Wednesday, March 4, 2009

Alice di negeri ajaib. Km?

Once upon a time, there’s one girl with blondie hair wears blue dress. She live just like an ordinary people until she founded the strange rabbit. She tried to follow that bunny, but looks! She’s trap into the wonderland.

Oke STOP!

Berhenti membicarakan Alice in the Wonderland.

Begini, ini adalah pertanyaan embun bantal di masa kecil. Kenapa hanya ada Alice dan si kelinci bawel? Kenapa Alice harus ketemu salamander, pasukan kartu remi yang doyan marah-marah atau rimbunan bunga pesolek? Sekonyong-konyong Alice muncul di tengah pesta minum teh. Dan harus menemukan masalah bertubi-tubi. Tubuhnya tiba-tiba membesar sehingga tidak cukup masuk kedalam pintu. Ditengah masalah yang terus dihadapi, Alice tidak pernah berhenti mengejar kelinci itu.

Jujur saja, waktu kecil, Alice adalah salah satu film yang paling sering ditonton embun bantal. Yap dalam berbagai versi. Versi kartun Disney, versi filmnya, versi buku-bukunya. Masih ingat juga tentang negeri Oz. Yang itu lebih memusingkan lagi.

Ada beribu pertanyaan yang seakan-akan ingin meledak dalam pikiran (cieeaa, kecil-kecil uda stress).

Ada satu pertanyaan yang paling penting. Kenapa Alice tidak menemukan pangeran di negeri Wonderland, yang kemudian membangun istana dan hidup bersama happy ever after.

Alice hanya sibuk mengejar kelinci, seorang diri menjelajah dunia itu.

Lalu kemana si pangeran?

Tidak seperti Putri Aurora yang akhirnya bangun gara-gara dicium pangeran.  Atau Cinderella yang lagi-lagi ditemukan pangeran tak lupa dengan kuda putih… dan jangan lupa, pangeran selalu keluar dari hutan. Sangat sensasional…

Jadi heran dimana-mana selalu ada pangeran yang sama. Jubah, sepatu boot, blondie hair dan kuda putihnya …

Dipikir-pikir pangeran itu playboy juga, dia ada disetiap dongeng…atau dia aktor terkenal yang memang lagi digemari saat aku kecil…hmm… jadi inget sama yayang, brad pitt

Bikin gregetan siapa dalang yang mencekoki anak perempuan tentang pria pirang dan kuda putihnya.

Oke-oke tenang embun bantal…tenang…

 

Memang sih karena merasa tidak sejalan dengan jalan cerita Alice, embunbantal selalu memutuskan untuk tidak membaca sampai selesai.

Sudah keburu dongkol saat Alice terlalu besar untuk masuk ke dalam pintu mungil, keburu dongkol melihat si kucing belang, atau aku lupa sebutan binatang yang tidak jelas itu yang berusaha memengaruhi Alice menentukan jalan, sudah kesal bukan kepalang melihat kelinci yang dikejar-kejar Alice yang ga ada juntrungannya.

Alice in the Wonderland menjadi dongeng yang tidak menarik buat embun bantal. Dongeng yang begitu saja dilupakan. Jadi tidak ingin menyelesaikan halaman terakhir dari bukunya. Jadi tidak ingin menyelesaikan filmnya, karena embun bantal tahu, tidak ada pria yang digemari putri-putri teraniaya itu.

 

Hmmm…

 

Lihat kedalam…

Terlalu banyak dongeng masa kecil yang dipenuhi dengan pangeran naik kuda putih (jaman itu belum ada mercy sih). Tapi suwer, bagian ini selalu yang dinanti-nanti. Dan ketika Alice tidak menemukan si pria pirang, cerita itu tidak lagi menyenangkan.

Sebenarnya Alice sudah memberi signal pada kita. Yap, bahkan sejak kecil.

Well, hey there’s no prince riding white horse. It’s only a jokes!

Alice in the Wonderland is not just any other fairytale. Dia bukan Cinderella, Putri Aurora, Putri Salju yang ‘baik dan teraniaya’. She’s an ordinary. She is just a person with nature characters who has a big curiosity. She tried hard to find that bunny. Then she has to face her problems, with mysterious things surrounds her. Simple kan…

She is not just any woman, but every woman, who just like the fairy tale hero! Yup, like us, with our own fairy tale.

Alice menghidupkan fantasinya. Alice membuat kisah petualangnya. Alice memutuskan mengejar kelinci dan harus menghadapi satu kisah petualang dan lompat ke kisah yang lain. Dia hanya punya satu tujuan, found the bunny.  

I am not remembering the story certainly, but Alice told me everything about dreams. Kejarlah, meski kau tahu ada banyak masalah yang akan terus menghadang. Kau akan melompat dari satu kisah ke kisah yang lain. Tapi kau tahu, kau punya tujuan yang dikejar. Tidak mengapa ketika rambutmu terlihat berantakan, tidak mengapa betapa sulitnya menemukan kunci pintu kecil dan setelah kau sudah berhasil menemukan kunci, badanmu gantian yang tidak bisa masuk ke dalam pintu. Ya terkadang keadaan tidak seperti apa yang kita inginkan.

Tidak mengapa dalam perjalanan, kau tidak menemukan pria pirang. Dan kau malah menemukan orang-orang yang membuatmu terjebak, terjerembab, dan mempengaruhi cara berpikirmu. Dan pada satu waktu, kau akan bertemu orang-orang yang tidak kamu perkirakan.

Tapi satu yang tidak bisa kamu hilangkan begitu saja. Dalam keadaan apapun, jangan lupakan mimpimu, tujuanmu. Karena itu yang akan membuat penghubung satu kisah ke kisah yang lain.

Bermimpilah. Meski pada akhirnya Alice harus bangun dari tidurnya.

 

 

Diatas Vanya, my carpet, sambil ngantuk-ngantuk

04 March 2009

 

 

 

Sunday, January 4, 2009

What do you love from this world?

Kadang kita ga pernah peka dengan apa yang ada disekitar kita. Kadang kita melupakan hal-hal sederhana itu karena kita berusaha mencari hal-hal besar dalam hidup kita. Padahal hal-hal sederhana itu justru yang menemani kita setiap harinya.

Aku mencoba membuat daftar tentang apa yang aku suka di dunia ini.

Here the list…

1.        Bau rumput yang baru saja dipangkas, bercampur dengan aroma tanah di sore hari.

2.        Kuku yang baru saja kupotong pendek setelah mandi. Itu adalah kuku termanis yang aku punya.

3.        Bantal yang baru saja kutiduri dengan wangi shampo yang masih menempel.

4.        Kamar mandi yang dipenuhi majalah. [I loved it spu…]

5.        Jendela tanpa debu. Saat membuka jendela dan tidak ada debu hitam yang menempel di lenganmu. Ini adalah bagian terbaik di pagi hari.

6.        Saat pesawatmu menembus awan. Turbulensi menggoncang dadamu, argh…menyenangkan.

7.        Didalam bis malam dan tak seorang pun mengenalmu. Hanya diterangi bulan dan deru mesin bis.

8.        Syal yang melilit lehermu sepanjang hari.

9.        Aroma kertas saat aku menulis nama di buku yang baru saja aku beli.

10.     Menemukan pare di warung, saat makan siang. Sipirili…

11.     Mengumpulkan butiran-butiran telur kodok kemudian memasukkan kedalam bekas tempat selai srikaya, dan memajangnya diatas jendela kamar.

12.     Memakai sepatu bootmu saat kau masuk kedalam kubangan lumpur.

13.     Dancing in the rainy day. Jangan lupa bawa kapal-kapalan kertasmu.

14.     Berada dalam ayunan tertinggi yang bisa kau capai untuk menyentuh langit sore.

15.     Berada didalam lemari pakaian mama, jangan lupa membawa bantal, selimut dan senter. [Sepertinya tak akan habis-habisnya menceritakan bagian-bagian terbaik masa kecilku]

16.     Sengaja datang untuk tidak membeli buku di sebuah toko buku, hanya untuk membaca satu buku yang kau baca dari minggu ke minggu, dari bab ke bab. Aku punya, judulnya: Sejarah tentang Traktor Ukrania.

17.     Menangis di kolam renang. Kalau kau ingin menangis disinilah tempatnya karena kau tak perlu menyembunyikan air matamu didepan banyak orang.

18.     Pulang ke rumah Madiun. Momen itu selalu membahagiakanku.

19.     Saat kau berdiri di halte dan melihat dari jauh, angka bis mu. perfect…seperti menunggu kedatangan kekasih.

 

List ini akan terus bertambah, seiring dengan perjalanan hidup embun bantal.

 

So would you like to share, what do you love from this world? Try it, its amazing…

 

Mba Dega, thanks for amazing week-nya.

Malam tahun baru : Jangan Sedih Kak…

Kakak Cuma bisa menyebut istighfar ketika kontraksi buatan mulai bereaksi di dalam rahimnya. Dan aku hanya bisa memegangi kakinya. Keringat dingin mulai membasahi pakaiannya. Wajah pucat pasi dan butir-butir keringat bermunculan di keningnya. Memandangnya sedang kesakitan membuatku benar-benar bingung. Aku tidak pernah merasa sesedih ini saat melihatnya.

Saat air matanya berlinang, mama Cuma bilang, “Jangan menangis, mama dulu bisa. Kamu pasti bisa”. Mama baru saja datang tadi pagi, sama berusahanya denganku, menguatkan kakak. 

“Ayo mba, kamu pasti bisa”, kataku. Aku sadar semakin aku menguatkannya, sebenarnya aku menguatkan diriku sendiri.  

“Aku takut, Mik”, bisiknya.

“Jangan takut. Semua pasti berlalu. Hanya hari ini, mba. Kamu pasti bisa lalui ini”, ujarku.

Peralatan sudah dipasang kedalam tubuhnya, semacam pemberat yang membantu pembukaan. Kakak sudah harus benar-benar berusaha sendiri. Sudah tidak ada yang bisa menolongnya selain dirinya. Sang jabang bayi pun tidak bisa membantu ibunya lagi. Tidak ada bantuan dorongan bayi yang ingin keluar. Kakaklah yang harus berjuang mengeluarkannya sendiri dengan kontraksi dan pembukaan buatan. 

Awal ia tahu kehilangan bayinya, ia menangis tersedu-sedu duduk di salah satu bangku ruang tunggu. Tidak ada yang menemaninya saat itu. Suaminya juga belum kunjung tiba. Ia hanya bicara sendiri dengan bayi dalam rahimnya. Aku tahu, mungkin ini pertama kalinya aku melihat ia berusaha menjadi sosok seorang ibu yang baik. Dan saat itu ia berkali-kali mengatakan bahwa dia adalah ibu yang ceroboh.

Aku tidak benar-benar merasa sesedih ini saat memandangnya. Rasa jengkel karena dia yang suka manja hilang begitu saja, tergantikan dengan bagaimana caranya membantu mengatasi rasa sakitnya.

“Aku ingin punya anak”, katanya.

“Iya kau akan punya anak lagi, sehatkan badanmu dulu. Nanti kau pasti punya anak lagi”, kataku padanya.

“Bukan waktunya kamu sedih. Sekarang saatnya kamu selesaikan semua ini dengan cepat.”, sambungku bergetar. 

 

Pergantian tahun ini benar-benar sunyi senyap, rasa sedih dan was was bergelayut. Awalnya aku memutuskan untuk camping dan rafting. Semua tertunda karena kakak kena musibah ini. Di bulan keenam kehamilannya, dia kehilangan janinnya. Banyak prediksi kenapa bayinya tidak bisa bertahan. Karena campak yang pernah diderita kakak, karena tali pusar yang melilit si jabang bayi atau karena kakakku yang terlalu lelah bekerja. Buat aku semua alasan itu tidak penting, yang paling penting adalah bagaimana kakakku bisa mengeluarkan janinnya dengan selamat. Itu saja.

Malam itu aku memutuskan menghabiskan malam tahun baru di Masjid At Tin. Meski was-was, karena tidak menemani kakak di rumah sakit, tapi aku berpikir berada di masjid kemudian berdoa buat keselamatan dia, adalah yang terbaik yang bisa aku lakukan buatnya. 

Selama ini aku memang tidak benar-benar menyayangi kakakku. Tapi malam itu, aku baru sadar, aku menyayangi dia. Aku takut dia kenapa-kenapa dan aku ingin dia melewatkan masa-masa beratnya lebih kuat.

Keesokan malam setelah menemani kakak sepanjang hari, tepat pukul 10 malam, kakak bisa melahirkan janinnya. Alhamdulillah semua berlalu. Tuhan mengabulkan doaku dengan begitu cepat.

Sepertinya, tahun ini kakak akan menjalani waktunya lebih berat. Tapi aku tahu, Tuhan punya cara paling indah untuk kita mengerti kehidupan.

 

PS: Mba Nana, cepat sembuh ya. Love you sist’

 

Embunbantal, at Rumah Sakit Anna, Bekasi, 1 Januari 2009

 

 

Selamat menikah kakakku…Akhirnya Perpisahan itu datang kembali

Ini kali kedua, dia meninggalkan aku lagi. Yang pertama, saat dia memutuskan meninggalkan rumah Madiun pada usia 15 tahun. Masa itu, dia benar-benar meninggalkanku sendiri menjadi anak tunggal jadi-jadian.

Kali ini adalah perpisahan kedua. Tapi aku tidak merasa sedih. Aku tahu, aku akan berpisah dengannya kembali ketika dia menikah. That’s why, sebelumnya, bulan Juli kemarin aku memutuskan pindah ke kosnya. Aku tahu itu adalah kesempatan aku bisa bersamanya.

Bicara tentang kakakku, beda kami tidak lebih dari 1 tahun kurang 2 hari.

Kami menganggap bahwa kami tidak benar-benar disatukan oleh pertalian darah tapi oleh zodiak Libra. Haha, dia memang sangat mengagungkan bintang Libranya. Dan apapun yang kami sepakati bersama karena kita sama-sama Libra.

Libra yang cepat sekali ambil keputusan, Libra yang cepat berubah keputusan. Seperti itu contoh kesamaan kami.

Lebih dari itu semua, buat aku, dia semacam manusia istimewa.

Iya, aku selalu menganggumi kakakku.

Entah kenapa konsep kekaguman ini sudah ada sejak aku lahir. Aku benar-benar meniru apa yang dia lakukan. Menganggap dia sosok yang keren permanen [ada gitu…]

Saat usiaku 2 tahun, ibu bilang, kakakku mengisap ibu jarinya.

Aku bertanya, “enak tidak?”

Dia hanya menjawab singkat, enak. Tanpa memedulikan rasa penasaranku. Dan aku mengisap jari sampai usiaku 10 tahun. Itu awal pertama kali aku mencontohnya.

Dia ikut lomba lukis, aku ikut. Dia menang, aku tidak.

Dia belajar tari bali, aku ikut. Dia pentas, aku tidak. Dia bergabung di sanggar lukisan kemudian berhasil membuat pameran lukisan di Sari Pan Pacific.

Dia ikut teater, aku juga. Dia sibuk pentas untuk kota Madiun, aku hanya di sekolah saja.

Dia juga menyanyi, kalau yang ini, aku ga ikut-ikutan. Bagian ini aku sadar, aku ga bisa menirunya.

Kakakku selalu meyakinkanku bahwa dia adalah seorang multitalenta. Rencananya dia akan menamakan anaknya, Multitalenta. Dia ingin ketika si anak ditanya oleh gurunya tentang namanya, dia akan menjawab karena ibunya seorang multitalenta. Tapi niatnya langsung berubah, ketika aku bilang bahwa anakku nanti akan memanggil anaknya dengan Mba Mul atau Mas Mul.

[Bagian ini aku bilang, stupid.]

Kakakku selalu percaya bahwa dia punya bakat terpendam. Dengan kepercayaan dirinya itu kadang membuatku tertawa. Tapi dari hati kecilku, aku mengaguminya sepenuh hati.

Seperti apa yang dikatakan teman kakakku, Dega, kakakku punya cara sendiri mencintai hidupnya. Bagi Dega, kakakku punya kecantikan itu sendiri. Dia menemukan definisi cantiknya. Meskipun dari sisi akademis, kakakku tidak menonjol, dia bisa menutupi semua itu dengan kelebihan-kelebihan yang lain. 

Ngomongin soal akademis yang tidak menonjol, dia punya alibi yang direkayasa sejak kecil. Waktu kecil kami sering menjadikan lampu dinding sebagai timbangan puskesmas. Dan secara bergantia kami saling menimbang diri. Saat gilirannya, lampu itu jatuh tepat di jidatnya. Legenda ini tetap ia ceritakan pada orang-orang. Beberapa tahun lamanya, aku percaya legenda itu. [bodoh…]

Tanggal 27 Desember 2008 kemarin, dia melangsungkan pernikahan impiannya. Dengan baju yang dia rancang sendiri, dekorasi yang ia inginkan dan lagu-lagu yang ia pilih untuk menjadi latar belakang pernikahannya.

Sederhana. Mimpi yang sederhana dan mewujudkannya dengan cara yang simple. Dia menjadi cantik dengan kehidupan yang dia ciptakan sendiri. Begitulah kakak memaknai hidup.

 

Damn, I missing her so much since she getting married…

Happy wedding day, sist!

 

Jakarta, 27 December 2008

Wednesday, December 17, 2008

Tumpukan Mimpi Berkarat

Menyambut akhir tahun ini, seperti biasa, saya dan Jupri kembali berkontemplasi. Hwahahaha….Jupri, maaf, tiap kali kita ngobrol, saya selalu report laporan di blog ini…mulai seperti sepasang kekasih saja…

But thanks Jup, sembari kita mengobrol tadi malam, di tempat bukan biasanya (at excelso_red) saya malah menemukan kalimat indah buat naskah tulisan saya, kalimat yang saya cari-cari selama ini. Sipirili…

Baiklah kembali pada isu yang kita hadirkan malam kemarin, mimpi-mimpi yang kita ciptakan diantara setumpuk rutinitas.

Mimpi saya dan mimpi Jupri. Mimpi dua perempuan yang selalu dihidupkan oleh bahan bakar kehidupan. Kalimat ini terkesan dramatis sekali. Hmm

Dan sesederhana waktu yang terus berjalan ini, pertanyaan yang muncul, sudahkah berbuat sesuatu untuk mewujudkan mimpi itu? Atau hanya sekedar angan belaka yang membuat hari-hari kita semakin omong kosong.

Perfect, saya lebih terlihat pada pilihan kedua. :D

Baik saya ingin mengupas mimpi saya.

Apakah saya sudah memulai menekuni mimpi saya? Saya memang sudah melalui beberapa step untuk mewujudkan. Saya juga sudah memulai perjalanan pertama namun amunisi saya belum banyak dan saya masih mencari perbekalan. Jadi untuk mimpi ini, saya masih berusaha. Berusaha mewujudkan seperti apa yang saya katakan pada Gugus, satu teman yang selalu mengingatkan saya akan mimpi ini. Dan dia juga ga pernah absen mengingatkan saya setiap minggu.

Sepertinya saya memang sudah melakukan untuk mewujudkan mimpi saya. Tapi saya tidak benar-benar melakukannya. Iya, saya masih setengah2. Mencambuk pikiran untuk tetap fokus, ga semudah apa yang saya bayangkan.

Iya sih….saya memang tidak berhenti melakukan sesuatu untuk mimpi ini, tapi saya tidak mengerjakan dengan benar2, hanya berkutat dengan blog sampah kesayangan, seperti ini. Hehe  

Di satu sisi, dunia nyata yang saya jalani sekarang menjadi ajang pencarian alasan atas ketidakmampuan saya mengejar mimpi.

Saya selalu bersikukuh bahwa pekerjaanlah yang menyebabkan saya tidak mengejar mimpi. Padahal saya tahu, pekerjaan ini salah satu roda yang membantu saya mewujudkan mimpi saya itu. Saya larut dalam dunia yang saya hidupkan ini meski sebenarnya saya sadar, saya kehilangan momentum2 dalam diri sendiri.

Saya mulai mengalami kekeroposan pada bagian-bagian yang ga bisa saya sentuh dalam diri saya sendiri. Ego diri yang mulai mengendor diganti dengan ego persaingan yang cukup melelahkan. Tenaga yang saya butuhkan untuk berada pada persaingan ego ini mengaburkan mimpi saya.

Jadi beginilah mimpi embun bantal : stuck dengan segala pembenaran-pembenaran untuk tidak mewujudkan mimpi.

 

 

Lain saya, lain Jupri. Jupri lebih menyebut mimpi-mimpinya dengan mimpi plural. Satu mimpi ga bisa sejalan dengan mimpi yang lain. Bahasa inteleknya memang mimpi plural Jup…kalau bahasa bapakmu, kamu punya banyak keinginan.

Satu mimpi tentang berada pada kemapanan dan idealnya hidup di ibukota.

Satu mimpi lagi tentang idealisme yang dipuja dan diagung-agungkan. Pertanyaan simple dari mimpi ini, sudahkah kita melakukan sesuatu bagi orang lain?

(Jup..jup tak doain kamu jadi Caleg, biar kamu mapan tapi masih bisa menyuarakan idealismu ini)

Sebenarnya saya lebih menyetujui untuk mengejar mimpi keduanya. Berani memutuskan untuk melepas keinginan-keinginan kemapanan dan mengejar apa yang dia inginkan dalam hidup ini. Tapi hidup memang lebih berpihak pada kemapanan itu lagi.

Jadi kesimpulan mimpi Jupri : stuck jalan ditempat untuk tetap menunggu kedua mimpi berjalan beriringan.

 

Nyampah jup…kita memang terlalu banyak nyampah malam itu.

 

 

Dunia Kopi

Entah kenapa, pembicaraan tentang kopi tampak begitu menyenangkan buat saya. Hmmm beberapa waktu lalu saya juga sempat posting tentang rokok, kopi dan cowok. Tiga hal yang membuat saya tidak melepaskan pandangan mata saya begitu saja. 

Ya lagi-lagi tentang kopi.

Sebut saja, di Amerika Selatan, rasa kopi disana lebih ringan ketimbang Amerika Tengah yang rasanya lebih bright atau punya karakter kopi yang sangat jelas. Di salah satu negara di benua Afrika (hmm ini saya lupa, hehe), rasa kopinya bisa bercampur aroma anggur karena tanah tempat mereka tanam tanaman kopi sering kali ditanami anggur-anggur terbaik. Semoga bagian ini, saya tidak salah.

Tanaman kopi juga harus ditanam di daerah dataran tinggi dengan elevasi tertentu. Agar biji-biji kopi tumbuh lambat namun sempurna matangnya. Dan biasanya, kebun kopi dikelilingi tanaman yang lebih tinggi agar saat terik matahari, tanaman tinggi itu bisa melindungi biji-biji kopi yang manja ini.

Biji kopi yang baik, dipilih dengan sangat selektif. Proses selektif juga bisa berulang kali. Mulai dari pemilihan biji di pohon sampai dengan serangkaian proses basah dan kering sebelum menjadi kopi bubuk halus.

Basah means, kopi difermentasi, kulit ari akan terlepas, biji yang pecah akan terbuang, dan yang ringan akan keluar dengan sendirinya. Ini juga merupakan proses selektif alamiah. Masuk kebagian proses kering yaitu penyortiran dengan pengayakan. Diayak sampai yang ringan tersingkirkan. Ga hanya berhenti disitu, tangan manusia juga ikut memilih biji-biji kopi yang berkualitas. Sampai akhirnya biji-biji terakhir lah yang disajikan buat kita.

Biji-biji kopi pilihan ini akhirnya dipanggang untuk dapat mengeluarkan aroma kemudian dihancurkan.

Pada tahap akhir, kopi pilihan dites dengan sesapan satu sentakan untuk bisa merasakan rasa kopi yang ditinggalkan pada lidah. Rasa yang ditinggalkan dilidah punya efek kering kalau yang biasa disebut acidity. Proses ini yang akan menentukan, kopi mana yang akan dihidangkan langsung dan kopi mana yang dicampur nantinya oleh sang barista atau si peracik kopi, ditambah flavor..seperti rasa tiramisu, hazelnut, cappucino. Hmm…

 

Bicara kopi sambil dengerin musik chillout..jadi ngantuk…

 

 

 

Embunbantal on the coffee bean dan tea leaf spot, Pacific Place, 12 December 2008

Friday, November 21, 2008

Pembicaraan pintar ala keluarga embun bantal

Sebenarnya waktu nungguin calon mempelai kakak sampai di Slipi, embun bantal dan yana, sepupunya, cari-cari bahan obrolan. Dan akhirnya nemu beberapa kosa kata yang cukup berkualitas.

Acara lamaran itu terjadi di rumah keluarga Lombok, tapi kubu nyokap dari Madiun juga turut hadir. Diantara personel tersebut: Ada eyang tersayang, my beloved mama, tante gw beserta anak bungsunya, Yana.

Kembali ke topik awal, ini beberapa kosa kata yang kita kumpulin selama 3 jam.

Bote’ : bahasa Lombok artinya monyet. Karena ga tua ga muda, pada manggil Bote, sebutan ini justru sebutan sayang, buat adik, kakak, anak, keponakan.

‘ga lulus jadi perempuan’ : istilah ini sering diucapkan tante gw. Bahwa seorang perempuan harus lulus keahlian di dapur. Baik itu mengolah makanan, menyimpan dan mencuci piring, menggunakan alat perkakas dengan cekatan, mengangkat galon dan tentu saja, semua dilakukan sembari menonton infotainment. Bagian menonton infotainment ini yang lebih saya dalami.

Food Management : istilah yang ditujukan untuk mengatur lauk pauk didalam piring. Kalau penempatan tidak tepat akan mengubah rasa sebenarnya. Food management akan terjadi pula apabila combining terjadi secara tidak tepat, seperti mencampur rawon ala madiun dan ayam taliwang ala Lombok. Dua rasa yang sama-sama enaknya akan menghancurkan semua rasa. Karena itu perlu sistem yang tepat dari awal mengatur komposisi makanan diatas piring dan timing yang cukup untuk mengosongkan perut kemudian mengisi kembali.

Fruit management : biasanya orang awam menyebutnya mix fruit. Atau bahasa populernya: Es Buah. Yaitu kegiatan mengatur dan membuat komposisi tepat dan seimbang antara buah segar, nata de coco, buah kaleng, sirup kental, dan air dingin. Kata kunci yang tepat dari keseluruhan sistem ini adalah balancing.

Public Display Affection (PDA) : Kegiatan ini dilarang keras dilakukan didepan keluarga besar. Yaitu menunjukkan hubungan romantisme yang mengarah pada kegiatan ‘dunia milik berdua, yang lain ngontrak’ terutama bagi anak dan sang pacarnya. Kegiatan ini dianggap tidak bermanfaat bagi seluruh keluarga. Karena keluarga masih tinggal di rumah yang sama dan belum memutuskan mengontrak.

Public Rejection : Biasa dilakukan anak besar terhadap anak yang lebih kecil (keponakan, anak, sepupu) yang masih dibawah 5 tahun. Anak seumuran ini biasa mengalami public rejection ditengah keluarga ketika menumpahkan air, memukul jidat kakaknya dengan sisir atau pegangan pintu tanpa alasan, mencibir kemudian membuang makanan di lantai, berteriak kencang saat ada tamu, dan berusaha melompat dari lantai 2 ke lantai 1.

Wedding composer/wedding arranger : Karena belakangan keluarga lagi tren menikah, kami membutuhkan orang-orang yang ahli dibidang ini. Akibat biaya terbatas untuk menyewa Wedding Organizer, maka sebutan keluarga yang ahli menata pernikahan ini kami sebut wedding arranger.

Local Genius Trans Relationship : sebutan ini muncul, karena seringnya kami memiliki sahabat perempuan. Alhasil kegiatan ini hampir disebut kegiatan homo. Ngomong-ngomong homo, maka tercetus bahwa hubungan sesama jenis adalah hubungan yang sangat jenius. Karena butuh usaha keras, untuk bersama jenis kelamin yang sama. Kata kunci adalah Challanging.



see...begitu banyak istilah2 baru dalam keluarga yang menunjukkan intelektualitas tingkat tinggi...huaaammmm



hehe...