Semoga semua lancar...
Saatnya memikirkan yang lain...
Memikirkan impian yang lain, membuat plan lain...project impian saya tentunya. Dan itu harus terjadi dan harus dimulai di semester 2 ini.
Kadang saya merasa khawatir saya cuma bermimpi dan ga pernah berani mewujudkan karena kesibukan waktu bekerja. Tapi saya tahu, ketika saya sudah mendapat ketenangan seperti ini, sudah tidak ada alasan lain untuk tidak memulai satu langkah.
Another topic
Memang terlalu banyak cerita yang ingin saya share tentang perjalanan saya di kota ini. Betapa saya sangat berterimakasih atas jalan kehidupan saya sampai saya ada di kota ini. Tapi ada satu hal penting yang sebenarnya harus saya pikirkan. Dan yang terjadi saya selalu pura-pura tidak terjadi apa-apa sampai detik ini.
Saya tahu, dalam impian saya ini hanya ada saya sebagai tokoh utamanya. Saya tidak menambahkan tokoh lain untuk mewujudkan mimpi bersama-sama.
Beberapa waktu lalu, supervisor lama saya menelpon saya. Dalam perbincangannya, dia sempat mengatakan pada saya. “Ayo min, ambil keputusan. Sudah saatnya kamu menentukan pilihan”. Ya memilih tokoh lain yang akan mewujudkan mimpi saya kemudian mengkolaborasi mimpinya kedalam mimpi saya juga.
Di lain kesempatan, saat saya bersama manajer saya menuju press confrence Hero di Pacific Place, saya berjalan cepat didepan manajer saya. Tiba-tiba saya terdiam melirik kedalam butik Emporio Armani. Seorang pria sedang memilih dasi. Dan saya hampir meninggalkan manajer saya jauh di belakang. Saat manajer saya menyadari saya berbelok ke arah yang salah, dimana saya mau nekad masuk ke butik itu, manager saya langsung menyadarkan saya, “Min..min….eh lewat sini”
“Eh iya mbak…sori Kayaknya ada cowok sedang butuh bantuan buat milihin dasi deh mbak, otomatis..hehe”. Manager saya ketawa ngakak. “Elu tu ya Min…katanya kerjanya sales..katanya marketing, tapi jual diri aja ga bisa. Masak sampai sekarang ga ada yang nyantol sih min..” Biasanya perbincangan seperti ini memang paling enak dibikin bercanda.
Kalau sudah menyinggung soal pilihan, memang satu hal yang suka saya lewatkan. Kadang teman-teman di kantor suka menjodohkan saya dengan siapapun yang mereka temui dimana saja. Bahkan mereka bisa membayangkan nama saya bersanding dengan nama pria yang baru saja ditemui 15 menit lalu di sebuah undangan pernikahan. Saya hanya menikmati sambil lalu semua perbincangan yang ga pernah jelas arahnya itu.
Jauh didalam hati saya, saya tahu kemana saya harus meminta. Kalau saya tidak meminta, maka Tuhan juga tidak akan mendengarkan apa yang saya minta. Dan sampai detik ini, saya masih sangat jelek untuk tidak minta satu hal ini. Saya tahu, saya buruk sekali untuk tidak meminta. Saya tidak berani menghadapi sesuatu yang serius didepan mata saat ini kecuali masalah target dan omset perusahaan.
Sampai-sampai teman saya menyebut saya si wanita takut komitmen. Karena saat saya ditelepon seorang pria, saya tidak tahu harus melakukan apa. Dan saya memutuskan untuk pingsan seakan-akan tidak mendengar bunyi telepon itu.
“Wake up mince! Mau sampai kapan?? Ayo hadapi!” begitu salah satu penulis di lantai satu. Dan biasanya, yang paling enak menghadapi situasi seperti ini, adalah mengalihkan pembicaraan ke topik pekerjaan.
Dan pembahasan ini akan terus menggantung selama saya mau. Selama saya suka. Dan akhirnya satu persatu tokoh yang mencoba dekat dengan saya, menghilang. Saya tahu, saya telah melewatkan diri saya untuk menjadi perempuan beruntung bersama salah satu diantara mereka.
Bisa dibilang saya cukup bodoh melewatkan satu momen. Misalnya saja, saat seorang pria yang menjadi klien saya bertemu di dalam pesawat, kemudian mengajak saya menonton bioskop ketika kami sudah sampai di Jakarta nanti, saya baru membalas sms ajakannya itu setelah pulang kerja keesokan harinya. Yap..saya selalu melewatkan momen-momen itu. Hingga mereka inisiatif menarik diri.
Atau saya membiarkan telepon saya berdering terus menerus tidak saya angkat, karena saya lebih memilih tidur. Jelek. Iya jelek. Saya akan pikir berpuluh2 kali jika diajak keluar. Apakah nanti bisa membicarakan hal yang penting saja. Saya akan merasa aman dengan seorang klien yang aman buat saya.
Mungkin saat ini, yang saya butuhkan adalah berbicara kepada diri saya sendiri. Mengajaknya berkompromi untuk membuat satu mimpi bahwa suatu saat saya harus meminta kepada-Nya. Kemudian berusaha menemukan tokoh itu.
Selamat ya...
ReplyDeleteSemoga si Ari Nobi tu juga nyusul kamu...
thankyou ekuator :))
ReplyDelete