Ini kali kedua, dia meninggalkan aku lagi. Yang pertama, saat dia memutuskan meninggalkan rumah Madiun pada usia 15 tahun. Masa itu, dia benar-benar meninggalkanku sendiri menjadi anak tunggal jadi-jadian.
Kali ini adalah perpisahan kedua. Tapi aku tidak merasa sedih. Aku tahu, aku akan berpisah dengannya kembali ketika dia menikah. That’s why, sebelumnya, bulan Juli kemarin aku memutuskan pindah ke kosnya. Aku tahu itu adalah kesempatan aku bisa bersamanya.
Bicara tentang kakakku, beda kami tidak lebih dari 1 tahun kurang 2 hari.
Kami menganggap bahwa kami tidak benar-benar disatukan oleh pertalian darah tapi oleh zodiak Libra. Haha, dia memang sangat mengagungkan bintang Libranya. Dan apapun yang kami sepakati bersama karena kita sama-sama Libra.
Libra yang cepat sekali ambil keputusan, Libra yang cepat berubah keputusan. Seperti itu contoh kesamaan kami.
Lebih dari itu semua, buat aku, dia semacam manusia istimewa.
Iya, aku selalu menganggumi kakakku.
Entah kenapa konsep kekaguman ini sudah ada sejak aku lahir. Aku benar-benar meniru apa yang dia lakukan. Menganggap dia sosok yang keren permanen [ada gitu…]
Saat usiaku 2 tahun, ibu bilang, kakakku mengisap ibu jarinya.
Aku bertanya, “enak tidak?”
Dia hanya menjawab singkat, enak. Tanpa memedulikan rasa penasaranku. Dan aku mengisap jari sampai usiaku 10 tahun. Itu awal pertama kali aku mencontohnya.
Dia ikut lomba lukis, aku ikut. Dia menang, aku tidak.
Dia belajar tari bali, aku ikut. Dia pentas, aku tidak. Dia bergabung di sanggar lukisan kemudian berhasil membuat pameran lukisan di Sari Pan Pacific.
Dia ikut teater, aku juga. Dia sibuk pentas untuk kota Madiun, aku hanya di sekolah saja.
Dia juga menyanyi, kalau yang ini, aku ga ikut-ikutan. Bagian ini aku sadar, aku ga bisa menirunya.
Kakakku selalu meyakinkanku bahwa dia adalah seorang multitalenta. Rencananya dia akan menamakan anaknya, Multitalenta. Dia ingin ketika si anak ditanya oleh gurunya tentang namanya, dia akan menjawab karena ibunya seorang multitalenta. Tapi niatnya langsung berubah, ketika aku bilang bahwa anakku nanti akan memanggil anaknya dengan Mba Mul atau Mas Mul.
[Bagian ini aku bilang, stupid.]
Kakakku selalu percaya bahwa dia punya bakat terpendam. Dengan kepercayaan dirinya itu kadang membuatku tertawa. Tapi dari hati kecilku, aku mengaguminya sepenuh hati.
Seperti apa yang dikatakan teman kakakku, Dega, kakakku punya cara sendiri mencintai hidupnya. Bagi Dega, kakakku punya kecantikan itu sendiri. Dia menemukan definisi cantiknya. Meskipun dari sisi akademis, kakakku tidak menonjol, dia bisa menutupi semua itu dengan kelebihan-kelebihan yang lain.
Ngomongin soal akademis yang tidak menonjol, dia punya alibi yang direkayasa sejak kecil. Waktu kecil kami sering menjadikan lampu dinding sebagai timbangan puskesmas. Dan secara bergantia kami saling menimbang diri. Saat gilirannya, lampu itu jatuh tepat di jidatnya. Legenda ini tetap ia ceritakan pada orang-orang. Beberapa tahun lamanya, aku percaya legenda itu. [bodoh…]
Tanggal 27 Desember 2008 kemarin, dia melangsungkan pernikahan impiannya. Dengan baju yang dia rancang sendiri, dekorasi yang ia inginkan dan lagu-lagu yang ia pilih untuk menjadi latar belakang pernikahannya.
Sederhana. Mimpi yang sederhana dan mewujudkannya dengan cara yang simple. Dia menjadi cantik dengan kehidupan yang dia ciptakan sendiri. Begitulah kakak memaknai hidup.
Damn, I missing her so much since she getting married…
Happy wedding day, sist!
Jakarta, 27 December 2008
...dan tentunya nyanyian yang ia persembahkan sendiri untuk si suami yang tersapu2 namun terlihat terbiasa dengan kelakuan ajaib kakakmu..
ReplyDeleteiya dia sibuk dengan debut nyanyinya, sementara para tamu menunggu bersalaman denganya....
ReplyDelete*bah acara apa inihh...
aku juga mau nyanyi kalo nikah nanti. ga terwujud sih waktu nikahan si mpet. hahahaha
ReplyDeletesok malu2 kucingan sihhh
ReplyDeletehah?
ReplyDeletemana mungkin?
kalo aku ga bolak balik ngurusin orang2 yang mau fofotoan sih udah nyanyi kali. hyahahha