Bulan Juli ini seperti mimpi buat saya. Saya ga pernah memimpikan seseorang datang kepada saya hanya untuk mengatakan semua mimpi-mimpinya yang ternyata adalah mimpi saya. Saya bahkan tidak pernah benar-benar serius menginginkan kedatangan orang seperti ini dalam hidup saya. Karena saya tidak yakin, ia ada dan akan datang didepan saya.
Pun saya tidak berani meminta lebih ke Allah tentang pertemuan ini. Jadi saya selalu mengurungkan niat saya meminta kepada Allah kemudian menyibukkan diri dengan permintaan-permintaan yang lain. Saya jauh lebih menikmati semua kegiatan saya seorang diri. Menghabiskan waktu untuk bekerja, mengerjakan apa yang saya senangi, melukis, bersepeda, menghabiskan waktu di toko buku, makan shasimi, atau menghabiskan waktu bersama teman-teman.
Satu waktu, seorang teman bertanya kepada saya, Yasmin kapan kamu ada rencana menikah? Dan selalu dengan pasti saya akan selalu menjawab tidak tahu. Kalau ada 10 daftar target yang harus saya kejar, target ini akan menjadi target paling akhir. Karena saya ga pernah tahu rencana ini.
Silih berganti, teman-teman saya menanyakan masalah komitmen. Hingga mau ga mau, saya harus duduk didepan Neo (my laptop) kemudian berpikir dan menulis seperti ini.
Terdiam cukup lama, namun akhirnya saya menemukan jawaban atas pertanyaan itu, saya benar-benar mau menikah kalau saya bertemu dengan pria yang membuat saya bilang, “I am home”. Meski ga kebayang siapa pria yang bisa membuat saya merasa pulang ke rumah dan bagaimana rasanya pulang ke rumah.
Saya tahu saya manusia yang tidak bisa diam, saya akan terus berlari, mengumpulkan pecahan demi pecahan mimpi saya, sedikit egois dengan ‘dunia yang diciptakan embunbantal’ dan saya bisa menghabiskan kehidupan saya seorang diri. Saya hanya berharap disaat saya dipenuhi oleh “dunia saya sendiri” dia datang menjemput saya dan ketika saya melihat wajahnya, saya bisa tersenyum kemudian menghampirinya.
Setelah menemukan jawaban itu, saya memberanikan diri untuk membicarakan keinginan ini kepada Allah di satu malam. Melepaskan rasa ego saya, melepaskan keangkuhan saya selama ini, dengan segala kerendahan hati, saya meminta-Nya memberi saya kesempatan bertemu pria ini. Beri kesempatan itu Allah. Beri saya kesempatan. Amin.
Waktu…
Waktu…
Waktu terus berjalan.
Detik demi detik yang akhirnya membawa saya juga pada jawaban doa malam itu.
Seorang pria tiba-tiba muncul di bulan Juli ini. Saat itu kami duduk bersama dan dia menceritakan semua tentang mimpi-mimpinya. Dia terus menceritakan bagian demi bagian dirinya. Tentang semua keinginannya.
Tebak apa? Dia me-copy paste semua mimpi saya. Tentang gambaran masa depan saya. Tentang semua hal dalam hidup saya.
Saya memandang wajahnya lama-lama. Memandang senyumannya, memandang cara ia tertawa dan bagaimana dia membuat saya tertawa sampai perut kesakitan. Saat itu juga saya menyadari saya sudah menemukan jalan pulang ke rumah.
“Finally, I am home. I found him. Yasmin, you are home now…”
Pria itu membuat caranya sendiri untuk mendefinisikan rumah. Tanpa saya minta, tanpa saya arahkan, tanpa saya harus ceritakan lebih dulu definisi rumah masa depan saya. Yang saya tahu, Allah punya cerita dibalik ini semua.
Terlalu banyak pertemuan tidak disengaja, terlalu banyak ruang dan waktu yang sama dimana ada saya dan pria ini. Berkali-kali. Dan tak sedikitpun kesempatan yang kami buat untuk bisa saling bicara. Allah tidak menyerah begitu saja, Ia masih saja memberi kami kesempatan. Allah menjawab doa saya saat itu. Ia benar-benar memberi saya kesempatan untuk bertemu dengan pria ini, dan kami pun saling bicara.
Saya tahu, ini baru awal dari bab baru kisah embunbantal dan pria ini. Saya tahu, baginya pun kisah ini berawal sangat tidak mudah. Karena saya dan dia punya dunia masing-masing sebelum perjalanan pulang ke rumah. Hanya ada satu keyakinan bahwa saya dan pria ini harus bertemu untuk membicarakan sebuah rumah.
Rumah dimana ada saya dan pria ini.
Terimakasih Allah, terimakasih.
Mengingat posting sebelumnya:
Jakarta, 30 Juli 2008
Saatnya untuk memilih
Terlalu banyak cerita yang ingin saya share tentang perjalanan saya di kota ini. Betapa saya sangat berterimakasih atas jalan kehidupan yang saya jalani. Tapi ada satu hal penting yang sebenarnya harus saya pikirkan. Dan yang terjadi saya selalu pura-pura tidak terjadi apa-apa sampai detik ini.
Kalau boleh jujur saat kehilangan seorang yang paling disayang, justru menggerakkan saya sampai seperti ini. Bukan karena terluka kemudian menforsir hidup saya untuk pekerjaan. Bukan. Sama sekali bukan itu.
Saat saya kehilangan, saat itu pula saya harus menggerakkan diri menyusun mimpi saya sendiri. Bahwa hidup harus terus berjalan dan belajar untuk menikmati setiap detik apa yang saya lakukan untuk mengejar mimpi itu.
Dalam mimpi baru itu hanya ada saya sebagai tokoh utamanya. Saya tidak menambahkan tokoh lain untuk mewujudkan mimpi bersama-sama.
Beberapa waktu lalu, mantan supervisor saya menelpon saya khusus untuk mengatakan “Ayo min, ambil keputusan. Sudah saatnya kamu menentukan pilihan”. Ya memilih tokoh lain yang akan mewujudkan mimpi saya kemudian mengkolaborasi mimpinya kedalam mimpi saya juga. Saat itu saya hanya tersenyum dan mengalihkan pembicaraan seperti biasanya.
Di lain cerita, saat saya bersama manajer saya sedang menuju press confrence Hero di Pacific Place, saya berjalan cepat didepannya. Kemudian terdiam melirik seorang pria di dalam butik Emporio Armani. Ia sedang memilih dasi dan tanpa saya sadari saya berjalan mendekati butik itu. Manajer saya memanggil-manggil saya, “Min…min…lewat sini”
“Eh iya mbak…sori ada cowo’ lagi milih dasi. Kayaknya butuh bantuan deh mbak, hehe”, canda saya yang sebenarnya serius.
“Elu tu ya Min…katanya kerjanya sales..katanya marketing, tapi jual diri aja ga bisa. Masak sampai sekarang ga ada yang nyantol sih min…”, manajer saya ketawa ngakak. Biasanya perbincangan seperti ini memang paling enak dibikin bercanda.
Terkadang teman-teman kantor suka menjodohkan saya dengan siapapun yang mereka temui. Bahkan mereka bisa membayangkan undangan pernikahan dengan nama saya bersanding dengan pria yang baru saja ditemui 15 menit lalu. Saya hanya menikmati semua perbincangan yang ga pernah jelas arahnya itu.
Jauh didalam hati saya, saya tahu kemana saya harus meminta. Kalau saya tidak meminta, maka Tuhan juga tidak akan mendengarkan apa yang saya minta. Dan sampai detik ini, saya masih angkuh untuk tidak minta satu hal ini. Saya tahu, saya buruk sekali untuk tidak meminta. Saya tidak berani menghadapi sesuatu yang serius didepan mata saat ini kecuali masalah target dan omset perusahaan.
Sampai-sampai teman saya menyebut saya si wanita takut komitmen. Karena saat saya di telepon seorang pria, saya tidak tahu harus melakukan apa dan saya memutuskan untuk tiba-tiba tidur begitu saja seakan-akan tidak mendengar bunyi telepon itu.
“Wake up mince! Mau sampai kamu takut?? Ayo hadapi!” begitu ucapan salah satu penulis di lantai satu. Dan biasanya, yang paling enak menghadapi situasi seperti ini, adalah mengalihkan pembicaraan.
Pembahasan ini akan terus menggantung selama saya mau. Selama saya suka. Dan akhirnya satu persatu tokoh yang mencoba dekat dengan saya, menghilang. Saya tahu, saya telah melewatkan diri saya untuk menjadi perempuan beruntung bersama salah satu diantara mereka.
Bisa dibilang saya cukup bodoh melewatkan satu momen. Misalnya saja, saat seorang pria yang menjadi klien saya bertemu di dalam pesawat, kemudian mengajak saya menonton bioskop, saya baru membalas sms ajakannya dua hari setelah pertemuan itu. Yap..saya selalu melewatkan momen-momen itu. Hingga mereka menarik diri.
Atau saya membiarkan telepon saya berdering terus menerus tidak saya angkat, karena saya lebih memilih tidur. Jelek. Iya jelek. Saya akan berpikir berpuluh-puluh kali jika diajak keluar.
Mungkin saat ini, yang saya butuhkan adalah berbicara kepada diri saya sendiri. Mengajaknya berkompromi untuk membuat satu mimpi bahwa suatu saat saya harus meminta kepada-Nya. Kemudian berusaha menemukan tokoh itu.
Kalau saya belum bisa menentukan pilihan, bukan berarti saya tidak mau tahu dengan masalah ini. Saya hanya diminta untuk menunggu. Karena saya tahu, tokoh itu sudah ada diluar sana. Saya hanya perlu mencari dan meminta kepada Tuhan untuk dimudahkan cara untuk mencarinya.
At Sabine room, 26 July 2009

Love someone, not to make you content;
ReplyDeletebut love that one, whenever you both already contented.
love u...love u...love u..love u... :)
ReplyDeleteagree :)
ReplyDeletei love u too :)
ReplyDeleteAi lap yu tu spuuu,, hihihi
ReplyDeleteHai spu..jadi ga enak ketahuan...:D
ReplyDelete