Kalau dihitung-hitung embun bantal sudah memasuki tahun kedua di kota ini. Dari yang sangat-sangat penakut di jalanan ibukota, gegar budaya karena harus hidup di pemukiman padat penduduk sampai akhirnya bisa menikmati perjalanan dari satu bus ke bus lainnya. Bisa menikmati semua keletihan akibat pekerjaan dan senangnya kalau sudah hari jumat, karena saatnya memikirkan akan ngapain saja weekend ini.
Waktu memang cepat berlalu dibanding ketika hidup di kota Surabaya dulu. Waktu juga benar-benar berarti disini. Kalau dihabiskan buat tidur saja, rasanya sayang. Kalau bisa weekend difungsikan untuk men-set up kembali pikiran dan paling penting manjain diri. Menikmati kekosongan waktu dengan menulis seharian, baca setumpuk novel, nonton bioskop sendiri karena ga perlu malu buat nangis sesenggukan, jalan ke mal hanya sekedar jongkok di toko buku atau makan yoghurt di Sour Sally.. hm yummy…
Pekerjaan Letih namun membahagiakan
Bicara soal kehidupan embun bantal disini. Tidak begitu banyak berubah menurut embun bantal sih. Tapi banyak versi teman-teman kantor bilang pada awal kedatangan saya di kantor itu, “Gila ya…kok ada AE kayak begituan..ga salah nih? ga banget modelnya” Haha…karena saya dari Jawa dan blass ga ngerti tentang dunia iklan. Penampilan saya juga ala kadarnya waktu itu. Hanya pakai kemeja executive dan celana kain warna hijau tua.
Pekerjaan yang menuntut saya terus belajar dan berlari. Tidak ada garis final, yang ada hanya babak demi babak pertandingan yang silih berganti. Level bisa sama, bisa naik ke satu tingkat. Tergantung strategi saya berlari.
Akhirnya tiba juga masa satu tahun saya di perusahaan ini. Begitu banyak air mata dan keringat yang mengucur untuk membuat pekerjaan semakin berarti. Bukan buat perusahaan. Tapi lebih tepat buat saya pribadi. Waktu saya drop dengan kinerja saya, para atasan paling membuat saya kembali maju. Teman di tim juga begitu baik, biasanya sepulang kerja, kami makan di Burger King dan membicarakan industri masing-masing. Dan betapa ringannya setelah itu, karena kami sama-sama mengalami hari yang berat.
Saat saya drop dari semangat saya menjual space iklan. Atasan saya memanggil saya ke ruangannya, kemudian mengajak saya menuju Plasa Senayan. “Kamu harus sering-sering lihat mal dan isinya. Kamu harus tau produk terbaru dari mereka, kalau perlu belilah”, ujarnya.
Dalam perjalanan ke mal itu, suasana diam menghujam. Dan dia tiba-tiba celetuk kepada saya, “Jangan pulang Yasmin, kamu harus berada di Jakarta. Atau kamu tidak sama sekali disini. Kamu sudah disini, tidak boleh pulang.” Kadang kata-kata seperti itu memang saya butuhkan untuk mencambuk semangat saya. Saya tahu, kalau basah jangan setengah-setengah. Saya tahu, kalau tenaga dan pikiran yang saya keluarkan harus bisa menghasilkan yang terbaik. Karena itu yang dilakukan teman-teman tim juga.
Saya selalu ingat janji saya saat saya diterima di perusahaan ini. “Kalau perusahaan Anda, tidak memperkerjakan saya. Perusahaan Anda akan kehilangan pekerja potensial”. Saya tahu, saya terlalu pede untuk mengatakan itu. Calon atasan saya Cuma melihat saya lamat-lamat. Dan di penghujung satu tahun saya berada di perusahaan ini, saya masih ingin mengatakan kalimat itu lagi. Semoga semua lancar.
Datang dan pergi
Dua bulan ini saya mendapati diri saya tertegun. Orang-orang di departemen saya, datang dan pergi. Dua dari empat orang angkatan saya, tidak lagi bekerja bersama saya lagi. Saya tahu semua ini sudah menjadi yang terbaik dari apa yang sudah diatur Tuhan. Saya juga tidak tahu apakah saya nantinya akan menyusul teman-teman saya.
Bisa dibilang, orang-orang di sekitar saya selama 1 tahun ini, membuat saya berada seperti di rumah. Saya masih ingat saat supervisor saya digantikan. Saya Cuma diam waktu itu. Buat saya, supervisor sangat membantu pekerjaan saya. Saya takut saya tidak bisa menemukan semangat itu lagi. Karena pekerjaan itu bukan masalah saya harus pintar dan cerdas. Tapi saya harus terus membakar diri saya untuk terus semangat.
Kemudian supervisor saya itu mengajak saya ke sebuah mal (kenapa selalu di mal? karena industri saya pegang memang mal dan fashion), dalam perjalanan, dia mengatakan banyak hal tentang arti sebuah semangat. Dia bilang, saya sudah bisa dilepas tanpanya. Sudah tidak perlu ada dia disamping saya. Dan bulan ini juga mantan supervisor saya itu memutuskan keluar dari perusahaan untuk hidup yang lebih baik. Waktu perpisahan itu, saya tidak mengatakan apa-apa lagi padanya. Tapi saya tidak bisa menahan diri untuk tidak menangis. Saya memang paling benci dengan perpisahan. Saya tidak menginginkannya. Jadi meskipun saya menangis. Saya tidak ingin mengucapkan kata-kata perpisahan. Dan tidak ingin mengucapkan apapun kepada supervisor saya itu.
Bukan saya cengeng kehilangan supervisor saya itu. Buat saya, dia tidak hanya membantu pekerjaan saya, tapi juga membantu saya menemukan diri saya. Memompa semangat hidup, memiliki keinginan dalam hidup dan belajar menemukan kesempatan disetiap detik. Saya benar-benar merasa kehilangan dia, mungkin karena tidak ada orang dekat dengan saya saat ini, selain atasan dan teman-teman di perusahaan ini.
Lagi-lagi saya mencintai pekerjaan ini
Saat ini saya sudah 3 bulan bersama supervisor baru, which is senior saya. Saya menemukan kesenangan bersama dia. Dia memang berbeda dengan supervisor saya yang lama. Kadang kami harus saling memompa semangat bersama-sama. Saya tahu dia sedang belajar pula mensupervisi saya. Saya senang, saya menikmati dia sebagai supervisor saya. Dia membuat saya lebih indipenden. Membuat saya belajar lebih tegas mengambil keputusan dan membuat perencanaan yang lebih matang. Saya tahu ketika saya dilepas dari supervisor lama saya, saya harus mengambil hikmah, bahwa etos kerja memang berasal dari diri kita. Siapapun yang bersama dan disamping kita, mereka memang paling berarti tapi tetap peran utama adalah diri kita sendiri.
Satu tahun pelajaran saya di perusahaan ini, terlalu banyak hikmah yang saya dapatkan. Saya tahu, jika saya memasuki tahun kedua, berarti level mimpi saya harus dinaikkan. Saya tidak bisa berada pada level yang sama. Mimpi yang saya wujudkan di tahun ini menjadi tolak ukur perencanaan mimpi saya di tahun kedua. Kalau memang saya tidak berhasil masuk ke tahun kedua. Maka masih ada tempat lain yang bisa memberikan saya fasilitas dan peluang untuk mewujudkannya.
Pekerjaan adalah alat mewujudkan mimpi. Tapi mimpi yang sebenarnya harus terus berjalan. Semoga hasil di penghujung tahun ini bisa baik. Semoga.
Hey, tulisan ini bagus sekali! :-)
ReplyDeleteterimakasih calon spuu :))
ReplyDeleteseperti sedang membaca sebuah novel. luar biasa. Cool, keren. Kyknya bisa ditrusin deh tulisan kisah hidupnya. :) Banzaii...!
ReplyDeletebegitu ya..hmmm thankyou sangkelanaa :)
ReplyDelete