Sunday, March 30, 2008

Rumah untuk embun bantal

“Nanti kita akan pindah ke rumah baru Mik, disana kamu bakal punya kamar sendiri!!”

 “Kamu punya tempat tidur sendiri dan meja belajarmu baru”

Ini adalah percakapan pertama saat gw akan pindah dari kota kelahiranku, Duri, Riau ke salah satu kota di Jawa Timur, tempat ibuku dilahirkan, Madiun.

Pulang ke Jawa adalah hal yang paling menyenangkan, setelah perjalanan 3 jam ke ibu kota, Pekanbaru dan naik pesawat selama 1,5 jam yang menguras isi perut seorang anak kecil. Perjalanan akan dilanjutkan dengan naik kereta api. Ini adalah bagian yang paling menyenangkan. Sejak itu pula gw suka naik kereta api.

“Nanti kamu bisa memilih tempat tidurmu di kereta, mau dibawah atau di kursi”

 “Sekarang coba gelar korannya, pakai tas buat bantal! Seru kan!!”, ujar mama sekali lagi.

 

gw ga ngira kalau itu adalah perjalanan terakhir dari pulau Sumatra, tempat gw meletakkan masa kecil.

Main di lumpur dengan sepatu boot, menunggu hujan tiba dan memakai baju renang, menunggu sinterklas membagikan permen dengan mobil pemadam kebakarannya, naik sepeda roda empat dengan boneka panda besar dibelakang jok, tidur didalam lemari, memakai sepatu hak mama dan lipstiknya, ga lupa memasang kalung milik mama di leher gw,

pura-pura tidur biar diangkat papa, menunggu satpam pergi agar bisa masuk ke kolam renang, dikejar anjing, main di lapangan golf terlarang, berkemah dengan kedua kakak dan masuk ke hutan lindung sendirian tanpa satu orang pun tahu…hihi…masa-masa yang paling menyenangkan. Tapi ga tau lagi, kalau dulu ketemu Harimau.

 

Bicara soal mama, mama adalah orang yang paling demokratis. Mama itu tipe melihat anaknya dari jauh. Karena itu pula, sudah hampir 7 tahun gw pisah dengan mama. Huhu jadi kangen…

Mama orang yang paling senang duluan kalau anaknya senang, tapi kalau gw jatuh, mama tahu, gw bisa bangkit sendiri. Mama Cuma bertanya, apa yang km butuhkan. Setelah itu, gw akan mencari tahu sendiri mana yang baik dan tidak baik.

Waktu gw pindah ke Jakarta, mama Cuma bilang, “Banyak baca Al-Fatihah, sabar ya dengan segala cobaan, berjuanglah untuk hidupmu”

Sejak itu gw tahu, gw harus bisa mandiri.

Hoho masih inget pertama di Jakarta. Jadi editor gadungan, dimaki-maki karena editanku sembarangan (thanks jup for my first job in this town), kegiatan diisi dengan menulis dan menulis, sampai ngetikin skripsi anak kampus di rental komputer (makasih ya mas Didi). Semua dijalanin…semua ada duit, duitnya diliatin terus…hehe.

Sekarang sudah 1 tahun terlewati. Mulai terbiasa dengan semua hirup pikuk yang ada di Jakarta. Ritme mulai bergerak cepat.

Waktu di Surabaya selama 5 tahun, gw pikir itu adalah kota terakhir. Gw akan berhenti disana dan menghabiskan masa hidup gw didunia disitu.

Ternyata semua perkiraan berubah…

Gw masih ga tahu, kemana lagi kota yang akan dituju. tidak pernah tahu adakah jalan untuk pulang. tidak pernah tahu apakah akan menetap di kota ini atau tidak. Tidak ada yang menghentikan langkah.

Karena sampai saat ini masih terus berlari…daripada pusing

Kita akan membuat bumi ini rumah kita :)

 

 

 

 

5 comments:

  1. hiks...iya, sinterklas bagiin permeeeen...aku kangeeeeeeen :((

    ReplyDelete
  2. kikikikkk...dulu seru banget ya...nungguin dibelakang rumah..padahal permennya juga bisa beli di warung....

    ReplyDelete
  3. Hahahha... menurtku rumah bukanlah bentuk fisik.. tapi kenyamanan.. Dimanapun kamu tinggal dan kamu nyaman disitulah rumah kamu berada..

    ReplyDelete
  4. Wah senang punya pengalaman segitu banyak. Riau, madiun, surabaya dan jakarta. Kalau saya sejak lahir, sekolah, kerja sampai nikah di satu kota, Surabaya. Memang sudah saya niatin kok mbak Baiq.

    Tapi kalau jalan-jalan keliling Indonesia, beberapa kali sempat. Prinsipnya kalau tidak tetap bolehlah ke luar surabaya, tapi kalau menetap no way.

    Karena saya tidak bisa menemukan lontong balap, rujak cingur dan soto ayam dan daging seenak di surabaya. He.. he..

    ReplyDelete
  5. untungnya saya ga hobi makan nih...jadi mau dimana saja..hayukkk...mari berkeliling indonesia

    ReplyDelete