Iya halte dari ratusan halte yang ada di pelosok ibukota ini. Halte yang aku datangi setiap pagi. Halte dengan tiang tua berwarna hijau. Puluhan orang silih berganti menyandar di tiang hijaunya.
Dan aku salah satunya.
Selalu.
Sambil menunggu bis Mayasari yang akan membawaku ke pusat kota. Berdiri bersama para pekerja kantoran lainnya, buruh, pelajar dan asongan. Siap berlari bersama mengejar bis angka 46.
46 seperti angka keberuntunganku di pagi hari. Setiap angka itu muncul dari ujung jalan raya Bogor, ada kelegaan luar biasa. Bis ini layaknya jodoh yang aku tunggu di setiap pagi.
Jodoh. Hihi…jadi geli mendengarnya, gumamku sendiri.
Angka 46 akan muncul di pukul tujuh lebih sepuluh. Dan aku datang sebelum jarum jam menunjuk angka penting lainnya, 7 lebih 10.
Seperti biasa, aku menemui orang-orang yang sama dengan yang aku temui kemarin. Aku juga mendengar klakson-klakson dari kendaraan yang sama dengan yang aku temui kemarin.
Kata orang, selamat datang di rutinitas hidup kota besar. Berangkat pagi, pulang malam. Ritmenya selalu sama setiap detiknya. Seperti marmut yang sedang berlari dalam roda permainan. Barangkali bumi ini sudah menjadi roda permainan, dan kita para marmut suka ga sadar kalau sedang berlari. Makin dikejar, tetap saja ga ada ujungnya. Kecuali mau berhenti untuk mengerat wortel sejenak. Tapi balik-balik lagi, berlari di roda tanpa ujung itu. Whatalife!
Berdiri di salah satu tiang halte ini adalah salah satu peranku di roda permainan. Seperti yang aku bilang tadi, menunggu angka 46. Terlalu banyak bis yang datang dan pergi dari halte ini. Kadang si bis bisa ngetem lama disini. Tapi bisa persekian detik memberi waktu untuk calon penumpangnya naik. Apalagi kalau sudah ada polisi-polisi yang lagi iseng mampir ke jalan raya ini. Bisa-bisa semua penumpang berubah jadi pelari sprint. Hihi..
Diantara bis itu, hanya ada satu bis menuju Cengkareng.
Iya, aku selalu mengamati bis ini. Bis berwarna putih. Bis yang selalu berjalan lebih lambat dari bis besar lainnya. Beberapa pekerja naik ke bis ini. Aku selalu ingat siapa-siapa saja orang di halteku yang masuk ke dalam bis itu, dan ya aku akan melihat mereka satu persatu memilih bangku yang sama setiap harinya.
Di bagian belakang…tiga bangku dari belakang, seorang pria menunduk seperti sedang asyik membaca. Iya aku melihatnya setiap kali bis ini melewatiku. Dengan rambut yang rapi. Dengan tatapan mata yang tidak berhenti menyelusuri paragraf dalam buku. Ada 10 detik kejadian ini sebelum bis itu benar-benar menghilang ke ujung jalan lainnya. Ia menambah satu paragraf dari kisah bis putih.
Pagi berikutnya, aku berdiri di tiang yang sama. Bis Cengkareng itu kembali melaluiku. Dan pria itu masih berada pada bangku yang sama. Aku memandangnya sekali lagi, tanpa makna yang berarti.
10
9
8
7
6
5
Pria itu menengadahkan kepalanya dan memalingkan wajahnya ke arah luar jendela. Matanya menangkap basah aku yang sedari tadi memandangnya.
Sial…cepat menunduk! perintahku sendiri.
Bis itu pun kembali beranjak pergi seperti biasanya. Aku tahu, dia masih melihatku sampai dengan detik itu berakhir.
Pagi berikutnya, aku kembali menunggu bis yang akan membawaku bekerja. Seperti biasa pukul 7 lebih 10. Bis Cengkareng itu kembali datang. Ia masih duduk dibangku yang sama. Kali ini ia tidak membaca, ia mengganti kebiasaannya itu dengan melihatku pagi itu. Ia menatapku. Menatapku dengan senyuman. Aku menunduk kembali, tak percaya. Aku membiarkan senyuman itu lepas begitu saja, sama seperti bis itu berlalu begitu saja.
Dan hari itu pun berlalu.
Pagi kembali menemuiku lagi. Kembali lagi di halte pukul 7 lebih 10. Bis putih itu bukan lagi titik perhatianku, tapi pria yang ada di bangku belakang. Iya, bis itu datang kembali, tentu dengan pria itu. Ia kembali memandang dan kali ini aku memberanikan diri membalas senyumannya. Aku tersenyum. Ia kembali tersenyum dan tidak berhenti menatapku, meski bis itu mulai menjauh.
Dan hari ini seperti biasanya, berakhir.
Pagi sudah menjemput kembali. Aku terlambat menemui matahari kali ini. Aku bergegas berjalan cepat menuju halte itu. Aku tidak bisa mencapai halte 7 lebih 10. Bis itu sudah hampir melewati halteku saat aku masih berada di jembatan penyebrangan. Aku berlari kecil. Pria itu menghujani tatapan ke sekeliling halte. Aku tahu, ia tidak menemukanku. Dan saat bis itu berlalu dan melalui jembatan yang sedang kuseberangi, ia berhasil menangkapku. Kali ini kami tertawa.
Bis itu pun kembali berlalu dan kehidupan berlalu seperti biasa.
Malam sebelum pagi dimulai, aku berpikir. Aku tidak ingin melewati pagi ini dengan hanya senyuman saja. Kami sudah bisa tersenyum. Kami sudah bisa tertawa. Adakah cara lain agar kami bisa berbicara, tanyaku dalam hati.
Tapi bagaimana caranya?
Aku mengambil kertas putih, kemudian mencoret namaku disana.
DARA
Kupandangi kertas itu kemudian mencoba memperagakan mengangkat kertas itu. Paling tidak ia tahu siapa namaku. Sambil tersenyum tipis. Aku simpan kertasnya dalam tas. Dan aku pun tertidur dengan senyuman.
Pagi itu, aku datang lebih pagi. Dan siap dengan kertas putih yang tadi malam kutulis namaku. Saat bis itu melewatiku, aku terdiam. Tanganku mengeluarkan kertas bertulis namaku. Tapi aku tidak mengangkat sekalipun. Aku hanya melihatnya lamat-lamat kemudian tersenyum ketika ia melambaikan tangannya. Aku membalas lambaian tangannya, pria dibelakangnya ikut tersenyum kaget menatapku dan membalas lambaian tanganku. Kami berdua tertawa.
Dan sekali lagi, aku membiarkan ia pergi melewati pagiku.
Ia pergi lagi
Tapi aku tersenyum. Dalam hatiku bicara biarkan dia menjadi pemanis di pagi hari.
Haripun berlalu..
Hingga pagi kembali datang lagi. Pagi yang biasa. Dan aku siap dengan jemputan bis angka 46 ku. Aku kembali berdiri di tiang hijau itu. Sejenak terpikir olehku, bis Cengkareng sebentar lagi akan datang, gumamku.
Nah itu datang, legaku.
Sambil berusaha menelanjangi isi bis, tapi aku tidak menemukan pria itu dibelakang bangku.
Ia tidak ada. Bagaimana bisa…
Pagi yang tak biasa, pikirku. Hmm, terbesit rasa kecewa. Aku tidak berhasil menemuinya pagi ini. Mungkin ia sakit, mungkin ia berangkat dengan bis yang lain, mungkin sudah berangkat di waktu yang lain, atau jam kantornya berubah.
Yah, ada satu hari yang berbeda dari hari-hari yang lain. Begitukan hidup. Tidak selamanya seperti roda permainan punya si marmut, pikirku kembali.
Sambil berusaha tenang dan memikirkan jodoh 46 ku kembali.
Aku kembali berkonsentrasi pada bis lain.
Sampai seseorang memanggilku dari belakang.
“Hai apakabar?”
Aku membalikkan badanku yang sudah terlalu nyaman menyandar di tiang hijau itu.
Aku terhenyak…
Pria itu ada didepanku sekarang.
-embunbantal, at my purple bed, 21 June 2009-

bagus..bagus...bagus....jadi terharu ;)
ReplyDeleteKereeennnn...!!!
ReplyDelete=)
ReplyDeletebagus....
hahahahhaha.... *tertawa penuh makna*
ReplyDelete:) :) :)
ReplyDeletekapan kita bisa sepedaan bareng spu ipar??
ReplyDeletethankyou dansapar :)
ReplyDeletehahahaha *kapan nyampah dul??*
ReplyDelete