Sunday, June 7, 2009

Empat tahun embunbantal di bulan Juli

Friday, July 28, 2006

Ruangan 1612 semakin menyesakkan saja. Bukan karena kepenuhan dengan perkakas kantor tapi ketegangan di ruangan ini benar-benar luar biasa. Rasanya ingin mematikan semua lampu dan membayangkan semua sudah bisa teratasi.

Dua wajah manusia di depanku terlihat sedang meramu pikirannya di depan laptop mereka masing-masing. Seperti sedang mengaduk-aduk otak. Ilmu pasti, tapi kenyataan di lapangan tidak pasti.

Pasti belum ketemu rumusnya, pikirku. Mereka tetap termangu di depan pusaran virtualnya. Dan aku masih didepan salah satu meja komputer menunggu tugasku mengirim daily brief ke Jakarta selesai.

Segera selesaikan Yasmin! Kalau tidak kamu bakal terseret menjadi wajah tanpa guratan persis orang-orang didepanmu, pikirku ketika berada didepan mereka.

Kembali melongok ke layar komputer kemudian mengetik, Sari dan Dhani adalah mahasiswa ITB yang ditunjuk untuk mengadakan uji air lumpur. Mereka pintar, tapi mereka tidak seimajinatif dalam bayanganku. Tepatnya aku tidak punya gambaran tentang diri mereka. Raut wajah yang sama dengan Profesor Asis yang memimpin dua lulusan ITB ini datang ke hotel tempat kami bekerja sekarang. Berusaha lah Yasmin memecah keheningan.

“Hai, apa kabar? Saya Yasmin, mbak?”, terlambat menyapa lebih baik daripada tidak sama sekali.

Dengan air wajah tak berubah, “Sari”

“Mas?”, aku mengalihkan perhatian kepada pria disamping Sari.

“Dhani”, sebutnya datar.

Dan kami kembali meneruskan pekerjaan masing-masing, seakan ruang ini tidak pernah menyatukan kami semua. Aku akan melupakan nama kalian, janjiku.

Room 1612, room 1614

Ruangan tempat aku duduk saat ini terdiri dari tiga kamar yang saling terkoneksi satu sama lain,nomor 1612 dan 1614.
hmmm tidak ada 1613.
Nomor sial katanya, tidak ada hotel yang mau memiliki lantai 13 atau kamar nomor 13.

Disini, tempat aku duduk di setiap pukul 7.30 pagii. Berkutat dengan mesin fax atau email. Setiap pagi secangkir kopi nescafe Mochacino ada disebelah meja komputerku. Aldi membuatkannya untukku, roomboy yang siap melayani keperluan kamar.

Masih teringat pesan Aldi saat ia memperkenalkan diri.
"Aldi, mba Yasmin", senyum tipisnya menyeruak dibalik wajah penuh dedikasi .

Aldi menjadi teman di pagi hari sebelum presentasi dimulai. Masih teringat dengan jelas, pesannya padaku. “Yang penting bekerja itu ikhlas, mbak”.



Saturday, July 28, 2007

“Siapa suruh datang Jakarta?"

“Siapa suruh datang Jakarta?”

Tiba-tiba lirik yang sering dinyanyikan kakakku terdengar jelas ditelingaku,

jangan-jangan benar apa kata lirik itu. Pikirku berulang menyesali kenapa aku bisa berada di tengah aliran banjir seperti ini.

Sambil mengomel sendiri, mencoba meneruskan langkah kaki ditengah air yang mulai menghitam pekat merendam kedua lututku. Hujan angin kali ini kencang sekali. Tapi aku tahu, bukan saatnya mengomel dengan keadaan.

Saat mulai memasukkan kaki satu persatu ke dalam kubangan, tiba-tiba sepatuku lepas begitu saja dan mengikuti arus aliran air. Sumpah serapah mulai keluar lagi tapi ditutup secara singkat dengan mayat tikus yang lewat begitu saja disampingku.

Mama…, bisikku lirih. Memejamkan mataku.

Oh ayo Yasmin, jangan cengeng.

Dengan sepatu yang masih tersisa di kaki kananku, aku melewati gang kosku yang dipenuhi air mengalir deras.

Harapanku hanya satu, berharap jemuran tidak terbang kemana-mana. Ayo Yasmin pasti bisa cepat sampai.

“Tolong jelaskan kepada saya cara yang lebih ampuh daripada berusaha keras dan optimis sebagai bahan bakar kehidupan ini?”



Sunday, July 28, 2008

Kertas itu aku temukan di mesin potokopi, Jumat lalu. Tertulis didalamnya bahwa orang yang aku anggap penting dalam hidupku satu tahun belakangan ini akan mengundurkan diri dari perusahaan ini.

Karena kertas itu teronggok begitu saja, aku memutuskan untuk menghancurkannya di mesin penghancur kertas. Setelah selesai menghancurkan, aku berangsut ke toilet. Menghapus air mata yang tiba-tiba menetes. Terdiam sejenak memandang wajahku. “Ga boleh begini Yasmin!”. Mencoba menenangkan diri.

Keluar dari toilet, Mas Aldi baru keluar dari ruangan manajer kami. Aku memandangnya. Dan dia balik memandang. Dia tahu, aku sudah mendengar kabar pengunduran diri dari anak-anak. Aku hanya berharap ia sendiri yang mengatakannya padaku.

Hanya butuh ketenangan, Yasmin, gumamku sendiri.

“Yasmin, ikut saya ya!”, seru Mas Aldi memerintah anak buahnya.
“Kita akan kemana mas?”
“Hari ini kita ke Pondok Indah”
“Baik”, aku beranjak dari kubikel dan menyiapkan bahan yang perlu aku bawa.

Mobil melaju menuju Pondok Indah, melewati Cideng, Tanah Abang dan Arteri Pondok Indah. Sepanjang perjalanan, kami hanya beradu dengan diam.

“Sudah saatnya kamu dilepas tanpa saya”, Mas Aldi memecahkan keheningan sambil terus fokus menyetir.

“Sudah tidak perlu ada saya disamping kamu, kamu sudah berada di sebuah awal yang bagus Yasmin dan sekarang waktunya kamu membuktikan lebih banyak lagi, apa yang bisa kamu lakukan dengan kerjaan kamu.”

“Iya Mas”, jawabku lesu.

“Yasmin, ada 3 tipe manusia.”, Mas Aldi mencoba membuka pembicaraan.
“ Tipe pertama tipe Batu, si Batu dicemplungin ke air, ya dia akan tetap menjadi batu selamanya, tidak akan berubah. Batu ya tetap batu. Tipe kedua, tipe coca cola, awalnya dia penuh busa, lama kelamaan buihnya menyurut sampai dia ga enak diminum. Tipe ketiga, tipe redoxon, dimasukkan ke air putih dia mengubah warnanya”, jelasnya.

“Yasmin, jadilah Redoxon, karena kamu bisa memberi perubahan”, sambil tersenyum memandang anak buah disampingnya.



Monday, July 28, 2009

Belum terjadi.




Yasmin at Vannya, June 7, 2009



2 comments:

  1. Euh, redoxon? Jadul amat ya.. Kenapa nggak Berocca? Hehe.. Tapi btw, menarik juga perumpamaan nya. Terutama yg coca cola :-)

    ReplyDelete
  2. Haha..perumpamaan setahun lalu, emang jadul sih:p

    ReplyDelete