Definisi diriku adalah pekerjaan yang kulakukan, orang-orang yang menjadi temanku, dan pengaruh yang kurasakan dalam duniaku yang kecil tapi makin membahagiakan ini. For matrimonial purpose –Kavita Daswani
Terkadang saya memang melupakan definisi diri saya.
Karena terbawa oleh arus...
Karena menganggap sesuatu yang awalnya tidak lazim bagi saya, tapi saya maklumi dan saya jalani saja sebagai bagian dari hidup, padahal saya tahu itu tidak benar...
Atau karena menumpuk semua informasi di kepala, mengabaikan masalah dalam diri saya yang saya tahu harus segera diselesaikan ...
Saya tahu, saat ini saya terlalu fokus dengan dunia kerja hingga lupa kenapa saya ada disini sekarang.
Duduk dan berada didepan Neo_laptop saya seperti saat ini. Ini yang saya lakukan untuk bisa bicara kembali dengan diri saya.
Oke blog ini akan terus berbicara tentang diri saya. Haha…yaiyalah…saya subyek dari blog ini :D Seperti kata Anton, embun bantal akan bicara terus tentang apa saja bahkan yang tidak penting sekalipun. Hehe…
Beberapa waktu lalu, saya sempat berdiskusi dengan teman lain selain Jupri (tumben2nya bukan sm dia). Kebanyakan dari mereka seperti mencoba mengingatkan saya lagi tentang definisi diri saya.
Pernyataan Anton yang paling saya ingat adalah bukan bagaimana seseorang itu saat ini, tapi bagaimana seseorang itu punya mimpi dan dia berusaha mencapai impiannya. Hidup adalah mewujudkan mimpi itu sendiri. Saya akan mengingatnya Nton…thanks buat hot chocolate-nya at Batavia CafĂ©.
Bagaimana saya bisa menjaga definisi diri saya, kalau saya sendiri tidak tahu siapa diri saya, apa yang saya inginkan dalam hidup, harga yang saya tentukan dalam kehidupan dan kehidupan yang saya hargai sebagai pilihan hidup.
Malam itu saya merenungkan kata-katanya. Benar juga.
Tidak hanya tetangga yang mengingatkan saya, beberapa waktu lalu juga saya bertemu dengan teman yang menghabiskan hidupnya dengan menulis dan travelling. Sedikit iri dengan pekerjaannya ini (sigh).
“Yasmin, kamu lagi ada masalah!”
“No I’m not”
“Iya ada!"
“Tapi kamu berubah Yasmin, tidak seperti terakhir kali saya temui waktu itu”
Ada yang salah dengan saya belakangan ini.
Saya memang menjalani definisi hidup saya dengan bekerja mati-matian untuk sebuah perusahaan. Berusaha keras menjadi seseorang yang bisa diandalkan, mewujudkan sekuat tenaga dan memperbaiki kinerja saya setiap waktu.
Ketika sebuah sistem bilang saya salah, maka saya merasa langsung salah dan mengakuinya begitu saja, tanpa membicarakan kembali dengan diri saya. Padahal saya tahu, saya tidak benar-benar salah tapi saya memilih menjadi diam.
…
Saya memang kambing congek yang oon.
…
Saya capek jadi kambing oon.
Bukan karena seseorang yang membuat saya menjadi kambing. Tapi saya membiarkan orang menjadikan saya jadi kambing.
Saya membiarkan definisi kambing dalam diri saya berkembang dan tumbuh bersemi
Ini kenapa ya?
Yasmin berhentilah menjadi kambing.
Ini yang ingin saya utarakan tentang keadaan saya saat ini:
Saya hanya ingin diperlakukan dengan baik. Kalau saya sudah mengutarakan pendapat saya. Tolong pahami dan jangan dimaknai berganda. Karena saya sudah berusaha yang terbaik. Bisakah menghargai keadaan saya??
Saya menginginkan kemerdekaan hidup dengan tidak seorangpun menuntut saya menjadi ‘seseorang’ yang tidak saya inginkan.
Kalau saya bilang, saya tidak peduli dengan apa yang terjadi di lingkungan kerja, tolong hargai sikap profesionalisme saya bahwa saya memang tidak peduli dengan keadaan subyektif disekitar saya. Saya hanya mengerjakan pekerjaan saya dengan baik. Kalau saya mengeluh, itu karena masalah ada dalam diri saya. Dan saya akan kembali mengerjakan apa yang menjadi tanggung jawab saya.
Pada akhirnya saya yang harus mendefinisikan Yasmin kembali. Bukan lagi menjadi kambing pendiam atau pura-pura menjadi kambing yang sok baik-baik saja tapi jadi racun buat dirinya sendiri dan orang lain.
Pada akhirnya saya yang harus kembali mendefinisikan diri dan menyuarakan bila perlu, apabila seseorang menuntut saya menjadi seseorang yang tidak saya inginkan.
“Yasmin percayalah, akan ada tiba waktunya. At that time, you’re ready to blast on. Kamu sudah punya makna buat diri kamu sendiri, sudah sangat jelas. Kamu tahu apa yang kamu mau. Kamu hanya butuh waktu buat menyelesaikan semuanya, dan waktu akan memberikan waktunya buat kamu”, seorang sahabat menyejukkan hati saya.
Terkadang kita butuh mendengarkan sahabat-sahabat yang benar-benar tulus dalam kehidupan kita. Dan saya selalu sepakat, ada orang-orang yang punya bahasa jiwa yang sama. Ketika saya mengobrol dengan orang-orang seperti ini, saya merasa kehangatan luar biasa. Mereka lebih dari seorang teman, mereka diciptakan sebagai jiwa-jiwa yang tulus, yang benar-benar ingin mengenal kita. Benar-benar ingin bersahabat dan mengulurkan tangan mereka saat saya butuh.
Pada akhirnya, saya membuat definisi saya sendiri.
Yasmin diatas Vanya, 7 June 2009
...dan, siapakah Vanya ituuuu?
ReplyDeleteMenurutku, apa yang kita jalani sekarang, kita lakukan, perubahan yang terjadi,s emua itu adalah jati diri kita Mi'. Terbebas dari apa anggapan orang atas kita yah. Kamu dan semua pengalaman kamu adalah jati diri kamu. Nggak seharusnya orang protes: "Ini bukan diri kamu lagi!" begitu.... kamu adalah Yasmin si AE, amik-nya para sepupu, tante ami'-nya para ponakan, dan amoy-nya kakak2..hee...begitu dehh
Haha benar, sebenarnya saat ini sedang protes pada satu keadaan dan berharap bs mengontrol diri lebih baik.
ReplyDeleteHuaaa... I love our biggest fam :))
Dan si Vanya itu nama karpetku spuu, hehe