Monday, June 22, 2009

Cerita Pendek di Sebuah Halte


Halte itu.

Iya halte dari ratusan halte yang ada di pelosok ibukota ini. Halte yang aku datangi setiap pagi. Halte dengan tiang tua berwarna hijau. Puluhan orang silih berganti menyandar di tiang hijaunya.

Dan aku salah satunya.

Selalu.

Sambil menunggu bis Mayasari yang akan membawaku ke pusat kota. Berdiri bersama para pekerja kantoran lainnya, buruh, pelajar dan asongan. Siap berlari bersama mengejar bis angka 46.

46 seperti angka keberuntunganku di pagi hari. Setiap angka itu muncul dari ujung jalan raya Bogor, ada kelegaan luar biasa. Bis ini layaknya jodoh yang aku tunggu di setiap pagi.

Jodoh. Hihi…jadi geli mendengarnya, gumamku sendiri.

Angka 46 akan muncul di pukul tujuh lebih sepuluh. Dan aku datang sebelum jarum jam menunjuk angka penting lainnya, 7 lebih 10. 

Seperti biasa, aku menemui orang-orang yang sama dengan yang aku temui kemarin. Aku juga mendengar klakson-klakson dari kendaraan yang sama dengan yang aku temui kemarin.

Kata orang, selamat datang di rutinitas hidup kota besar. Berangkat pagi, pulang malam. Ritmenya selalu sama setiap detiknya. Seperti marmut yang sedang berlari dalam roda permainan. Barangkali bumi ini sudah menjadi roda permainan, dan kita para marmut suka ga sadar kalau sedang berlari. Makin dikejar, tetap saja ga ada ujungnya. Kecuali mau berhenti untuk mengerat wortel sejenak. Tapi balik-balik lagi, berlari di roda tanpa ujung itu. Whatalife!

Berdiri di salah satu tiang halte ini adalah salah satu peranku di roda permainan. Seperti yang aku bilang tadi, menunggu angka 46. Terlalu banyak bis yang datang dan pergi dari halte ini. Kadang si bis bisa ngetem lama disini. Tapi bisa persekian detik memberi waktu untuk calon penumpangnya naik. Apalagi kalau sudah ada polisi-polisi yang lagi iseng mampir ke jalan raya ini. Bisa-bisa semua penumpang berubah jadi pelari sprint. Hihi..

Diantara bis itu, hanya ada satu bis menuju Cengkareng.

Iya, aku selalu mengamati bis ini. Bis berwarna putih. Bis yang selalu berjalan lebih lambat dari bis besar lainnya. Beberapa pekerja naik ke bis ini. Aku selalu ingat siapa-siapa saja orang di halteku yang masuk ke dalam bis itu, dan ya aku akan melihat mereka satu persatu memilih bangku yang sama setiap harinya.

Di bagian belakang…tiga bangku dari belakang, seorang pria menunduk seperti sedang asyik membaca. Iya aku melihatnya setiap kali bis ini melewatiku. Dengan rambut yang rapi. Dengan tatapan mata yang tidak berhenti menyelusuri paragraf dalam buku. Ada 10 detik kejadian ini sebelum bis itu benar-benar menghilang ke ujung jalan lainnya. Ia menambah satu paragraf dari kisah bis putih.

Pagi berikutnya, aku berdiri di tiang yang sama. Bis Cengkareng itu kembali melaluiku. Dan pria itu masih berada pada bangku yang sama. Aku memandangnya sekali lagi, tanpa makna yang berarti.

10

9

8

7

6

5

Pria itu menengadahkan kepalanya dan memalingkan wajahnya ke arah luar jendela. Matanya menangkap basah aku yang sedari tadi memandangnya.

 Sial…cepat menunduk! perintahku sendiri.

Bis itu pun kembali beranjak pergi seperti biasanya. Aku tahu, dia masih melihatku sampai dengan detik itu berakhir.

Pagi berikutnya, aku kembali menunggu bis yang akan membawaku bekerja. Seperti biasa pukul 7 lebih 10. Bis Cengkareng itu kembali datang. Ia masih duduk dibangku yang sama. Kali ini ia tidak membaca, ia mengganti kebiasaannya itu dengan melihatku pagi itu. Ia menatapku. Menatapku dengan senyuman. Aku menunduk kembali, tak percaya. Aku membiarkan senyuman itu lepas begitu saja, sama seperti bis itu berlalu begitu saja. 

Dan hari itu pun berlalu.

 

Pagi kembali menemuiku lagi. Kembali lagi di halte pukul 7 lebih 10. Bis putih itu bukan lagi titik perhatianku, tapi pria yang ada di bangku belakang. Iya, bis itu datang kembali, tentu dengan pria itu. Ia kembali memandang dan kali ini aku memberanikan diri membalas senyumannya. Aku tersenyum. Ia kembali tersenyum dan tidak berhenti menatapku, meski bis itu mulai menjauh. 

Dan hari ini seperti biasanya, berakhir.

 

Pagi sudah menjemput kembali. Aku terlambat menemui matahari kali ini. Aku bergegas berjalan cepat menuju halte itu. Aku tidak bisa mencapai halte 7 lebih 10. Bis itu sudah hampir melewati halteku saat aku masih berada di jembatan penyebrangan. Aku berlari kecil. Pria itu menghujani tatapan ke sekeliling halte. Aku tahu, ia tidak menemukanku. Dan saat bis itu berlalu dan melalui jembatan yang sedang kuseberangi, ia berhasil menangkapku. Kali ini kami tertawa.

Bis itu pun kembali berlalu dan kehidupan berlalu seperti biasa.

Malam sebelum pagi dimulai, aku berpikir. Aku tidak ingin melewati pagi ini dengan hanya senyuman saja. Kami sudah bisa tersenyum. Kami sudah bisa tertawa. Adakah cara lain agar kami bisa berbicara, tanyaku dalam hati.

Tapi bagaimana caranya?

Aku mengambil kertas putih, kemudian mencoret namaku disana.

DARA

Kupandangi kertas itu kemudian mencoba memperagakan mengangkat kertas itu. Paling tidak ia tahu siapa namaku. Sambil tersenyum tipis. Aku simpan kertasnya dalam tas. Dan aku pun tertidur dengan senyuman.

 

Pagi itu, aku datang lebih pagi. Dan siap dengan kertas putih yang tadi malam kutulis namaku. Saat bis itu melewatiku, aku terdiam. Tanganku mengeluarkan kertas bertulis namaku. Tapi aku tidak mengangkat sekalipun. Aku hanya melihatnya lamat-lamat kemudian tersenyum ketika ia melambaikan tangannya. Aku membalas lambaian tangannya, pria dibelakangnya ikut tersenyum kaget menatapku dan membalas lambaian tanganku. Kami berdua tertawa.

Dan sekali lagi, aku membiarkan ia pergi melewati pagiku.

Ia pergi lagi

Tapi aku tersenyum. Dalam hatiku bicara biarkan dia menjadi pemanis di pagi hari.

Haripun berlalu..

 

Hingga pagi kembali datang lagi. Pagi yang biasa. Dan aku siap dengan jemputan bis angka 46 ku. Aku kembali berdiri di tiang hijau itu. Sejenak terpikir olehku, bis Cengkareng sebentar lagi akan datang, gumamku.

 

Nah itu datang, legaku.

 

Sambil berusaha menelanjangi  isi bis, tapi aku tidak menemukan pria itu dibelakang bangku.

 

Ia tidak ada. Bagaimana bisa…

 

Pagi yang tak biasa, pikirku. Hmm, terbesit rasa kecewa.  Aku tidak berhasil menemuinya pagi ini. Mungkin ia sakit, mungkin ia berangkat dengan bis yang lain, mungkin sudah berangkat di waktu yang lain, atau jam kantornya berubah.

Yah, ada satu hari yang berbeda dari hari-hari yang lain. Begitukan hidup. Tidak selamanya seperti roda permainan punya si marmut, pikirku kembali.

Sambil berusaha tenang dan memikirkan jodoh 46 ku kembali.

 

Aku kembali berkonsentrasi pada bis lain.

 

Sampai seseorang memanggilku dari belakang.

 

“Hai apakabar?”

 

Aku membalikkan badanku yang sudah terlalu nyaman menyandar di tiang hijau itu.

Aku terhenyak…

Pria itu ada didepanku sekarang.

 

 

-embunbantal, at my purple bed, 21 June 2009-

Sunday, June 7, 2009

Menatap Langit Indigo (naskah ke 2)

Yogyakarta, Maret 1987


“Kenapa awan selalu berubah-ubah setiap harinya, Indigo?”
“Berapa jumlah awan dilangit?”,
“Dan kenapa mereka harus ada?”
“Bagaimana mungkin Tuhan menciptakannya hanya untuk menjadikan mereka terus berlari diatas sana”, tanyaku.

“Dan apakah Tuhan menciptakan diriku hanya untuk menjadi sebuah meja tak berkaki”, selorohku sambil memainkan batang rumput di mulut.
Aku teringat kembali ketika si Mbah marah besar padaku setiap kali aku melakukan kesalahan yang menurutnya fatal.

Pada saat aku terbangun di saat matahari sudah bersinar terik.
Pada saat aku lupa menuangkan teh pada cangkir-cangkir tanah liat di pagi hari sebelum mereka, para sanak saudara seusiaku berangkat sekolah.

Kalau si Mbah marah, seperti biasa dia akan mengata-ngatai aku meja tak berkaki.
“meja tak berkaki…”, mengulang panggilanku, seakan tak memahami maknanya.

Meja cacat, tanpa kaki sehingga hanya seperti seonggok papan kayu yang tak bisa disandingkan dengan kursi.
“Mbah memaksaku bersikap menjadi meja tak berkaki, dia bilang aku hanya bisa menjadi pijakan kaki-kaki kerdil yang tak sanggup mengambil ceret diatas rak dapur yang terpasang jauh diatas kepala-kepala mereka.”

“Ketika kaki-kaki kerdil itu belum bangun dari tidurnya, aku sudah terbangun untuk menjadi meja tak berkaki,”

“Kaki-kaki kerdil yang malang, bahkan mereka sama sekali tidak berguna bagi diri mereka sendiri.” Pikirku setiap kali aku mengingat panggilan Mbah kepadaku.

“Mbah juga mengatakan padaku bahwa aku tak layak menjadi manusia, Indigo! Karena itu dia perlu memukul punggungku dengan tongkat kayu yang selalu dibawanya kemana-mana.”

Tongkat yang biasa ia bawa untuk menyangga badannya yang mulai rapuh.
Tongkat itu juga yang mencambuk punggungku. Si Mbah bilang agar aku mengerti tentang kehidupan ini. Agar aku tidak menjadi nakal seperti kupu-kupu liar. Kupu-kupu yang hanya hidup semalam dan tidak punya tujuan hidup.

Tapi bagaimana mungkin tongkat itu dapat menciptakan diriku dalam bentuk yang sempurna? Tuhan telah menciptakan ku dengan penuh keajaibannya. Bahkan hanya perih yang kurasa, setiap kali Mbah mulai memainkan tongkatnya ke kulit ariku yang kian menipis dan menghitam legam.

Aku harus menurut, aku tahu ini semua agar aku tidak memalukannya…
Kau tahu kenapa semua ini terjadi padaku?? Tanyaku kepada Indigo.

Katanya karena kau indigo!! Ya ini semua karena kamu ada dalam diriku! Warna indigo yang mengalir dalam darahku, awalnya warna ku berwarna biru langit yang mengangkasa…tapi semua ini karena kamu Indigo!! Kau merusak warnaku menjadi warnamu, dan Mbah bilang ini tidak baik, ini tidak baik untuknya, untuk keluarga ini. Kau tidak baik untukku dan terutama untuk keluarga ningrat ini
Oh Indigo, bisakah kau pergi dari diriku…

Aku ingin kau pergi…

Jadi aku tak perlu lagi menjadi meja tak berkaki seperti ini terus menerus sepanjang hari-hariku.

Hari sudah mulai terik, hari ini seluruh keluarga pergi menjenguk Pakdhe Rembang yang sedang sakit karena tua. Ya semua keluarga, seluruh keluarga yang bukan aku.

Kuangkat kepalaku dari rebahku di rerumputan, Aku mulai membersihkan rambutku dari helaian rumput. Kali ini aku beruntung. Lega rasanya tanpa Mbah ada dirumah.
Mbah adalah orang tua yang sepenuhnya berkuasa dirumah ini, bahkan orangtua ku saja tidak berwenang mengatur hidupku.

Ibuku bukanlah keturunan ningrat, ibuku hanya bangsa melarat yang mengais – ngais beras yang berjatuhan di sepanjang jalan saat orang-orang pergi memanen beras mereka.

Sedangkan ayahku jatuh cinta pada keprihatinan. Mereka dipertemukan atas persetujuan Yang Maha Besar. Begitu kata ayah, saat menceritakan kisah cinta mereka yang romantis.

Hah, aku pikir beginilah akhir cinta yang tragis. Dua orang dipertemukan dari dua kehidupan yang berbeda. Dan aku ikut andil menyelami bagian cinta yang tragis ini.

Emak tidak bisa berkata apa-apa setelah dimasukkan kedalam dapur dan tidur di gudang kayu bakar. Dan ayah yang tidak berguna, nurut sama si Mbah. Ayah tidak berguna saat emak yang berbadan dua, dan sialnya aku berada didalam diri emak.

Ayah tidak berguna, ketika emak menjerit kesakitan dengan jaritnya yang membasah bercampur keringat dan darah. Melahirkan sendiri di dalam gudang kayu bakar itu.
Kalau saja emak tahu hidupnya akan seperti ini, hidup dalam cinta nya yang menggebu kemudian ditinggalkan begitu saja dalam gudang yang mendingin setiap malam.

Aku hanya dibalut kain belacu. Sentuhan hangat emak yang yang menguatkanku. Sayang emak tidak bisa bertahan hidup di gudang itu. Emak meninggal disisiku. Aku tergeletak di sebelah emak yang mulai mendingin. Sedingin gudang itu.

Meja tak berkaki yang mungil telah lahir pada malam Kamis Pahing. Tanpa ada tanda berarti saat malam kelahiranku.

Si Mbah lah yang membawaku kedalam rumah. Mbah selalu bilang, dialah yang menyelamatkanku dari keprihatinan.

Aku berjasa besar kepada Mbah, karena aku masih bisa bernafas sampai saat ini. Sudah 15 tahun lamanya. Aku beruntung masih dihidupkan oleh si Mbah. Diantara tembok-tembok tinggi. Dimana seluruh keluarga ini berkumpul. Tapi tak satupun seorang diantaranya mengakuiku sebagai bagian dari keluarga mereka.
Terlalu memalukan untuk sebuah pengakuan.

Ayahku pun hanya diam-diam menatapku, kemudian memalingkan mukanya. Persis setelah ia memalingkan wajahnya. Tak berapa lama, wajahnya memerah.

Aku mengingatkan kepada masa lalunya yang berwarna merah. Penuh cintakah? Tanyaku yang masih belum terjawab sampai detik ini.

Aku hanya percaya disinilah aku bisa hidup. Dibawah tongkat mbah. Dan tetap menjadi meja tak berkaki. Dan kau Indigo ? Kau menurut saja kini padaku. Kalau aku berteriak kesakitan, kau menurut saja. Karena ini semua salahmu.


Embunbantal, Permata Hijau, 30 November 2008 – untuk naskah yang belum terselesaikan, Menatap Langit Indigo.


Menatap Langit , Indigo (1)

Prolog

Kenapa indigo berjalan pada warna tubuhku?
Sebuah warna yang tak tergaungi oleh awam
Warna kelabu kebiruan yang memikat
Itu kesan pertama saat aku memikirkannya, 
Ketika pertama kali aku mengenalnya 
Indigo menyentuh terapiku,
Di atas ari, di antara liang pendengaranku, 
Di selubung retinaku, 
Di batas liang dalam setiap pori-pori dalam tubuhku
Ia bermain-bermain diantaranya, tertawa melihatku bermain diantara permainan lagu yang Indigo lirihkan pada tulang rusukku.
Indigo ada dimana-mana…
Indigo ada didalam diriku
Di setiap aliran pembuluh tapisku
Dan menjadi warna kelabuku…


by embunbantal

Definisi seorang embunbantal

Definisi diriku adalah pekerjaan yang kulakukan, orang-orang yang menjadi temanku, dan pengaruh yang kurasakan dalam duniaku yang kecil tapi makin membahagiakan ini. For matrimonial purpose –Kavita Daswani

Terkadang saya memang melupakan definisi diri saya.

Terkadang...

Karena terbawa oleh arus...

Karena menganggap sesuatu yang awalnya tidak lazim bagi saya, tapi saya maklumi dan saya jalani saja sebagai bagian dari hidup, padahal saya tahu itu tidak benar...

Atau karena menumpuk semua informasi di kepala, mengabaikan masalah dalam diri saya yang saya tahu harus segera diselesaikan ...

Yang paling parah, saya melupakan kepentingan sendiri.

Saya tahu, saat ini saya terlalu fokus dengan dunia kerja hingga lupa kenapa saya ada disini sekarang.

Duduk dan berada didepan Neo_laptop saya seperti saat ini. Ini yang saya lakukan untuk bisa bicara kembali dengan diri saya.

Oke blog ini akan terus berbicara tentang diri saya. Haha…yaiyalah…saya subyek dari blog ini :D Seperti kata Anton, embun bantal akan bicara terus tentang apa saja bahkan yang tidak penting sekalipun. Hehe…

Beberapa waktu lalu, saya sempat berdiskusi dengan teman lain selain Jupri (tumben2nya bukan sm dia). Kebanyakan dari mereka seperti mencoba mengingatkan saya lagi tentang definisi diri saya.

Pernyataan Anton yang paling saya ingat adalah bukan bagaimana seseorang itu saat ini, tapi bagaimana seseorang itu punya mimpi dan dia berusaha mencapai impiannya. Hidup adalah mewujudkan mimpi itu sendiri. Saya akan mengingatnya Nton…thanks buat hot chocolate-nya at Batavia CafĂ©.

Beberapa waktu lalu, tetangga kamar saya juga mengingatkan saya kembali. Satu yang saya ingat dari percakapan itu, “Yasmin, apakah kamu masih menjaga definisi diri kamu?”

Bagaimana saya bisa menjaga definisi diri saya, kalau saya sendiri tidak tahu siapa diri saya, apa yang saya inginkan dalam hidup, harga yang saya tentukan dalam kehidupan dan kehidupan yang saya hargai sebagai pilihan hidup.

Terkadang sesuatu yang bukan definisi saya, saya pakai dan saya anggap itu hal yang lumrah. Padahal tanpa saya sadari kacamata yang saya pakai saat ini minusnya bertambah. Dan itu membuat saya semakin menjauh dari definisi saya sendiri. Pada akhirnya yang saya butuhkan seorang sahabat yang akan mengatakan, “Kayaknya bukan lo banget deh”.

Malam itu saya merenungkan kata-katanya. Benar juga.

Tidak hanya tetangga yang mengingatkan saya, beberapa waktu lalu juga saya bertemu dengan teman yang menghabiskan hidupnya dengan menulis dan travelling. Sedikit iri dengan pekerjaannya ini (sigh).

“Yasmin, kamu lagi ada masalah!”

“No I’m not”

“Iya ada!"

“Tidak”

“Tapi kamu berubah Yasmin, tidak seperti terakhir kali saya temui waktu itu”

Dan akhirnya dia punya pendapatnya sendiri, bahwa saat ini saya berubah. Betapapun keukeuhnya saya dengan pendapat saya. Yang pikir saya, saya sedang menjalani hidup asyik-asyik saja. Saya tahu, saya sedang tidak baik-baik saat itu.
Ada yang salah dengan saya belakangan ini.

Saya memang menjalani definisi hidup saya dengan bekerja mati-matian untuk sebuah perusahaan. Berusaha keras menjadi seseorang yang bisa diandalkan, mewujudkan sekuat tenaga dan memperbaiki kinerja saya setiap waktu.

Ketika sebuah sistem bilang saya salah, maka saya merasa langsung salah dan mengakuinya begitu saja, tanpa membicarakan kembali dengan diri saya. Padahal saya tahu, saya tidak benar-benar salah tapi saya memilih menjadi diam.


Kambing..kambing!!!

Saya memang kambing congek yang oon.



Saya capek jadi kambing oon.

Bukan karena seseorang yang membuat saya menjadi kambing. Tapi saya membiarkan orang menjadikan saya jadi kambing.

Saya membiarkan definisi kambing dalam diri saya berkembang dan tumbuh bersemi


Ini kenapa ya?


Yasmin berhentilah menjadi kambing.

Ini yang ingin saya utarakan tentang keadaan saya saat ini:

Saya hanya ingin diperlakukan dengan baik. Kalau saya sudah mengutarakan pendapat saya. Tolong pahami dan jangan dimaknai berganda. Karena saya sudah berusaha yang terbaik. Bisakah menghargai keadaan saya??

Saya menginginkan kemerdekaan hidup dengan tidak seorangpun menuntut saya menjadi ‘seseorang’ yang tidak saya inginkan.

Kalau saya bilang, saya tidak peduli dengan apa yang terjadi di lingkungan kerja, tolong hargai sikap profesionalisme saya bahwa saya memang tidak peduli dengan keadaan subyektif disekitar saya. Saya hanya mengerjakan pekerjaan saya dengan baik. Kalau saya mengeluh, itu karena masalah ada dalam diri saya. Dan saya akan kembali mengerjakan apa yang menjadi tanggung jawab saya.



Pada akhirnya saya yang harus mendefinisikan Yasmin kembali. Bukan lagi menjadi kambing pendiam atau pura-pura menjadi kambing yang sok baik-baik saja tapi jadi racun buat dirinya sendiri dan orang lain.

Pada akhirnya saya yang harus kembali mendefinisikan diri dan menyuarakan bila perlu, apabila seseorang menuntut saya menjadi seseorang yang tidak saya inginkan.

“Yasmin percayalah, akan ada tiba waktunya. At that time, you’re ready to blast on. Kamu sudah punya makna buat diri kamu sendiri, sudah sangat jelas. Kamu tahu apa yang kamu mau. Kamu hanya butuh waktu buat menyelesaikan semuanya, dan waktu akan memberikan waktunya buat kamu”, seorang sahabat menyejukkan hati saya.

Terkadang kita butuh mendengarkan sahabat-sahabat yang benar-benar tulus dalam kehidupan kita. Dan saya selalu sepakat, ada orang-orang yang punya bahasa jiwa yang sama. Ketika saya mengobrol dengan orang-orang seperti ini, saya merasa kehangatan luar biasa. Mereka lebih dari seorang teman, mereka diciptakan sebagai jiwa-jiwa yang tulus, yang benar-benar ingin mengenal kita. Benar-benar ingin bersahabat dan mengulurkan tangan mereka saat saya butuh.

Saya berharap orang-orang seperti akan selalu ada disekitar hidup saya, untuk membantu mengingatkan saya atas definisi yang saya buat. Bukan menambah beban diri saya menjadi kambing.

Pada akhirnya, saya membuat definisi saya sendiri.



Yasmin diatas Vanya, 7 June 2009




Empat tahun embunbantal di bulan Juli

Friday, July 28, 2006

Ruangan 1612 semakin menyesakkan saja. Bukan karena kepenuhan dengan perkakas kantor tapi ketegangan di ruangan ini benar-benar luar biasa. Rasanya ingin mematikan semua lampu dan membayangkan semua sudah bisa teratasi.

Dua wajah manusia di depanku terlihat sedang meramu pikirannya di depan laptop mereka masing-masing. Seperti sedang mengaduk-aduk otak. Ilmu pasti, tapi kenyataan di lapangan tidak pasti.

Pasti belum ketemu rumusnya, pikirku. Mereka tetap termangu di depan pusaran virtualnya. Dan aku masih didepan salah satu meja komputer menunggu tugasku mengirim daily brief ke Jakarta selesai.

Segera selesaikan Yasmin! Kalau tidak kamu bakal terseret menjadi wajah tanpa guratan persis orang-orang didepanmu, pikirku ketika berada didepan mereka.

Kembali melongok ke layar komputer kemudian mengetik, Sari dan Dhani adalah mahasiswa ITB yang ditunjuk untuk mengadakan uji air lumpur. Mereka pintar, tapi mereka tidak seimajinatif dalam bayanganku. Tepatnya aku tidak punya gambaran tentang diri mereka. Raut wajah yang sama dengan Profesor Asis yang memimpin dua lulusan ITB ini datang ke hotel tempat kami bekerja sekarang. Berusaha lah Yasmin memecah keheningan.

“Hai, apa kabar? Saya Yasmin, mbak?”, terlambat menyapa lebih baik daripada tidak sama sekali.

Dengan air wajah tak berubah, “Sari”

“Mas?”, aku mengalihkan perhatian kepada pria disamping Sari.

“Dhani”, sebutnya datar.

Dan kami kembali meneruskan pekerjaan masing-masing, seakan ruang ini tidak pernah menyatukan kami semua. Aku akan melupakan nama kalian, janjiku.

Room 1612, room 1614

Ruangan tempat aku duduk saat ini terdiri dari tiga kamar yang saling terkoneksi satu sama lain,nomor 1612 dan 1614.
hmmm tidak ada 1613.
Nomor sial katanya, tidak ada hotel yang mau memiliki lantai 13 atau kamar nomor 13.

Disini, tempat aku duduk di setiap pukul 7.30 pagii. Berkutat dengan mesin fax atau email. Setiap pagi secangkir kopi nescafe Mochacino ada disebelah meja komputerku. Aldi membuatkannya untukku, roomboy yang siap melayani keperluan kamar.

Masih teringat pesan Aldi saat ia memperkenalkan diri.
"Aldi, mba Yasmin", senyum tipisnya menyeruak dibalik wajah penuh dedikasi .

Aldi menjadi teman di pagi hari sebelum presentasi dimulai. Masih teringat dengan jelas, pesannya padaku. “Yang penting bekerja itu ikhlas, mbak”.



Saturday, July 28, 2007

“Siapa suruh datang Jakarta?"

“Siapa suruh datang Jakarta?”

Tiba-tiba lirik yang sering dinyanyikan kakakku terdengar jelas ditelingaku,

jangan-jangan benar apa kata lirik itu. Pikirku berulang menyesali kenapa aku bisa berada di tengah aliran banjir seperti ini.

Sambil mengomel sendiri, mencoba meneruskan langkah kaki ditengah air yang mulai menghitam pekat merendam kedua lututku. Hujan angin kali ini kencang sekali. Tapi aku tahu, bukan saatnya mengomel dengan keadaan.

Saat mulai memasukkan kaki satu persatu ke dalam kubangan, tiba-tiba sepatuku lepas begitu saja dan mengikuti arus aliran air. Sumpah serapah mulai keluar lagi tapi ditutup secara singkat dengan mayat tikus yang lewat begitu saja disampingku.

Mama…, bisikku lirih. Memejamkan mataku.

Oh ayo Yasmin, jangan cengeng.

Dengan sepatu yang masih tersisa di kaki kananku, aku melewati gang kosku yang dipenuhi air mengalir deras.

Harapanku hanya satu, berharap jemuran tidak terbang kemana-mana. Ayo Yasmin pasti bisa cepat sampai.

“Tolong jelaskan kepada saya cara yang lebih ampuh daripada berusaha keras dan optimis sebagai bahan bakar kehidupan ini?”



Sunday, July 28, 2008

Kertas itu aku temukan di mesin potokopi, Jumat lalu. Tertulis didalamnya bahwa orang yang aku anggap penting dalam hidupku satu tahun belakangan ini akan mengundurkan diri dari perusahaan ini.

Karena kertas itu teronggok begitu saja, aku memutuskan untuk menghancurkannya di mesin penghancur kertas. Setelah selesai menghancurkan, aku berangsut ke toilet. Menghapus air mata yang tiba-tiba menetes. Terdiam sejenak memandang wajahku. “Ga boleh begini Yasmin!”. Mencoba menenangkan diri.

Keluar dari toilet, Mas Aldi baru keluar dari ruangan manajer kami. Aku memandangnya. Dan dia balik memandang. Dia tahu, aku sudah mendengar kabar pengunduran diri dari anak-anak. Aku hanya berharap ia sendiri yang mengatakannya padaku.

Hanya butuh ketenangan, Yasmin, gumamku sendiri.

“Yasmin, ikut saya ya!”, seru Mas Aldi memerintah anak buahnya.
“Kita akan kemana mas?”
“Hari ini kita ke Pondok Indah”
“Baik”, aku beranjak dari kubikel dan menyiapkan bahan yang perlu aku bawa.

Mobil melaju menuju Pondok Indah, melewati Cideng, Tanah Abang dan Arteri Pondok Indah. Sepanjang perjalanan, kami hanya beradu dengan diam.

“Sudah saatnya kamu dilepas tanpa saya”, Mas Aldi memecahkan keheningan sambil terus fokus menyetir.

“Sudah tidak perlu ada saya disamping kamu, kamu sudah berada di sebuah awal yang bagus Yasmin dan sekarang waktunya kamu membuktikan lebih banyak lagi, apa yang bisa kamu lakukan dengan kerjaan kamu.”

“Iya Mas”, jawabku lesu.

“Yasmin, ada 3 tipe manusia.”, Mas Aldi mencoba membuka pembicaraan.
“ Tipe pertama tipe Batu, si Batu dicemplungin ke air, ya dia akan tetap menjadi batu selamanya, tidak akan berubah. Batu ya tetap batu. Tipe kedua, tipe coca cola, awalnya dia penuh busa, lama kelamaan buihnya menyurut sampai dia ga enak diminum. Tipe ketiga, tipe redoxon, dimasukkan ke air putih dia mengubah warnanya”, jelasnya.

“Yasmin, jadilah Redoxon, karena kamu bisa memberi perubahan”, sambil tersenyum memandang anak buah disampingnya.



Monday, July 28, 2009

Belum terjadi.




Yasmin at Vannya, June 7, 2009



Wednesday, May 6, 2009

a nite

Ketika malam semakin larut, ketika saya mau ga mau harus melalui lorong gelap itu sebagai bagian dari kehidupan saya setiap hari. Ketika perjalanan saya hanya ditemani tikus-tikus got yang ikut menyelusuri jalan yang sama dengan saya. Atau ketika terdengar bisikan pasangan yang berusaha mendefinisikan ‘dunia hanya milik mereka’. Ketika hanya rumah-rumah kosong tanpa penghuni menemani perjalanan.

Kadang saya berpikir hal terburuk yang bisa saja terjadi Saya tidak pernah tahu. Dan apa yang musti saya lakukan ketika itu terjadi. Well yeah saya tidak berpikir terlalu jauh sampai disana.

Namun ketika ketakutan itu terjadi dan seluruh keberanian itu harus muncul di setiap malam saya melewati gang itu, yang saya tahu, apa yang terjadi, terjadilah. Dan langit malam akan menjadi saksi dari semua kejadian. Saya tidak bilang saya terlalu berpasrah dengan keadaan. Atau saya sok keberanian buat melewati gang itu. Hanya berusaha menjadikan kegelapan bagian dari bumi ini. Itu saja.

Mungkin karena sok keberanian sih, mungkin..atau efek sebilah pisau yang sudah pernah berada di leher saya atau parang yang siap menebas kepala saya dulu. Yah, bisa jadi. Hanya ada yang pertama, ada yang kedua, tidak pernah tahu ada yang ketiga.. Tapi bisa jadi karena sok keberanian itu tadi


Selamat malam embunbantal…nite

hamil tanpa sperma??


http://inilah.com/berita/gaya-hidup/2009/05/06/104445/hamil-tanpa-sperma-emang-bisa/


kalau saja ini bisa menjadi pilihan...