalam perjalananku ke rumah ibu
Aku tak tahu bagaimana bersembunyi dari rasa dingin itu
Jangan terlelap, begitu kataku

Saat mataku terpejam
Aku bisa merasakan kebekuan menusuk nusuk tulang punggungku
Iya sekali lagi aku terdiam
Sekelebatan dancing fountain bergoyang tanpa senandung
Iya sekali lagi tanpa warna temaram lampu kota yang menghujani malam itu

Aku sedang tidak menunggu, sadarku
Bukan dia yang terkena batu kryptonite
Aku pikir dia pun sudah berlalu memunggungiku tanpa sempat menjemput penantian
Aku hanya menunggu waktu yang salah saja
Sederhana Irene, kembalilah membaca fiksimu
Dia hanya seorang yang punya kisah hidup datang dan berlalu
Iya seperti kata-kataku padamu

Dengan butir-butir pasir mengotori celana jeansnya
Dengan kisah petualang tanpa titik
Aku tidak sedang dijemput penantian
biarkan bagian selanjutnya hilang

Seorang menulis pesan di langit Jakarta
Agar ketika aku kembali
Aku bisa membaca pesannya
Dia hanya menghapus warna mendung dilangit
Itupun sudah cukup menuliskan kata sederhana untukku

(madiun, 14 Juni 2008. 2x2 kamar embun bantal)

Monday, June 9, 2008

Doa Para Lajang

Thank God, untuk ...
Kemerdekaan menjalani hidup
Keleluasaan mengejar karier
Waktu melimpah untuk hang-out
Masa yang panjang untuk bersenang-senang
Tidur yang nyenyak tanpa dengkuran
Kemewahan untuk menikmati kesendirian
dan banyak lagi yang terlalu panjang untuk kami sebut semua dalam doa kami

Beri kami kesabaran untuk ...
Tidak kurang ajar menghadapi tuntutan orang tua
Selalu tersenyum bila ditanya mengapa keenakan melajang
Tidak tertawa atas curhat tentang urusan rumah tangga

Beri kami kekuatan untuk ...
Tidak melepas masa lajang karena everybody does
Tidak melepas masa lajang karena dianggap menghalangi jalan adik kami
Tidak melepas masa lajang karena terlanjur berbadan dua ...
Tidak melepas masa lajang untuk bayar utang

Dear God,
Biarkan kami menikmati kesendirian kami
Dan merelakannya pergi pada waktunya
Atau bila kau anggap kami terlalu egois bersenang-senang sendiri
Berikan kami teman terbaik untuk berbagi kesenangan

The good one, of course, if You dont mind .....Amin