Friday, June 29, 2007

PERENUNGAN SOAL PEREMPUAN DAN PRIA

Ini adalah obrolan saya dengan temen saya yang feminis abis, mungkin bisa jadi perenungan…

Mik sorry ya baru kirim sekarang. Aku sibuk..hehehe. Btw soal obrolan kita kapan hari itu aku jelasin ya? Aku ga ngarep kamu setuju pemikiranku tapi ini yang aku baca dan pahami. Aku inget simone de beauvoir bilang perempuan itu cuma kaum kelas dua, si
Freud aja bilang cewe tu ga beguna karena ia tidak punya kelamin laki2. Alhasil banyak gerakan feminis yang muncul sampe aku baca jurnalnya Gadis Arivia.

Cewe kudu mapan lahir maupun batin. Di sisi lain aku setuju kita cuma kaum yang disisihkan tapi di sisi lain ga juga sih mik. Sodaraku bilang cewe mau gimana2 juga
buntutnya ya ke dapur,sumur, ma kasur. Ia udah ditekan dari banyak sisi.that's why men hate career-women.

Permasalahan yang kamu bilang kalo cewe yang mau hidup ma cowo kudu terima apa adanya aku kok agak gregetan ya. Habis kenapa ga dibalik mik, kenapa ga cowo yang mau hidup ma cewe itu kudu terima cewe apa adanya. Ga perlu ada fun,fearless female yang 'basi'. Jargon-jargon omong kosong di cosmopoltan yang buntutnya cuma ngajarin kita how to please guy in bed?! hate that!

Aku dredegan mik di sini jadi ga tertata habis disebelahku ada cowoknya. takut deh...hehehe

Mik, saat kita masuk ke jenjang perkawinan. Perhatikan deh esensi kamu sebagai Baiq Yasmin H sedikit2 luntur kalo suamimu namanya Bambang, yang muncul tu ibu Bambang bukan ibu Yasmin.

Yasmin tidur mungkin juga mati suri dengan rutinitas, pekerjaan rumah tangga, dan sebagainya. That's why aku harap calon suamiku ga biarin cita2ku pupus dan aku end-up like my mummy. Stereotipe ibu rumah tangga biasa yang pake daster,masak,dan nyusui bayi. Aku ga benci hal itu karena itu kodrat tapi yang aku benci adalah posisi kita yang ga bisa kita tentuin sendiri.

Maybe i'll end-up as regular house-wife. tapi i can asure you, aku ga akan biarin ke-dewi-anku habis, meratap dirutinitas keseharianku sebagai nyonya. Tanggapanmu mik?


Pendapat pribadiku.

Perempuan Cuma kelas dua? Emang! Aah…Itukan Cuma omongan si Freud soal psiko analisisnya yang payah. Lebih dari itu Wi, gimana kita berperan sebagai perempuan aja.

Emang ga mudah kalau kita terus banding-bandingin diri kita sama peran pria yang punya kedudukan lebih tinggi di sistem masyarakat dan budaya kita.

Sekarang aku tanya, kamu kalau dilahirkan kembali apa mau jadi pria?

Enak ya pria, bisa keluar rumah seharian, bisa bekerja sesuai keinginan, bisa melakukan apa saja yang diinginkan, bisa ga perlu mikirin perjaka atau tidak. Semua serba enak!!

Tapi apa emang betul, emang enak jadi pria?

Toh kamu seneng juga kan sama stigma di masyarakat, kalau pria harus bekerja dan punya tanggung jawab besar. Toh kamu juga seneng punya suami yang punya duit banyak dan bertanggung jawab pada keluarga. Sekarang coba kamu bayangin seorang pria yang lemah dan tidak bisa bertanggung jawab pada keluarga lalu diremehkan??

Mereka yang laki-laki kedapetan nasib seperti itu Cuma bisa diam. Ga banyak komen dimedia massa atau mengeluh ke LSM. Ya emang itu tuntutannya pria dimasyarakat. Yang ada adalah kita wajib memberi dukungan moril. Dibalik kesuksesan pria selalu ada wanita dibelakangnya. Dan aku rela berada dibalik kesuksesannya. Karena dia juga bakal jadi ayah dari anak2 kita. Bukan itu membanggakan.

Bayangin aja, suami yang harusnya sebagai pelindung ekonomi, pelindung keluarga semua diserahkan sama wanita. Kita semua pasti menyebutnya pria gagal. Ck..ck…sekarang kalau dibalik, ketika wanita ga bisa masak, ga bisa nimba sumur dan ga bisa bercinta dengan gaya hebat, apa dia disebut wanita gagal dalam masyarakat??? Si pria selingkuh? Ya pasti yang disalahin si pria.

Shit…bukannya aku membela kaum pria. Aku emang ga pernah setuju dengan gerakan feminis yang omong kosong.   

Makanya kita memang harus bagi2 tugas. Toh aku senang-senang saja kalau tinggal terima duit dari suami. Haha…

Kamu tanya : Kenapa ga dibalik, cowok harusnya bisa hidup dengan cewek apa adanya? Ntu dia Wi…beban yang diberikan kepada masyarakat jauh lebih besar dibandingkan yang diterima sama cewek itu. Karena itu dia selalu pengen jadi superhero dalam keluarga.

Apa sih eksistensi kita sebagai perempuan? Dapur, sumur ma kasur???

Kok aku kurang setuju. Ini hanya masalah mindset kita tentang diri kita sebagai perempuan. Dapur, sumur, kasur..aah…bukannya itu juga menyenangkan…

Jargon2 kosmopolitan. Siapa yang suruh baca? Ngapain diikutin. Tapi toh juga menyenangkan tau gaya-gaya bercinta. Nanti tinggal dipraktekkan..haha…Wi, semua yang kita lakukan dan kita mau jadi apa adalah pilihan kita. Mau jadi wanita rumah tangga saja atau plus wanita karier. Tuhan udah kasih kepercayaan ke kita sebagai perempuan.

Ibu kita memang terlalu sibuk mengurus suami dan anak2nya karena dia merasa punya tanggung jawab untuk mencintai keluarga sepenuh hati. Aku ngerasa peran itu justru keren banget. Biarkan pake daster dan bau bawang, tapi kamu ngerasa ga, satu-satunya orang yang peduli sama hidup dan matimu Cuma ibu kamu.

Betapa pun hanya dia seorang ibu rumah tangga, dia ga berhenti berdoa yang terbaik buat anak2nya dan ingetin tiap pagi, udah minum susu belum?? (duh, inget mamaku aku pengen nangis).

Aku selalu inget mamaku, tapi bapakku?? boro-boro, Cuma minta duit aja kali Wi, kasian banget ya bapak kita… bapakku sih, hehehe

Bukannya aku ga setuju dengan gerakan feminismu. Dari dulu aku emang ga pernah ngikutin kuliah gender, feminis, dan berbau-bau perempuan. Buatku masalah seperti ini Cuma diri kita yang bisa ngatasinya. Ilmu sosial mana ada yang bener sih Wi, yang ada Cuma salah dan pembenaran saja.

Sekarang aku nanya balik lagi ke kamu, kalau ada ibumu dianiaya sama suaminya, apa yang akan kamu lakukan?? Kamu pasti Cuma bisa diam dan berdoa. Mau lapor polisi, coba saja…

that’s life dude…

eniwei, kalau kamu bilang kamu feminis, mungkin aku jauh lebih feminis deh…arghh…

 

3 comments:

  1. Pendapat pribadiku...

    Laki2 dan perempuan dengan segala kelebihannya telah di ciptakan untuk bisa mengemban tugas yang di bebankan kepadanya...
    So ... buat berdebat tentang kelebihan laki2 diatas perempuan kayaknya ga perlu dech.. karna ga akan ada gunanya...

    Laki2 dan perempuan sama-sama adalah pemimpin... Laki2 pemimpin keluarga, perempuan/istri memimpin dalam rumah tangga suaminya ( ina ingat pernah baca blognya siapa ya.. lupa.... intinya gini... Suami yang membuat kerangka, istri yang mengisi kerangka dan menjalankannya...)
    Laki2 dan perempuan sama-sama punya kesempatan bekerja yang sama... dengan catatan bisa menjaga hijab (biar ga jadi dosa untuk suami atau untuk orang tuanya)
    Laki-laki dan perempuan memiliki kesempatan beramal ibadah yang sama...
    so apa bedanya laki2 dan perempuan.. ? ga ada kan... ehhehehehe ...

    Mau tau kelebihan perempuan dari laki2...
    perempuan diciptakan untuk bisa melakukan multi task ... keren kan....!!!
    perempuan ditanggung oleh 3 orang laki2 apabila ia belum menikah... Ayahnya, saudara laki2nya dan pamannya (saudara lelaki ayahnya)
    .... dan masih banyak lagi....

    So... hehhhehee...
    nikmatin aja ya apa yang di berikan Sang Pencipta kepada kita... ga usah pake complaint... Insya Allah hidupnya jadi lebih damai dech....

    ReplyDelete
  2. maaf, aku nggak bisa setuju dengan pendapat bahwa perempuan adalah makhluk nomer 2. Aku ndak bilang bahwa perempuan dan laki-laki itu sama. Mereka berbeda, dalam bentuk fisik dan juga emosi. Tapi, itu ndak berarti bahwa laki-laki dan perempuan ndak bisa mendapatkan kesempatan yang sama. Laki-laki dan perempuan punya kesempatan yang sama menjadi seorang direktur perusahaan. Punya kesempatan yang sama untuk mendapatkan promosi. Dan juga punya kesempatan yang sama untuk ngemong anak. :)

    Permasalahan domestik istri dan suami (laki-laki dan perempuan), menurutku bukanlah permasalahan utama dalam gender. Permasalahan mengenai siapa yang bekerja dan siapa yang ada di rumah adalah hasil rembugan berdua. Yang harus disadari oleh suami adalah bahwa perempuan juga punya kesempatan yang sama untuk bekerja dan mengaktualisasi dirinya. Tapi, kalau perempuan sendiri mempunyai keinginan untuk tinggal di rumah dan mengasuh anak dan memberi dukungan kepada suami, ya ndak apa2.

    Kutipan dari si tukang ngiler :
    "Bayangin aja, suami yang harusnya sebagai pelindung ekonomi, pelindung keluarga semua diserahkan sama wanita. Kita semua pasti menyebutnya pria gagal. Ck..ck…sekarang kalau dibalik, ketika wanita ga bisa masak, ga bisa nimba sumur dan ga bisa bercinta dengan gaya hebat, apa dia disebut wanita gagal dalam masyarakat??? Si pria selingkuh? Ya pasti yang disalahin si pria."

    Ada dua hal yang bisa kukomentari dari pendapatmu ini. Pertama, yang kamu ungkapkan ini adalah budaya yang sudah mengakar dalam masyarakat. Stereotip yang saking dalemnya sampe sudah dianggap kebenaran mutlak. Dan apakah kita harus menuruti strereotip yang ada ini? Kalau iya, berarti kita mengikuti apa yang ada di masyarakat dong. Kita ndak merubah sesuatu menjadi lebih baik. Ingat, stereotip itu ndak selalu bener. Oh ya, satu lagi. Dalam masyarakat itu ya, kalau cewek ndak bisa masak, ya jelas dia disalahin dong. "Wedok kok gak iso masak, gak iso resik2" Kalau si pria selingkuh? Yang disalahin ya istrinya, "Pasti dia ndak bisa nyenengin suami". Ada juga sih yang bilang, "Ah, laki-laki emang gitu, suka selingkuh." Tapi itu sepertinya sudah dimaklumi ya kalau lelaki selingkuh. Lah kalau cwek yang selingkuh. Pasti dibilang kegatelan dan setumpuk asosiasi jelek lainnya tentang cewek. Tapi sekali lagi, stereotip itu hanya budaya, yang bisa dihapuskan kalau kita mau mengawali.

    "Aku selalu inget mamaku, tapi bapakku?? boro-boro, Cuma minta duit aja kali Wi, kasian banget ya bapak kita… bapakku sih, hehehe"

    Iya mik, itu kamu. Kalau aku sih, Bapak sama ibuku sama aja. Dua2nya peduli banget sama idup matiku. Sama seperti aku peduli mati sama bapak ibuku. :)

    Ingat, permasalahan gender itu sebenarnya nggak hanya berujung kepada role dalam keluarga. Lebih lanjut, equality antara laki-laki dan perempuan akan mengakibatkan kemakmuran negara, perbaikan gizi, meningkatnya kualitas pendidikan, rendahnya tingkat kematian ibu melahirkan, naiknya tingkat kesehatan perempuan dan yang jelas dihargainya hak-hak asasi perempuan. Jadi, kenapa nggak berjuang demi gender kalau hasilnya adalah hal2 yang positif ini? (meskipun di Indonesia perjuangan gender rada disalahartikan sih, tapi kita bisa make it right kan?)

    ReplyDelete
  3. hahahahahaahhahaha, jupri....aku sudah nebak, kamu pasti kegatelan mau ngomong gender..ups...no comment kalo yang ngomong kmu...peace

    ReplyDelete