Thursday, July 17, 2008

Kapan Kita Menginginkan Diri Kita?

Hampir terlambat…sedikit tergopoh-gopoh sambil membawa ice lemon tea yang sedari saya bawa dari restoran junkfood. Streofoamnya sudah tidak terasa dingin. Tampaknya gelas itu sudah membiasakan diri dengan suhu tubuh saya, yang kemudian diaduk-aduk malam Jakarta dan dinginnya ac taksi.

“Ayo Jup, kita sudah terlambat…”, kata saya pada Jupri, sahabat saya.

Kedua teman lainnya sudah menunggu di tangga masuk. Malam ini adalah pertunjukan tari topeng keliling yang sedang pentas di kota ini. Gedung Kesenian Jakarta tampak sedikit lenggang, penonton sudah masuk kedalam ruang pertunjukan. Satu teman sedang menyimak suara telepon ditelinga kirinya, dan satu temanku lagi membawa kamera setianya, ia memberikan dua tiket untuk saya dan teman saya.

“Thanks Anton”

“Masih lama kan mik?”, tanya Jupri.

“Aku merokok dulu ya..”, sambungnya

“Yap boleh, give me one”, canda saya

“Haha, aku akan menendangmu setelah itu”, ujarnya sambil tertawa.

Perempuan satu ini memang egois, merokok seenaknya, dengan asap mengepul dimuka saya. Tapi tidak mengijinkan orang lain coba-coba dengan rokoknya.

Malam itu terjadi perdebatan panjang dalam pikiran saya. Tepatnya saat pertunjukan panggung dimulai. Hidup yang begitu indah ini mau dibawa kemana lagi. Sama seperti penari maestro yang sedang duduk diatas panggung hitam malam itu. Ia sudah menghabiskan masa hidupnya untuk sebuah perjalanan panjang kehidupannya sampai di usianya yang sudah mencapai 80 tahun. Kakinya tertekuk layu diatas kursi rodanya. Pandangannya menatap si cucu yang memainkan permainan tari topeng Indramayu kebanggaannya.

Ia memang sudah tidak bisa menari lagi. Namun wajahnya masih penuh cinta. Wajahnya masih ingin hidup dalam tarian topeng Indramayu. Dalam gelak tawa dan senandung sang dalang, saya memandang wajahnya lamat-lamat, bukan kepada si cucu yang sedang mencari lincah disampingnya. Mimi Rasinah, begitu panggilan sang maestro. Iya, dia menghidupkan dirinya kedalam diri sang cucu..

Tentu, ia sudah menghabiskan banyak waktu untuk mencintai tarian ini. Ia benar-benar hidup menjadi dirinya sendiri, gumam saya sendiri. Menjadi penari keliling sepanjang hayatnya. Apakah cukup menjadikan alasan seorang untuk hidup.

Mengabdi untuk sebuah tarian, apa sih harapannya? Menunggu panggung yang disiapkan untuknya, menanti para penonton berdiri kemudian bertepuk tangan, menanti lampu sorot mengarah padanya. Apa yang ia tunggu? Masih tidak mengerti kenapa di tahun ke 80, ia masih saja diatas panggung. Entah panggung yang keberapa dalam hidupnya.

Akankah saya sudah memilih tujuan hidup saya? Seperti sang penari topeng itu. Detik ini, saya masih didalam comfort zone kehidupan seorang embun bantal. Bekerja di sebuah perusahaan, memakai identitas perusahaan, memikirkan keinginan perusahaan dan mewujudkan yang terbaik sesuai dengan koridor yang pernah ada sebelum-belumnya.

Saya sangat nyaman dengan keadaan saya saat ini. Berada pada lingkungan yang membentuk identitas saya sekarang.

Terlintas pula dalam ingatan saya, saat saya sedang berkunjung ke satu agensi periklanan di kawasan senayan. Ia mengatakan kepada saya bahwa ia sudah keluar 3 kali dari tempat ia bekerja. Bukan masalah posisi atau jabatan yang ia tawarkan. Tapi lebih menyadari semakin lama, ia menyadari ada banyak knowledge yang bolong-bolong dan harus ditambal satu persatu dengan berganti ruang pekerjaan.

Apakah kita sudah memilih tujuan hidup kemudian berani mengambil segala konsekuensinya? Kembali lagi ke Mimi Rasinah, apakah ia sudah mewujudkan dirinya dengan menjadi diri sendiri. Sama juga dengan teman agensi saya itu. Ia juga sedang berusaha mewujudkan dirinya sendiri. Ada banyak cara menjadi orang lain. Iya, dunia mengajarkan banyak hal tentang orang lain. Hanya sebagian kecil tentang diri kita. Dan tidak akan banyak kalau kita tidak mencari tahu sendiri.

Mungkin dengan mencintai apa yang kita tekuni saat ini, bisa mencapai titik diri sendiri itu. Mungkin…

Tapi mungkin saja tidak…

Mimi Rasinah menekuni kecintaannya pada tari topeng Indramayu itu. Ia hanya mencintai sampai dengan usia 80 tahun. Simpel…sederhana, tentang bagaimana kita mencintai sesuatu dengan tulus dan menenggelamkan diri kesana untuk membentuk identitas diri.

Bisa dibilang ini hanya persoalan mencintai…

Tapi sesederhana itukah?

 

Kalau saya bekerja di sebuah perusahaan, dan saya menghabiskan sisa hidup saya untuk mencintai perusahaan itu, sudah cukupkah bagi saya untuk menjadi Mimi Rasinah versi saya?

Belum cukup.

Saya hanya sekedar menjalani kewajiban saya sebagai karyawan, dan jiwa saya masuk kedalam pekerjaan itu. Saya menghabiskan sebagian besar waktu untuk menjadi seorang karyawan.

 

Tapi itukah nilai seorang embun bantal?

 

Tari Topeng masih terus berkolaborasi dengan nada gamelan Jawa. Seolah-olah tidak peduli dengan apa yang ada dalam pikiran saya saat itu. Setiap ekspresi yang ditampilkan, setiap langkah kaki yang diputar dan keluhan kedua tangan kepada si topeng yang dimanja sang penari.

 

Kalau saya memakai satu topeng itu, sudah cukupkah saya menjadi diri saya?

Saya tahu, tidak hanya satu topeng yang bisa membawakan keseluruhan alur tarian itu. Tidak cukup, embun bantal. Tidak cukup.

Kalau ingin menjadi maestro untuk diri sendiri, kamu harus benar-benar mengenal dirimu, dan menginginkan dirimu seutuhnya.

 

 

 

 

thanks anton buat fotonya...:)

 

8 comments:

  1. Sama2 Yas ... Jadi inget kata2nya Bono: "It takes courages to be yourself"

    ReplyDelete
  2. kata orang tua, kita emang gak bisa ngerubah arah angin. tapi kita bisa menyesuaikan arah terkembangnya layar kita...

    ReplyDelete
  3. hehe iya,

    kayaknya ide tulisan ini ga ada hubungannya ma yang kita tonton ya nton..hehe..

    ReplyDelete
  4. :)) gitu ya rik..kayaknya kata2nya dapat dipercaya nih, soalnya kata orang tua. bukan kata riki ;p

    ReplyDelete
  5. fotonya kah? cerita si mimi kah? atau aku nya? hehe

    ReplyDelete
  6. ya iyalah...kayak lu ga tau aja...

    ReplyDelete