Entah kenapa, pembicaraan tentang kopi tampak begitu menyenangkan buat saya. Hmmm beberapa waktu lalu saya juga sempat posting tentang rokok, kopi dan cowok. Tiga hal yang membuat saya tidak melepaskan pandangan mata saya begitu saja.
Ya lagi-lagi tentang kopi.
Sebut saja, di Amerika Selatan, rasa kopi disana lebih ringan ketimbang Amerika Tengah yang rasanya lebih bright atau punya karakter kopi yang sangat jelas. Di salah satu negara di benua Afrika (hmm ini saya lupa, hehe), rasa kopinya bisa bercampur aroma anggur karena tanah tempat mereka tanam tanaman kopi sering kali ditanami anggur-anggur terbaik. Semoga bagian ini, saya tidak salah.
Tanaman kopi juga harus ditanam di daerah dataran tinggi dengan elevasi tertentu. Agar biji-biji kopi tumbuh lambat namun sempurna matangnya. Dan biasanya, kebun kopi dikelilingi tanaman yang lebih tinggi agar saat terik matahari, tanaman tinggi itu bisa melindungi biji-biji kopi yang manja ini.
Biji kopi yang baik, dipilih dengan sangat selektif. Proses selektif juga bisa berulang kali. Mulai dari pemilihan biji di pohon sampai dengan serangkaian proses basah dan kering sebelum menjadi kopi bubuk halus.
Basah means, kopi difermentasi, kulit ari akan terlepas, biji yang pecah akan terbuang, dan yang ringan akan keluar dengan sendirinya. Ini juga merupakan proses selektif alamiah. Masuk kebagian proses kering yaitu penyortiran dengan pengayakan. Diayak sampai yang ringan tersingkirkan. Ga hanya berhenti disitu, tangan manusia juga ikut memilih biji-biji kopi yang berkualitas. Sampai akhirnya biji-biji terakhir lah yang disajikan buat kita.
Biji-biji kopi pilihan ini akhirnya dipanggang untuk dapat mengeluarkan aroma kemudian dihancurkan.
Pada tahap akhir, kopi pilihan dites dengan sesapan satu sentakan untuk bisa merasakan rasa kopi yang ditinggalkan pada lidah. Rasa yang ditinggalkan dilidah punya efek kering kalau yang biasa disebut acidity. Proses ini yang akan menentukan, kopi mana yang akan dihidangkan langsung dan kopi mana yang dicampur nantinya oleh sang barista atau si peracik kopi, ditambah flavor..seperti rasa tiramisu, hazelnut, cappucino. Hmm…
Bicara kopi sambil dengerin musik chillout..jadi ngantuk…
Embunbantal on the coffee bean dan tea leaf spot, Pacific Place, 12 December 2008
wah cedak kantorku
ReplyDeletehaha, aku pikir, comment tulisannya, hehe...iya pas lagi duduk2 dengerin dongeng kopi, kantor dimana mas?
ReplyDeleteBEJ Tower 1, ntar kalau nongkrong disana kabarin aja, bisa online bareng :P
ReplyDeleteokeh....sip...:)
ReplyDeleteeuh, rokok?
ReplyDeleteJauh sebelum Kiva Han (kedai kopi pertama di dunia) didirikan pada tahun 1475 di Constantinopel, orang sudah mengetahui bagaimana kopi mampu membius sebagian besar masyarakat dunia dengan aroma dan rasanya yang khas.
ReplyDeleteMenurut catatan sejarah buah kopi ditemukan oleh seorang gembala kambing dari suku Galla di Afrika Timur pada tahun 1000 sebelum masehi. Waktu itu ia melihat hewan ternaknya tadi memakan buah kecil-kecil di semak-semak. Dari hari ke hari kambing-kambingnya tumbuh makin sehat dan segar, karena itulah ia turut memakan buah yang kemudian dikenal dengan nama kopi dan mulai merasakan tubuhnya merasa segar dan tidak mudah lelah.
Sekali2 main ke Kopi Aroma di Jl. Banceuy, Bandung.
Ditunggu ulasan berikut soal rokok ...
mana mungkin dia ngulas soal rokok. sekali ngisep rokok aja udah langsung batuk2. payah!
ReplyDeleteyang ada mah dia nulis kebiasaan cowok dan rokok. hihihi...
@happyloner: Gimana kalau kita ajarin cara merokok yang baik dan benar. Biar trilogi Kopi, Rokok, dan Cowo-nya tuntas. :)
ReplyDeletemengulas bukan berarti harus merokok...dasar konservatif...
ReplyDeleteterjadi konspirasi...hmm tidak baik...tapi ide trilogi kopi menarik...
ReplyDeletebtw anton, nice story buat kopinya...ada cerita menarik lagi ga?
Gw suka bingung kalau ditanya gini. Untuk sementara gw jawab ngga ada dulu ya ...
ReplyDelete@magritespipe : hhmmm...boleh juga ide nya. biar ntar kalu nungkrung bareng lagi, dia ndak sok-sok an mengusir asap rokokku...
ReplyDelete