Yogyakarta, Maret 1987
“Berapa jumlah awan dilangit?”,
“Dan kenapa mereka harus ada?”
“Bagaimana mungkin Tuhan menciptakannya hanya untuk menjadikan mereka terus berlari diatas sana”, tanyaku.
“Dan apakah Tuhan menciptakan diriku hanya untuk menjadi sebuah meja tak berkaki”, selorohku sambil memainkan batang rumput di mulut.
Aku teringat kembali ketika si Mbah marah besar padaku setiap kali aku melakukan kesalahan yang menurutnya fatal.
Pada saat aku terbangun di saat matahari sudah bersinar terik.
Pada saat aku lupa menuangkan teh pada cangkir-cangkir tanah liat di pagi hari sebelum mereka, para sanak saudara seusiaku berangkat sekolah.
Kalau si Mbah marah, seperti biasa dia akan mengata-ngatai aku meja tak berkaki.
“meja tak berkaki…”, mengulang panggilanku, seakan tak memahami maknanya.
Meja cacat, tanpa kaki sehingga hanya seperti seonggok papan kayu yang tak bisa disandingkan dengan kursi.
“Mbah memaksaku bersikap menjadi meja tak berkaki, dia bilang aku hanya bisa menjadi pijakan kaki-kaki kerdil yang tak sanggup mengambil ceret diatas rak dapur yang terpasang jauh diatas kepala-kepala mereka.”
“Ketika kaki-kaki kerdil itu belum bangun dari tidurnya, aku sudah terbangun untuk menjadi meja tak berkaki,”
“Kaki-kaki kerdil yang malang, bahkan mereka sama sekali tidak berguna bagi diri mereka sendiri.” Pikirku setiap kali aku mengingat panggilan Mbah kepadaku.
“Mbah juga mengatakan padaku bahwa aku tak layak menjadi manusia, Indigo! Karena itu dia perlu memukul punggungku dengan tongkat kayu yang selalu dibawanya kemana-mana.”
Tongkat yang biasa ia bawa untuk menyangga badannya yang mulai rapuh.
Tongkat itu juga yang mencambuk punggungku. Si Mbah bilang agar aku mengerti tentang kehidupan ini. Agar aku tidak menjadi nakal seperti kupu-kupu liar. Kupu-kupu yang hanya hidup semalam dan tidak punya tujuan hidup.
Tapi bagaimana mungkin tongkat itu dapat menciptakan diriku dalam bentuk yang sempurna? Tuhan telah menciptakan ku dengan penuh keajaibannya. Bahkan hanya perih yang kurasa, setiap kali Mbah mulai memainkan tongkatnya ke kulit ariku yang kian menipis dan menghitam legam.
Aku harus menurut, aku tahu ini semua agar aku tidak memalukannya…
Kau tahu kenapa semua ini terjadi padaku?? Tanyaku kepada Indigo.
Katanya karena kau indigo!! Ya ini semua karena kamu ada dalam diriku! Warna indigo yang mengalir dalam darahku, awalnya warna ku berwarna biru langit yang mengangkasa…tapi semua ini karena kamu Indigo!! Kau merusak warnaku menjadi warnamu, dan Mbah bilang ini tidak baik, ini tidak baik untuknya, untuk keluarga ini. Kau tidak baik untukku dan terutama untuk keluarga ningrat ini
Oh Indigo, bisakah kau pergi dari diriku…
Aku ingin kau pergi…
Jadi aku tak perlu lagi menjadi meja tak berkaki seperti ini terus menerus sepanjang hari-hariku.
Hari sudah mulai terik, hari ini seluruh keluarga pergi menjenguk Pakdhe Rembang yang sedang sakit karena tua. Ya semua keluarga, seluruh keluarga yang bukan aku.
Kuangkat kepalaku dari rebahku di rerumputan, Aku mulai membersihkan rambutku dari helaian rumput. Kali ini aku beruntung. Lega rasanya tanpa Mbah ada dirumah.
Mbah adalah orang tua yang sepenuhnya berkuasa dirumah ini, bahkan orangtua ku saja tidak berwenang mengatur hidupku.
Ibuku bukanlah keturunan ningrat, ibuku hanya bangsa melarat yang mengais – ngais beras yang berjatuhan di sepanjang jalan saat orang-orang pergi memanen beras mereka.
Sedangkan ayahku jatuh cinta pada keprihatinan. Mereka dipertemukan atas persetujuan Yang Maha Besar. Begitu kata ayah, saat menceritakan kisah cinta mereka yang romantis.
Hah, aku pikir beginilah akhir cinta yang tragis. Dua orang dipertemukan dari dua kehidupan yang berbeda. Dan aku ikut andil menyelami bagian cinta yang tragis ini.
Emak tidak bisa berkata apa-apa setelah dimasukkan kedalam dapur dan tidur di gudang kayu bakar. Dan ayah yang tidak berguna, nurut sama si Mbah. Ayah tidak berguna saat emak yang berbadan dua, dan sialnya aku berada didalam diri emak.
Ayah tidak berguna, ketika emak menjerit kesakitan dengan jaritnya yang membasah bercampur keringat dan darah. Melahirkan sendiri di dalam gudang kayu bakar itu.
Kalau saja emak tahu hidupnya akan seperti ini, hidup dalam cinta nya yang menggebu kemudian ditinggalkan begitu saja dalam gudang yang mendingin setiap malam.
Aku hanya dibalut kain belacu. Sentuhan hangat emak yang yang menguatkanku. Sayang emak tidak bisa bertahan hidup di gudang itu. Emak meninggal disisiku. Aku tergeletak di sebelah emak yang mulai mendingin. Sedingin gudang itu.
Meja tak berkaki yang mungil telah lahir pada malam Kamis Pahing. Tanpa ada tanda berarti saat malam kelahiranku.
Si Mbah lah yang membawaku kedalam rumah. Mbah selalu bilang, dialah yang menyelamatkanku dari keprihatinan.
Aku berjasa besar kepada Mbah, karena aku masih bisa bernafas sampai saat ini. Sudah 15 tahun lamanya. Aku beruntung masih dihidupkan oleh si Mbah. Diantara tembok-tembok tinggi. Dimana seluruh keluarga ini berkumpul. Tapi tak satupun seorang diantaranya mengakuiku sebagai bagian dari keluarga mereka.
Terlalu memalukan untuk sebuah pengakuan.
Ayahku pun hanya diam-diam menatapku, kemudian memalingkan mukanya. Persis setelah ia memalingkan wajahnya. Tak berapa lama, wajahnya memerah.
Aku mengingatkan kepada masa lalunya yang berwarna merah. Penuh cintakah? Tanyaku yang masih belum terjawab sampai detik ini.
Aku hanya percaya disinilah aku bisa hidup. Dibawah tongkat mbah. Dan tetap menjadi meja tak berkaki. Dan kau Indigo ? Kau menurut saja kini padaku. Kalau aku berteriak kesakitan, kau menurut saja. Karena ini semua salahmu.
Embunbantal, Permata Hijau, 30 November 2008 – untuk naskah yang belum terselesaikan, Menatap Langit Indigo.
Pengalaman pribadi nih?
ReplyDeletegw lagi mikir, kenapa bisa nulis ini...baru setengah jadi, gw diem dan ga gw lanjutin, serem sendiri.
ReplyDeleteKaya film horor aje, penulisnya ga tahu ke mana tapi cerita ini terus berjalan, kata demi kata dan berhenti di "titik terakhir"
ReplyDeleteHehehehe, selesein dong, kalau kata orang londo, "dont start what u can't finish"