Monday, September 1, 2008

Four people you will meet in life

First person is you,

second person is the one you love most,

third person is the one who love you most,

and the fourth is the one you spend the rest of your life with.



Sadly, in real life, these three people are usually not the same person.



Thursday, August 28, 2008

Siapa orang paling penting dalam kehidupan embun bantal?

Siapa orang yang paling berarti dalam kehidupan embun bantal?

Siapa orang yang menjadi daftar pertama dalam doa embun bantal?

Jawabannya Cuma satu : Mama. 

Ibu satu ini suka tiba-tiba nongol dengan deringan teleponnya hanya sekedar bilang, mama lagi nonton gosip nih, eh di Mamamia mama jagoin si ini lhoo... Betapa sederhananya nyokap gw, tapi gw tau dari celetukan dan tiba2 muncul dikehidupan gw sehari2, tidak ada yang bisa menggantikan posisi nyokap dihati gw. Tidak sekalipun seseorang didunia ini yang bisa menggantikan posisinya, tak terkecuali.

Satu minggu, tiba-tiba nyokap hilang dari peredaran. Radar gw pas itu lagi ga peka. Kok tumben 1 minggu ini nyokap tenang2 aja ya, ga ada yang mau dilaporin ke gw, sama sekali. Dan gw sms lah : Mah, aku ga ada pulsa, telpon amik donk.

2 jam kemudian, nyokap gw telpon.

“Hallooo..mama lagi di Blora..”

”Hah ngapain mah disana?”

“Mama mau beli laptop di Blora”

Tuing*

Sejak kapan duo ortu itu menggunakan laptop??

Yah gw tau, bapak* punya kebiasaan aneh membeli barang. Ini uda keempat kalinya ia berusaha membeli laptop tapi tidak pernah berhasil menggunakannya sekalipun. Masih saja pake rental komputer

Kok ga jera-jera…Huerannn…

Lagian ngapain harus sampai sana juga.

Gw balik ke pertanyaan awal tentang kenapa nyokap menghilang.

“Mama ini, uda seminggu ga laporan. Mama kemana aja??”

“Aduh mama sibuk. Semua orang pada sibuk disini. Mama ngurusin Sarah (Sarah adalah nama anak asuh Nyokap), Mama juga ngurusin anaknya Emak (Emak, bibi yang bantu di rumah) mau masuk pesantren. Pokoknya mama sibuk ini, udah ya..dadaaaaa”

 

Tut.tut..tut…

 

Iya 3 anak mama uda pada pindah kota, ga ada yang nemenin di Madiun. Alhasil mama dengan inisiatif tingkat tinggi, punya anak asuh. Dan seneng banget dipanggil Bunda oleh anak asuhnya.

Sedih karena kenapa gw sebagai anak, ga bisa bahagiain mama dengan kehadiran gw sebagai anak. Senang karena ada yang nemenin nyokap. Prihatin kenapa harus ada anak asuh lagi. Senang karena nyokap mikirin nasib anak lain. Lah…apaan sih mik. 

Yah meskipun nyokap merasa kesepian di Madiun, gw ga percaya. Perasaan hampir tiap bulan ke Jakarta. Terakhir nyokap datang, ngoroknya ga kuaaat….

Yah mama itu emang penyemarak hidup gw selama 24 tahun ini.

Jadi inget, kata-kata nya yang bikin gw nangis pas ulang tahun ke 22. Mama sms :

Selimut warna kuning jg masih membungkus bayi itu masih mama simpan rapi di almari tak terasa sudah 22 tahun sama umurmu.selamat ulang tahun semoga selalu dlm lindunganNYA. From:mama.4.01am

 

Ga tau kenapa nyokap jadi tiba-tiba puitis. Tapi itu Cuma sementara, ulang tahun2 berikutnya :

Telpon pertama, pkl 09.00 : Mik tau ga, si anjar, anaknya emak, ke Yogya, tur sekolah, la kok muntah-muntah.

Telpon kedua, pkl.14.00 : Mik, kamu tau ga ada gosip si Roy Marteen ketangkep. Bla bla…

Telpon ketiga, pkl. 19.00 : Eh, kowe ulang tahun ya?? Wuahahahah…mama lupa.

 

 

Ya inti kenapa gw menulis tentang nyokap gw ini, karena bulan ini nyokap berulang tahun. Dengan inisiatif tingkat tinggi, pagi-pagi telpon,

“Mik, km kok belum telepon-telepon mama sih?? Kan mama ulang tahun??”

“Iyaaa..ini juga baru bangun ma…”

 

“Mama mau hadiah apa?”

“Ga usah wes”

“Tenan???”

“Kok tumben kamu nanyain mama kado, kmu gajinya naik ya?”, curiga mode on

“yaudah kl ga mau dibeliin, aku tidur lagi”, trus merem lagi.

 

Yap ulang tahun ini, gw ikut bantu mama nyekolahin anak bibi di rumah. Soalnya mama orang paling semangat kl uda cerita hiruk pikuk di rumah. Mama langsung semangat menggebu-gebu ke pesantren dan kasih laporan per hari ke gw. Mendukung positif dan ikut mikirin kegiatan nyokap, itu yang dia butuhkan sekarang.

Selamat ulang tahun ma…

 

Love,

 

Your daughter

Monday, August 4, 2008

apa yang menjadi perhatian embun bantal saat ini?

Kopi rasa cincau.

Mau tau rasanya kopi rasa cincau? Resepnya : masukkan bubuk kopi 1 sendok, gula 2 sendok, dan masukkan creamer sebanyak yang kamu mau…aduk sampai warna berubah cokelat muda, kalau bisa warna cokelat muda keemasan…voila…rasakan kopi yang sudah menjadi rasa cincau :D Ini tidak disarankan. Selain mengubah rasa kopi, rasanya memang tidak enak. Sudah berkali2 embun bantal merasakannya dan tetap saja tidak enak :D'

Eclipse

Yap memang si edward memang menyita kehidupan embun bantal akhir2 ini. Tanggal 5 Agustus buku ke-empatnya akan turun, belinya harus lewat internet karena belum ada di toko buku kesayangan. Masih di halaman 200..karena posisi sementara eclipse direbut oleh Toto Chan, divortiare, traveler’s tale, dan the lovely bones.

Body Lotion

Kenapa benda ini menyita perhatian? Karena produk ini punya keunikan tersendiri. Sensasi di kulit, memberi kenyamanan dan wangi yang menenangkan terutama saat ingin tidur. Hmm gudnite embun bantal.

Permata – Kota – Palmerah

Melewati 4 pasar tradisional 2 kali sehari, pagi dan malam. Benar-benar membuat embun bantal frustasi dengan jalur barunya menuju kantor. Hingga pada weekend kemarin, embun bantal memutuskan berlibur ke rawamangun, habitat awal embun bantal. Hiks, home sweet home

 

Robert, kenapa kamu sayang?

Hp embun bantal names Robert beberapa waktu lalu ngambek ga mau sama embun bantal. Entah kenapa kali ini robert ga tahan banting, padahal Cuma dikit. Dan sekarang robert masih direparasi selama 3 minggu bahkan lebih. Robert cepat sembuh ya…

Imigrasi oh imigrasi

Semua serba duit bikin bete banget dan akhirnya embun bantal minta tolong ke satu wartawan buat tanya ke bagian dalam yang bilang sistem sedang bermasalah. Kepala imigrasi jakarta barat akhirnya kelimpungan dan minta bawahannya menangani berkas embun bantal..rasanya lega juga bekerja di media…fiuh..thankyou

 

Cantik itu mencintai hidup

Silvia, brand manager Nivea kemarin ngobrol banyak tentang cantik itu apa. Karena dia orang Jerman, dia bandingin cantik di Eropa dan di Asia terutama di Indonesia. Simak..terus simak…angguk-anguk tanda setuju…ketawa tanda setuju…tanyain hal2 ga penting versi embun bantal tanda setuju kemudian melirik produk oxygen yang belum dipasarin disini. Saat pulang, Sylvia kasih embun bantal produk itu. “I know it you want this” hehe… Cantik itu mencintai hidup. Jadi jika saat ini kita mencintai hidup yang diberikan Tuhan saat ini, tentu saja otomatis cantik….

Hmm…penjelasan yang tidak mencerminkan embun bantal sang intelektual..hmm tidak biasanya.

 

Pangan Nusa at 5 Aug…Hari Asi at 6 Aug…Fashion at 21 Aug…Lebaran at 28  Aug, 4 Sept, 17 Sept, KLASS every 2 weeks,  Inspiratorial Pendidikan, Olimpiade, Akhir Pekan...arghhh

Kapan embun bantal bisa ambil cuti ya? Hmmm semoga tgl 15 boleh…

 

Pertemuan kembali embun bantal dengan bebek-bebek bergelantungan

Ini mengingat postingan embun bantal tentang bebek2 bergelantungan. Dan kemarin embun bantal dipertemukan oleh takdir dengan bebek2 itu lagi. Kali ini tentu tanpa perasaan bersalah. Hoho…makanan paling enak di Pondok Indah Mal. Hmmm…

 

Tidak ada sate bahagia disini :(

Ini makanan favorit embun bantal. Sate depan kos di rawamangun dulu. Tiap kali bete, sedih dan kelaparan tentunya, makan sate ini bisa bikin embun bantal bahagia. Sekarang embun bantal harus mencari tempat mangkal sate lagi agar bikin embun bantal bahagia

 

Thursday, July 31, 2008

Hai tampan




Hai, perkenalkan namaku rofi…

Seorang embun bantal menamakanku

Gadis itu tidur disampingku, saat aku menangis.

Iya, aku menangis dan dia terus berceloteh padaku..

Aku tahu Ibuku sedang sibuk makan buah semangka

Gadis itu berusaha mengalihkanku, untuk tidak merengek-rengek meminta susu pada ibuku

Kata embun bantal, namaku tampan.

Ia juga memberi nama belakangku, Ismail

Konon, Ismail seorang nabi yang ikhlas

Si embun bantal bilang sekali lagi,

Diantara para nabi, Ismail anak yang berbakti

Dia ingin aku menjadi pria tampan, sederhana dan selalu ikhlas berbakti pada orang tuaku

Sebelum embun bantal mengembalikan kepelukan ibuku,

Ia berkata, dengan kata-kata yang belum aku pahami betul, tapi aku akan mengingatnya

“Selamat datang di dunia yang membahagiakan, tampan”, bisiknya seraya mencium keningku

-10 July 2008-


Pada akhirnya..

Yap surat itu akhirnya datang juga...alhamdulillah. Perusahaan saya akhirnya mengangkat saya sebagai pegawai tetap.


Semoga semua lancar...

Saatnya memikirkan yang lain...

Memikirkan impian yang lain, membuat plan lain...project impian saya tentunya. Dan itu harus terjadi dan harus dimulai di semester 2 ini.

Kadang saya merasa khawatir saya cuma bermimpi dan ga pernah berani mewujudkan karena kesibukan waktu bekerja. Tapi saya tahu, ketika saya sudah mendapat ketenangan seperti ini, sudah tidak ada alasan lain untuk tidak memulai satu langkah.

Another topic

Memang terlalu banyak cerita yang ingin saya share tentang perjalanan saya di kota ini. Betapa saya sangat berterimakasih atas jalan kehidupan saya sampai saya ada di kota ini. Tapi ada satu hal penting yang sebenarnya harus saya pikirkan. Dan yang terjadi saya selalu pura-pura tidak terjadi apa-apa sampai detik ini.

Saya tahu, dalam impian saya ini hanya ada saya sebagai tokoh utamanya. Saya tidak menambahkan tokoh lain untuk mewujudkan mimpi bersama-sama.

Beberapa waktu lalu, supervisor lama saya menelpon saya. Dalam perbincangannya, dia sempat mengatakan pada saya. “Ayo min, ambil keputusan. Sudah saatnya kamu menentukan pilihan”. Ya memilih tokoh lain yang akan mewujudkan mimpi saya kemudian mengkolaborasi mimpinya kedalam mimpi saya juga.

Di lain kesempatan, saat saya bersama manajer saya menuju press confrence Hero di Pacific Place, saya berjalan cepat didepan manajer saya. Tiba-tiba saya terdiam melirik kedalam butik Emporio Armani. Seorang pria sedang memilih dasi. Dan saya hampir meninggalkan manajer saya jauh di belakang. Saat manajer saya menyadari saya berbelok ke arah yang salah, dimana saya mau nekad masuk ke butik itu, manager saya langsung menyadarkan saya, “Min..min….eh lewat sini”

“Eh iya mbak…sori Kayaknya ada cowok sedang butuh bantuan buat milihin dasi deh mbak, otomatis..hehe”. Manager saya ketawa ngakak. “Elu tu ya Min…katanya kerjanya sales..katanya marketing, tapi jual diri aja ga bisa. Masak sampai sekarang ga ada yang nyantol sih min..” Biasanya perbincangan seperti ini memang paling enak dibikin bercanda.

Kalau sudah menyinggung soal pilihan, memang satu hal yang suka saya lewatkan. Kadang teman-teman di kantor suka menjodohkan saya dengan siapapun yang mereka temui dimana saja. Bahkan mereka bisa membayangkan nama saya bersanding dengan nama pria yang baru saja ditemui 15 menit lalu di sebuah undangan pernikahan. Saya hanya menikmati sambil lalu semua perbincangan yang ga pernah jelas arahnya itu. 

Jauh didalam hati saya, saya tahu kemana saya harus meminta. Kalau saya tidak meminta, maka Tuhan juga tidak akan mendengarkan apa yang saya minta. Dan sampai detik ini, saya masih sangat jelek untuk tidak minta satu hal ini. Saya tahu, saya buruk sekali untuk tidak meminta. Saya tidak berani menghadapi sesuatu yang serius didepan mata saat ini kecuali masalah target dan omset perusahaan.

Sampai-sampai teman saya menyebut saya si wanita takut komitmen. Karena saat saya ditelepon seorang pria, saya tidak tahu harus melakukan apa. Dan saya memutuskan untuk pingsan seakan-akan tidak mendengar bunyi telepon itu.

“Wake up mince! Mau sampai kapan?? Ayo hadapi!” begitu salah satu penulis di lantai satu. Dan biasanya, yang paling enak menghadapi situasi seperti ini, adalah mengalihkan pembicaraan ke topik pekerjaan. 

Dan pembahasan ini akan terus menggantung selama saya mau. Selama saya suka. Dan akhirnya satu persatu tokoh yang mencoba dekat dengan saya, menghilang. Saya tahu, saya telah melewatkan diri saya untuk menjadi perempuan beruntung bersama salah satu diantara mereka.

Bisa dibilang saya cukup bodoh melewatkan satu momen. Misalnya saja, saat seorang pria yang menjadi klien saya bertemu di dalam pesawat, kemudian mengajak saya menonton bioskop ketika kami sudah sampai di Jakarta nanti, saya baru membalas sms ajakannya itu setelah pulang kerja keesokan harinya. Yap..saya selalu melewatkan momen-momen itu. Hingga mereka inisiatif menarik diri.

Atau saya membiarkan telepon saya berdering terus menerus tidak saya angkat, karena saya lebih memilih tidur. Jelek. Iya jelek. Saya akan pikir berpuluh2 kali jika diajak keluar. Apakah nanti bisa membicarakan hal yang penting saja. Saya akan merasa aman dengan seorang klien yang aman buat saya.

Mungkin saat ini, yang saya butuhkan adalah berbicara kepada diri saya sendiri. Mengajaknya berkompromi untuk membuat satu mimpi bahwa suatu saat saya harus meminta kepada-Nya. Kemudian berusaha menemukan tokoh itu. 

 




Satu tahun perjalanan Embun Bantal

Kalau dihitung-hitung embun bantal sudah memasuki tahun kedua di kota ini. Dari yang sangat-sangat penakut di jalanan ibukota, gegar budaya karena harus hidup di pemukiman padat penduduk sampai akhirnya bisa menikmati perjalanan dari satu bus ke bus lainnya. Bisa menikmati semua keletihan akibat pekerjaan dan senangnya kalau sudah hari jumat, karena saatnya memikirkan akan ngapain saja weekend ini.

Waktu memang cepat berlalu dibanding ketika hidup di kota Surabaya dulu. Waktu juga benar-benar berarti disini. Kalau dihabiskan buat tidur saja, rasanya sayang. Kalau bisa weekend difungsikan untuk men-set up kembali pikiran dan paling penting manjain diri. Menikmati kekosongan waktu dengan menulis seharian, baca setumpuk novel, nonton bioskop sendiri karena ga perlu malu buat nangis sesenggukan, jalan ke mal hanya sekedar jongkok di toko buku atau makan yoghurt di Sour Sally.. hm yummy…

Pekerjaan Letih namun membahagiakan

Bicara soal kehidupan embun bantal disini. Tidak begitu banyak berubah menurut embun bantal sih. Tapi banyak versi teman-teman kantor bilang pada awal kedatangan saya di kantor itu, “Gila ya…kok ada AE kayak begituan..ga salah nih? ga banget modelnya” Haha…karena saya dari Jawa dan blass ga ngerti tentang dunia iklan. Penampilan saya juga ala kadarnya waktu itu. Hanya pakai kemeja executive dan celana kain warna hijau tua.

Pekerjaan yang menuntut saya terus belajar dan berlari. Tidak ada garis final, yang ada hanya babak demi babak pertandingan yang silih berganti. Level bisa sama, bisa naik ke satu tingkat. Tergantung strategi saya berlari.

Akhirnya tiba juga masa satu tahun saya di perusahaan ini. Begitu banyak air mata dan keringat yang mengucur untuk membuat pekerjaan semakin berarti. Bukan buat perusahaan. Tapi lebih tepat buat saya pribadi. Waktu saya drop dengan kinerja saya, para atasan paling membuat saya kembali maju. Teman di tim juga begitu baik, biasanya sepulang kerja, kami makan di Burger King dan membicarakan industri masing-masing. Dan betapa ringannya setelah itu, karena kami sama-sama mengalami hari yang berat.

Saat saya drop dari semangat saya menjual space iklan. Atasan saya memanggil saya ke ruangannya, kemudian mengajak saya menuju Plasa Senayan. “Kamu harus sering-sering lihat mal dan isinya. Kamu harus tau produk terbaru dari mereka, kalau perlu belilah”, ujarnya.

Dalam perjalanan ke mal itu, suasana diam menghujam. Dan dia tiba-tiba celetuk kepada saya, “Jangan pulang Yasmin, kamu harus berada di Jakarta. Atau kamu tidak sama sekali disini. Kamu sudah disini, tidak boleh pulang.” Kadang kata-kata seperti itu memang saya butuhkan untuk mencambuk semangat saya. Saya tahu, kalau basah jangan setengah-setengah. Saya tahu, kalau tenaga dan pikiran yang saya keluarkan harus bisa menghasilkan yang terbaik. Karena itu yang dilakukan teman-teman tim juga.  

Saya selalu ingat janji saya saat saya diterima di perusahaan ini. “Kalau perusahaan Anda, tidak memperkerjakan saya. Perusahaan Anda akan kehilangan pekerja potensial”. Saya tahu, saya terlalu pede untuk mengatakan itu. Calon atasan saya Cuma melihat saya lamat-lamat. Dan di penghujung satu tahun saya berada di perusahaan ini, saya masih ingin mengatakan kalimat itu lagi. Semoga semua lancar.

 Datang dan pergi

Dua bulan ini saya mendapati diri saya tertegun. Orang-orang di departemen saya, datang dan pergi. Dua dari empat orang angkatan saya, tidak lagi bekerja bersama saya lagi. Saya tahu semua ini sudah menjadi yang terbaik dari apa yang sudah diatur Tuhan. Saya juga tidak tahu apakah saya nantinya akan menyusul teman-teman saya.

Bisa dibilang, orang-orang di sekitar saya selama 1 tahun ini, membuat saya berada seperti di rumah. Saya masih ingat saat supervisor saya digantikan. Saya Cuma diam waktu itu. Buat saya, supervisor sangat membantu pekerjaan saya. Saya takut saya tidak bisa menemukan semangat itu lagi. Karena pekerjaan itu bukan masalah saya harus pintar dan cerdas. Tapi saya harus terus membakar diri saya untuk terus semangat.

Kemudian supervisor saya itu mengajak saya ke sebuah mal (kenapa selalu di mal? karena industri saya pegang memang mal dan fashion), dalam perjalanan, dia mengatakan banyak hal tentang arti sebuah semangat. Dia bilang, saya sudah bisa dilepas tanpanya. Sudah tidak perlu ada dia disamping saya. Dan bulan ini juga mantan supervisor saya itu memutuskan keluar dari perusahaan untuk hidup yang lebih baik. Waktu perpisahan itu, saya tidak mengatakan apa-apa lagi padanya. Tapi saya tidak bisa menahan diri untuk tidak menangis. Saya memang paling benci dengan perpisahan. Saya tidak menginginkannya. Jadi meskipun saya menangis. Saya tidak ingin mengucapkan kata-kata perpisahan. Dan tidak ingin mengucapkan apapun kepada supervisor saya itu.

Bukan saya cengeng kehilangan supervisor saya itu. Buat saya, dia tidak hanya membantu pekerjaan saya, tapi juga membantu saya menemukan diri saya. Memompa semangat hidup, memiliki keinginan dalam hidup dan belajar menemukan kesempatan disetiap detik. Saya benar-benar merasa kehilangan dia, mungkin karena tidak ada orang dekat dengan saya saat ini, selain atasan dan teman-teman di perusahaan ini.

Lagi-lagi saya mencintai pekerjaan ini

Saat ini saya sudah 3 bulan bersama supervisor baru, which is senior saya. Saya menemukan kesenangan bersama dia. Dia memang berbeda dengan supervisor saya yang lama. Kadang kami harus saling memompa semangat bersama-sama. Saya tahu dia sedang belajar pula mensupervisi saya. Saya senang, saya menikmati dia sebagai supervisor saya. Dia membuat saya lebih indipenden. Membuat saya belajar lebih tegas mengambil keputusan dan membuat perencanaan yang lebih matang. Saya tahu ketika saya dilepas dari supervisor lama saya, saya harus mengambil hikmah, bahwa etos kerja memang berasal dari diri kita. Siapapun yang bersama dan disamping kita, mereka memang paling berarti tapi tetap peran utama adalah diri kita sendiri.  

Satu tahun pelajaran saya di perusahaan ini, terlalu banyak hikmah yang saya dapatkan. Saya tahu, jika saya memasuki tahun kedua, berarti level mimpi saya harus dinaikkan. Saya tidak bisa berada pada level yang sama. Mimpi yang saya wujudkan di tahun ini menjadi tolak ukur perencanaan mimpi saya di tahun kedua. Kalau memang saya tidak berhasil masuk ke tahun kedua. Maka masih ada tempat lain yang bisa memberikan saya fasilitas dan peluang untuk mewujudkannya.

Pekerjaan adalah alat mewujudkan mimpi. Tapi mimpi yang sebenarnya harus terus berjalan. Semoga hasil di penghujung tahun ini bisa baik. Semoga.

 

Thursday, July 17, 2008

Kapan Kita Menginginkan Diri Kita?

Hampir terlambat…sedikit tergopoh-gopoh sambil membawa ice lemon tea yang sedari saya bawa dari restoran junkfood. Streofoamnya sudah tidak terasa dingin. Tampaknya gelas itu sudah membiasakan diri dengan suhu tubuh saya, yang kemudian diaduk-aduk malam Jakarta dan dinginnya ac taksi.

“Ayo Jup, kita sudah terlambat…”, kata saya pada Jupri, sahabat saya.

Kedua teman lainnya sudah menunggu di tangga masuk. Malam ini adalah pertunjukan tari topeng keliling yang sedang pentas di kota ini. Gedung Kesenian Jakarta tampak sedikit lenggang, penonton sudah masuk kedalam ruang pertunjukan. Satu teman sedang menyimak suara telepon ditelinga kirinya, dan satu temanku lagi membawa kamera setianya, ia memberikan dua tiket untuk saya dan teman saya.

“Thanks Anton”

“Masih lama kan mik?”, tanya Jupri.

“Aku merokok dulu ya..”, sambungnya

“Yap boleh, give me one”, canda saya

“Haha, aku akan menendangmu setelah itu”, ujarnya sambil tertawa.

Perempuan satu ini memang egois, merokok seenaknya, dengan asap mengepul dimuka saya. Tapi tidak mengijinkan orang lain coba-coba dengan rokoknya.

Malam itu terjadi perdebatan panjang dalam pikiran saya. Tepatnya saat pertunjukan panggung dimulai. Hidup yang begitu indah ini mau dibawa kemana lagi. Sama seperti penari maestro yang sedang duduk diatas panggung hitam malam itu. Ia sudah menghabiskan masa hidupnya untuk sebuah perjalanan panjang kehidupannya sampai di usianya yang sudah mencapai 80 tahun. Kakinya tertekuk layu diatas kursi rodanya. Pandangannya menatap si cucu yang memainkan permainan tari topeng Indramayu kebanggaannya.

Ia memang sudah tidak bisa menari lagi. Namun wajahnya masih penuh cinta. Wajahnya masih ingin hidup dalam tarian topeng Indramayu. Dalam gelak tawa dan senandung sang dalang, saya memandang wajahnya lamat-lamat, bukan kepada si cucu yang sedang mencari lincah disampingnya. Mimi Rasinah, begitu panggilan sang maestro. Iya, dia menghidupkan dirinya kedalam diri sang cucu..

Tentu, ia sudah menghabiskan banyak waktu untuk mencintai tarian ini. Ia benar-benar hidup menjadi dirinya sendiri, gumam saya sendiri. Menjadi penari keliling sepanjang hayatnya. Apakah cukup menjadikan alasan seorang untuk hidup.

Mengabdi untuk sebuah tarian, apa sih harapannya? Menunggu panggung yang disiapkan untuknya, menanti para penonton berdiri kemudian bertepuk tangan, menanti lampu sorot mengarah padanya. Apa yang ia tunggu? Masih tidak mengerti kenapa di tahun ke 80, ia masih saja diatas panggung. Entah panggung yang keberapa dalam hidupnya.

Akankah saya sudah memilih tujuan hidup saya? Seperti sang penari topeng itu. Detik ini, saya masih didalam comfort zone kehidupan seorang embun bantal. Bekerja di sebuah perusahaan, memakai identitas perusahaan, memikirkan keinginan perusahaan dan mewujudkan yang terbaik sesuai dengan koridor yang pernah ada sebelum-belumnya.

Saya sangat nyaman dengan keadaan saya saat ini. Berada pada lingkungan yang membentuk identitas saya sekarang.

Terlintas pula dalam ingatan saya, saat saya sedang berkunjung ke satu agensi periklanan di kawasan senayan. Ia mengatakan kepada saya bahwa ia sudah keluar 3 kali dari tempat ia bekerja. Bukan masalah posisi atau jabatan yang ia tawarkan. Tapi lebih menyadari semakin lama, ia menyadari ada banyak knowledge yang bolong-bolong dan harus ditambal satu persatu dengan berganti ruang pekerjaan.

Apakah kita sudah memilih tujuan hidup kemudian berani mengambil segala konsekuensinya? Kembali lagi ke Mimi Rasinah, apakah ia sudah mewujudkan dirinya dengan menjadi diri sendiri. Sama juga dengan teman agensi saya itu. Ia juga sedang berusaha mewujudkan dirinya sendiri. Ada banyak cara menjadi orang lain. Iya, dunia mengajarkan banyak hal tentang orang lain. Hanya sebagian kecil tentang diri kita. Dan tidak akan banyak kalau kita tidak mencari tahu sendiri.

Mungkin dengan mencintai apa yang kita tekuni saat ini, bisa mencapai titik diri sendiri itu. Mungkin…

Tapi mungkin saja tidak…

Mimi Rasinah menekuni kecintaannya pada tari topeng Indramayu itu. Ia hanya mencintai sampai dengan usia 80 tahun. Simpel…sederhana, tentang bagaimana kita mencintai sesuatu dengan tulus dan menenggelamkan diri kesana untuk membentuk identitas diri.

Bisa dibilang ini hanya persoalan mencintai…

Tapi sesederhana itukah?

 

Kalau saya bekerja di sebuah perusahaan, dan saya menghabiskan sisa hidup saya untuk mencintai perusahaan itu, sudah cukupkah bagi saya untuk menjadi Mimi Rasinah versi saya?

Belum cukup.

Saya hanya sekedar menjalani kewajiban saya sebagai karyawan, dan jiwa saya masuk kedalam pekerjaan itu. Saya menghabiskan sebagian besar waktu untuk menjadi seorang karyawan.

 

Tapi itukah nilai seorang embun bantal?

 

Tari Topeng masih terus berkolaborasi dengan nada gamelan Jawa. Seolah-olah tidak peduli dengan apa yang ada dalam pikiran saya saat itu. Setiap ekspresi yang ditampilkan, setiap langkah kaki yang diputar dan keluhan kedua tangan kepada si topeng yang dimanja sang penari.

 

Kalau saya memakai satu topeng itu, sudah cukupkah saya menjadi diri saya?

Saya tahu, tidak hanya satu topeng yang bisa membawakan keseluruhan alur tarian itu. Tidak cukup, embun bantal. Tidak cukup.

Kalau ingin menjadi maestro untuk diri sendiri, kamu harus benar-benar mengenal dirimu, dan menginginkan dirimu seutuhnya.

 

 

 

 

thanks anton buat fotonya...:)