Postingan sebelumnya, saya pernah bicara tentang Kopi, Rokok dan Cowok. Bahkan sampai 3 seri. Kemudian saya juga menulis tentang Dunia Kopi. Dan sepertinya tiga kata ini tidak ada habis-habisnya dibahas.
*diam tertegun_mode on.
Baru menyadari, banyak juga ya..
Di postingan kali ini, saya tidak akan bicara asal mula rokok, sejarah, kandungan, Perda, ataupun aturan promosi. Bcause when you search google, you can find all the things about the cigarettes.
Yang ingin saya bicarakan kali ini hanya tentang rokok dan saya. Itu saja. Tidak ada lagi.
Ini adalah tentang beberapa fakta tentang rokok dan saya.
Pertama, saya bukan perokok.
Kedua, sampai saat ini saya belum terpikirkan menjadi perokok.
Ketiga, saya memang tidak bercita-cita menjadi perokok.
Keempat, bicara masa kecil, saya pernah mengiris daun dengan cutter, menggulungnya kemudian membakarnya menyerupai rokok. Rasanya tidak ingat tapi penuh kepulan asap yang menempel di rambut.
Kelima, bicara masa kecil juga, saya pernah mencuri bekas rokok ayah saya dan merasakan bagian filternya. Saya pikir itu sejenis permen yang sengaja diletakkan di bagian ujungnya.
Keenam, bicara masa kecil lagi, saya pernah membakar bagian filternya dan berpikir akan sama terbakarnya seperti yang ayah saya lakukan ketika membakar ujung yang lain. Tentu saja saya membakar bekas rokok ayah saya.
Ketujuh, saya memang terlalu penasaran kenapa ada permen di rokok dan asap yang bisa keluar dari mulut yang berbentuk O. Itu keren! (Ini pernyataan saya masih kecil)
Kedelapan, kok yang saya ingat tentang ayah saya hanya puntung rokok saja ya
Kesembilan, puntung rokok itu punya merek Djarum.
Kesepuluh, rokok mengingatkan saya tentang almarhum kakek yang meninggal akibat nikotin yang menggerogoti paru-parunya.
Kesebelas, beranjak kuliah saya selalu berusaha berkompromi dengan rokok. Bagi saya, saya lebih memilih teman yang merokok daripada substansi rokok itu sendiri. Saya akan mengabaikan asap yang mengepul di muka saya dan bau yang menempel di rambut (ini seperti postingan : rokok, kopi dan cowok 3).
Keduabelas, saya salah satu perempuan common yang selalu bilang kepada kekasihnya (mantan) begini:
“Jangan terlalu banyak merokok hari ini ya..!” (pasang muka perhatian dan prihatin)
“Bisa ga untuk ga ngarahin asapnya ke wajahku” (pasang muka cemberut sambil berusaha tersenyum)
“Bisa ga kali iniiii sajaaa, untuk tidak merokok” (pasang gaya batuk-batuk mode on)
“Kamu buang puntung rokok ke tong sampah donk…coba lihat betapa banyaknya puntung rokok yang dibuang sembarangan. Bayangin kalau ditumpuk jadi satu, bisa jadi daratan baru” (pasang muka intelek sambil bawa boneka panda wwf)
“Kamu bisa ga merokok tapi asepnya ditelen?” (uda kesel saking asapnya selalu nempel di rambut)
Ketigabelas, ini yang paling goblok: saya bisa kasihan kalau kekasih saya dulu kehabisan rokok.
Keempatbelas, saya juga tidak masalah ketika saya harus berkontemplasi dengan Jupri, sahabat saya yang selalu berjanji “cukup tiga batang hari ini” dan masih mengambil batang keempat sepuluh menit kemudian. Nice quote jup…
Kelimabelas, saya tidak pernah mengira di tengah dunia yang nyaman dan penuh asap rokok ini, di tengah komitmen untuk tidak merokok, saya harus duduk di salah satu ruang tunggu rumah sakit hampir sepanjang sabtu-sabtu saya tahun ini :)
Keenambelas, kalau saya boleh memilih lagi, karena tubuh ini titipan Tuhan, saya masih tidak ingin merokok sampai detik ini.
Ini tentang rokok dan saya.
Wrote by embunbantal, 25 April 2009, in my ordinary Saturday.
Sunday, April 26, 2009
Wednesday, April 15, 2009
landscape kelabu bernama pantai dan kita
Embunbantal, kupu-kupu dan 2 teman lain, Anto dan Vicky. Kami berempat sampai juga di tepi pantai Parangtritis.
Malam tergelap yang pernah embunbantal datangi. Tanpa bintang, tanpa bulan dan tanpa angin. Tidak ada petanda dari alam. Hanya terdengar debur ombak yang terus menghujam bibir pantai. Sejauh mata memandang, terlukis garis putih yang menandakan batas langit dan bumi. Sisanya... hitam. Tak ada lagi yang bisa menggambarkan ruang di depan kami.
Pantai ini pernah menjadi isak tangis negeri ini. Mataku berusaha mencari-cari gambaran pantai itu. Namun yang kurasakan energi kemarahan yang tak ada habis-habisnya bersenandung.
Hanya berbekal senter di tangan Anto, kami mulai berjalan menuju tepi laut tanpa alas kaki.
"Takut?", tanya Anto.
Aku hanya diam tak benar-benar yakin dengan jawabanku.
"Ga kan, lebih takut dengan orang daripada dengan alam", jawab Anto.
Tanpa menunggu jawaban dariku dan tetap melanjutkan perjalanan sampai ke bibir pantai.
Kupu-kupu sudah ada jauh di depan kami. Dia mendekati air dan Anto mengejarnya menariknya dari belakang. Tepatnya sibuk menyadarkan kupu-kupu bahwa kita sedang bersama alam.
Sementara aku sibuk mencari celah tentang bagaimana mendefinisikan malam itu. Ayo Yasmin, coba berusaha temukan titik yang bisa menggambarkan ruang ini. Berusaha, tapi tetap saja tidak berhasil. Hanya warna kelabu hitam, persis seperti warna air di dalam gelas yang baru saja di celup kuas Acrylic ku.
Pada akhirnya, aku memandang teman-temanku yang sama heningnya denganku. Kupu-kupu juga sudah sadar sedikit. Dan kami berdiri takjub dengan apa yang kami lakukan disini. Berdiri dan diam mendengar baku hantam ombak.
Dalam hati kecilku, Yasmin, ini kurang berani. Menyingkirlah dari teman-temanmu. Berjalanlah sendiri. Aku tahu bisikan-bisikan itu terus ada dalam benakku. Terkadang begitu kuat, namun makin lama makin melemah. Seperti biasa, itulah yang kulakukan. Aku mengalihkan pandangan didepanku mengurungkan niatku. Vicky yang sedaritadi diam sambil membawa Piano(nama ponsel embunbantal) berada di sampingku mengangguk sepakat, ini benar-benar hebat. Seperti mendengar apa yang sedang kubicarakan di dalam hati. Memandang garis pantai berwarna putih, tanpa benar-benar yakin kami dihadapkan dengan berapa banyak air didepan kami.
Ada pesan yang disampaikan oleh garis itu, kami bukan apa-apa. Kalau memang ada yang terjadi, ya terjadilah.. tidak ada yang bisa membantu kami.
"Kita kembali yuk, air sudah mulai naik", Anto membuyarkan pandanganku yang mulai beradaptasi.
Aku berharap bisa lebih lama berada disana, supaya tulisan ini bisa bercerita lebih lama lagi tentang gelapnya sisi bumi itu. Cukup rumit untuk mengilustrasikan atau mungkin memang begitu sederhananya warna kelabu didepanku hingga tidak ada kata-kata yang mampu menggambarkan layar didepanku.
Dan kami melanjutkan duduk-duduk di kursi rotan didepan pantai kemudian perlombaan minum kelapa bersama kupu-kupu.
whatalovelynite
14 April 2009
Embunbantal di erpot, ngantuk-ngantuk
Malam tergelap yang pernah embunbantal datangi. Tanpa bintang, tanpa bulan dan tanpa angin. Tidak ada petanda dari alam. Hanya terdengar debur ombak yang terus menghujam bibir pantai. Sejauh mata memandang, terlukis garis putih yang menandakan batas langit dan bumi. Sisanya... hitam. Tak ada lagi yang bisa menggambarkan ruang di depan kami.
Pantai ini pernah menjadi isak tangis negeri ini. Mataku berusaha mencari-cari gambaran pantai itu. Namun yang kurasakan energi kemarahan yang tak ada habis-habisnya bersenandung.
Hanya berbekal senter di tangan Anto, kami mulai berjalan menuju tepi laut tanpa alas kaki.
"Takut?", tanya Anto.
Aku hanya diam tak benar-benar yakin dengan jawabanku.
"Ga kan, lebih takut dengan orang daripada dengan alam", jawab Anto.
Tanpa menunggu jawaban dariku dan tetap melanjutkan perjalanan sampai ke bibir pantai.
Kupu-kupu sudah ada jauh di depan kami. Dia mendekati air dan Anto mengejarnya menariknya dari belakang. Tepatnya sibuk menyadarkan kupu-kupu bahwa kita sedang bersama alam.
Sementara aku sibuk mencari celah tentang bagaimana mendefinisikan malam itu. Ayo Yasmin, coba berusaha temukan titik yang bisa menggambarkan ruang ini. Berusaha, tapi tetap saja tidak berhasil. Hanya warna kelabu hitam, persis seperti warna air di dalam gelas yang baru saja di celup kuas Acrylic ku.
Pada akhirnya, aku memandang teman-temanku yang sama heningnya denganku. Kupu-kupu juga sudah sadar sedikit. Dan kami berdiri takjub dengan apa yang kami lakukan disini. Berdiri dan diam mendengar baku hantam ombak.
Dalam hati kecilku, Yasmin, ini kurang berani. Menyingkirlah dari teman-temanmu. Berjalanlah sendiri. Aku tahu bisikan-bisikan itu terus ada dalam benakku. Terkadang begitu kuat, namun makin lama makin melemah. Seperti biasa, itulah yang kulakukan. Aku mengalihkan pandangan didepanku mengurungkan niatku. Vicky yang sedaritadi diam sambil membawa Piano(nama ponsel embunbantal) berada di sampingku mengangguk sepakat, ini benar-benar hebat. Seperti mendengar apa yang sedang kubicarakan di dalam hati. Memandang garis pantai berwarna putih, tanpa benar-benar yakin kami dihadapkan dengan berapa banyak air didepan kami.
Ada pesan yang disampaikan oleh garis itu, kami bukan apa-apa. Kalau memang ada yang terjadi, ya terjadilah.. tidak ada yang bisa membantu kami.
"Kita kembali yuk, air sudah mulai naik", Anto membuyarkan pandanganku yang mulai beradaptasi.
Aku berharap bisa lebih lama berada disana, supaya tulisan ini bisa bercerita lebih lama lagi tentang gelapnya sisi bumi itu. Cukup rumit untuk mengilustrasikan atau mungkin memang begitu sederhananya warna kelabu didepanku hingga tidak ada kata-kata yang mampu menggambarkan layar didepanku.
Dan kami melanjutkan duduk-duduk di kursi rotan didepan pantai kemudian perlombaan minum kelapa bersama kupu-kupu.
whatalovelynite
14 April 2009
Embunbantal di erpot, ngantuk-ngantuk
Tuesday, April 14, 2009
Can You Keep The Secret

| Rating: | ★★★ |
| Category: | Books |
| Genre: | Romance |
| Author: | Shopie Kinsella |
Sedikit berpikir lama untuk membawanya dalam perjalanan pulang mudik. Karena ada buku2 lain yg masih bertengger di rak buku.
Can you keep a secret?
Kalau kau bertanya buku apa yang menarik perhatianmu?
Iyap, buku yang bisa membawa semua perasaan jadi satu. Tawa, jengkel, marah, nangis dan haru. Seperti memadukan semua bumbu di dapur dan menjadikan resep yang mudah diingat. Kamu bisa tergelak ketika Emma melakukan kebiasaan bodohnya, jengkel dengan tingkah roomatenya, Jemima. Atau marah karena Emma seperti tidak punya kekuatan untuk menyalurkan pendapatnya di keluarga. Emma hanya gadis biasa yang tidak ada istimewanya. Tanpa karir yang jelas dan memimpikan hidupnya.
Awalnya memang tidak yakin dengan ceritanya, tapi sepanjang perjalanan pulang, Emma mengajarkan banyak hal tentang dirinya yang ceroboh, berusaha menghadapi apa yang sudah terlanjur terjadi dengan dirinya.
One of my fave book:)
Saturday, April 11, 2009
she's so lucky
Gadis kecil itu tidak berhenti memeluk Nemo di dadanya
Aku tidak benar-benar tahu kekuatan apa yang dimiliki boneka itu
Tapi Ia punya peran besar sebagai saksi sejarah gadis cilik ini
Gadis ini duduk di salah satu meja rumah makan yang sama denganku malam itu
Di sampingnya seorang pria, aku pastikan bapak dari si gadis
Di depannya seorang perempuan berbalut kemeja ungu.
Parasnya kuning langsat seperti paduan yang cocok dengan kemeja itu
Cantik sekali.
Hidungnya sama dengan milik si gadis kecil.
Wanita itu menatap wajah si gadis, seperti berusaha melakukan telepati namun tidak berhasil.
Payah sekali..
Ia meremas tangan si gadis sejenak
Kemudian mengembalikan tangan itu pada Nemo
Nemo benar-benar berguna
Wanita itu memandang sekali lagi
Tanpa bicara, tanpa senyum,
Kemudian bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja tanpa menoleh ke belakang.
Gadis itu ditinggalkan begitu saja dengan sang bapak
Diam
Diam menjadi tokoh utama dari drama satu babak ini
Aku hanya duduk tersenyum melihat akhir babak
Dan berujar pada si kupu-kupu
Gadis itu sungguh beruntung
Kupu-kupu pun mengangguk
"Dia perempuan cilik yang beruntung", menyetujuiku
Beberapa orang akan memandang pahit kejadian ini
Buatku dia sangat beruntung
Beruntung bisa berada pada satu tempat,
satu waktu
bersama pria dan wanita itu
Dia gadis terpilih untuk mengerti kehidupan ini dengan kacamata yang berbeda
Setiap manusia di bumi ini berhak membuat kisah hidup yang mendebarkan
Dan Tuhan punya cerita untuk kita.
At Kereta Bima menuju Madiun, brr dingin banget
Aku tidak benar-benar tahu kekuatan apa yang dimiliki boneka itu
Tapi Ia punya peran besar sebagai saksi sejarah gadis cilik ini
Gadis ini duduk di salah satu meja rumah makan yang sama denganku malam itu
Di sampingnya seorang pria, aku pastikan bapak dari si gadis
Di depannya seorang perempuan berbalut kemeja ungu.
Parasnya kuning langsat seperti paduan yang cocok dengan kemeja itu
Cantik sekali.
Hidungnya sama dengan milik si gadis kecil.
Wanita itu menatap wajah si gadis, seperti berusaha melakukan telepati namun tidak berhasil.
Payah sekali..
Ia meremas tangan si gadis sejenak
Kemudian mengembalikan tangan itu pada Nemo
Nemo benar-benar berguna
Wanita itu memandang sekali lagi
Tanpa bicara, tanpa senyum,
Kemudian bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja tanpa menoleh ke belakang.
Gadis itu ditinggalkan begitu saja dengan sang bapak
Diam
Diam menjadi tokoh utama dari drama satu babak ini
Aku hanya duduk tersenyum melihat akhir babak
Dan berujar pada si kupu-kupu
Gadis itu sungguh beruntung
Kupu-kupu pun mengangguk
"Dia perempuan cilik yang beruntung", menyetujuiku
Beberapa orang akan memandang pahit kejadian ini
Buatku dia sangat beruntung
Beruntung bisa berada pada satu tempat,
satu waktu
bersama pria dan wanita itu
Dia gadis terpilih untuk mengerti kehidupan ini dengan kacamata yang berbeda
Setiap manusia di bumi ini berhak membuat kisah hidup yang mendebarkan
Dan Tuhan punya cerita untuk kita.
At Kereta Bima menuju Madiun, brr dingin banget
Tuesday, April 7, 2009
Pulang
Adalah satu kata penantian ketika langit mulai meredup
Adalah bahasa kerinduan saat rasa lelah mulai merayap tulang punggungmu
Adalah obat penenang disaat kepala menjadi bagian tubuh paling berat dan mata mulai menatap kosong
Aku tahu, hanya kata pulang yang bisa mencairkan perasaan terdalam
Di setiap hariku
Di setiap Isya ku
Pulang
Aku ingin pulang
Ketika sepatu steiletto sudah tidak sanggup menegakkan tegapmu
Ketika riasan wajahmu tak sanggup lagi membantumu tersenyum
Dan ketika tas di bahumu sudah menjadi beban terberatmu hari ini
Pulang
Kau hanya perlu mengganti sepatu merah itu dengan sepatu karet
Biarkan kakimu benar-benar menapak di bumi
Rapatkan jaketmu agar angin tidak memainkan tengkukmu
Ikat rambutmu, sudah selesai pertunjukan hari ini
Biarkan benakmu bermain sendiri
Tentang kata pulang
Tentang tempat terindah malam ini
Tentang perjalanan paling panjang malam ini
Dan Irene, aku pulang
Embunbantal, at pineaple garden, 07 april 2009
Adalah bahasa kerinduan saat rasa lelah mulai merayap tulang punggungmu
Adalah obat penenang disaat kepala menjadi bagian tubuh paling berat dan mata mulai menatap kosong
Aku tahu, hanya kata pulang yang bisa mencairkan perasaan terdalam
Di setiap hariku
Di setiap Isya ku
Pulang
Aku ingin pulang
Ketika sepatu steiletto sudah tidak sanggup menegakkan tegapmu
Ketika riasan wajahmu tak sanggup lagi membantumu tersenyum
Dan ketika tas di bahumu sudah menjadi beban terberatmu hari ini
Pulang
Kau hanya perlu mengganti sepatu merah itu dengan sepatu karet
Biarkan kakimu benar-benar menapak di bumi
Rapatkan jaketmu agar angin tidak memainkan tengkukmu
Ikat rambutmu, sudah selesai pertunjukan hari ini
Biarkan benakmu bermain sendiri
Tentang kata pulang
Tentang tempat terindah malam ini
Tentang perjalanan paling panjang malam ini
Dan Irene, aku pulang
Embunbantal, at pineaple garden, 07 april 2009
Monday, April 6, 2009
Aku mencintaimu
Kadang kita butuh belajar pada seorang bisu
Tentang bagaimana mengungkapkan "Aku mencintaimu"
Tanpa harus bersuara, menulisnya, atau menggerakkan jemari
Temi, 30 Mar 2009, 5:51 am
Tentang bagaimana mengungkapkan "Aku mencintaimu"
Tanpa harus bersuara, menulisnya, atau menggerakkan jemari
Temi, 30 Mar 2009, 5:51 am
Sunday, April 5, 2009
do you have a butterfly?
Di tengah langit sore yang ranum ini,
tetangga kamar gw duduk dihadapan gw seperti membuat pengakuan.
Matanya berbinar-binar menatap gw yang sedang sibuk bersama neo (my laptop)
Tiba-tiba ia menanyakan pertanyaan yang menggelitik benak embun bantal.
Do you have a butterfly?
Pertanyaan ini sama seperti dilontarkan jupri ketika membacakan
artikelnya dalam kelas bahasa pagi ini,
have you done anything to fulfill your dream?
Dream
Bagaimana bisa semua orang sibuk membicarakan tentang mimpi,
dan sibuk mencari cara mengejar mimpi..
menemukannya dengan agresif..
sementara gw sibuk menikmati diri sekarang,
tanpa memikirkan apa-apa
atau lebih tepatnya tidak mengadakan sebuah mimpi untuk dikejar.
Gw sibuk dengan apa yang bisa gw jalani sekarang.
Gw sibuk menikmati semua yang gw alami setiap harinya.
Dan ketika Anto, temen dari Jogja datang ke kos gw minggu kemarin, dia juga bertanya,
"Jadi apa yang mau dikejar tahun ini?"
Gw sibuk mencari jawaban yang sebenarnya tidak benar-benar ada.
Do you have a butterfly?
Rasanya seperti kupu-kupu yang tiba-tiba muncul didalam dada
Yang sibuk berterbangan kesana kemari.
Dan dia berhasil meyakinkanmu bahwa ada mimpi yang harus kau kejar.
Si kupu-kupu ini telah menghidupkan mimpimu.
Gw mengamati bagaimana si kupu-kupu ini bekerja pada tetangga gw.
Dia memang seperti api yang kau nyalakan didalam tungku,
warna sumbunya masih merah menyala
warna itu akan terus menyala sampai pada satu titik, warnanya berubah.
menjadi biru tenang.
Sayangnya untuk menuju biru tenang itu memang tidak mudah.
Karena si kupu-kupu ini tidak terbang bebas.
Terlalu banyak semak yang belum kita tebas
untuk membuat jalan itu benar-benar bisa kita lalui.
Ga mudah membuat jalan baru
Sementara saat ini kita sibuk dengan jalan lama yang ga ada hubungannya dengan jalan baru.
Dan tetanggaku ini mulai mencari cara supaya si kupu-kupu ini terbang lebih leluasa
Gw cuma bisa berkata,
jangan biarkan si kupu-kupu ini terbang bebas tapi dia mulai mengaburkan identitas diri kita.
Karena kita sudah berada pada titik terjauh dari masa lalu.
Jangan sampai kita kembali pada masa lampau dan membuat nilai pada diri kita berkurang.
"Kau tidak bisa menjadi orang lain sementara kita sudah punya definisi tentang diri kita"
Gw memang tidak sepakat ketika seorang yang menginginkan beasiswa s2 kemudian dia keluar dari jalan lamanya
dan mengabaikan definisi mimpi itu sendiri bagi diri kita.
Siapapun yang punya uang bisa s2 atau siapapun bisa meraih s2.
Siapapun bisa meraih mimpi itu.
Tapi bagaimana menjadi s2 itu sangat bernilai dan menambah nilai identitas kita.
Itu poin paling penting.
tetap menjaga nilai diri kita.
Jangan menguranginya.
Jangan mempertaruhkannya dan keluar dari jalan lama hanya untuk membuat kupu2 ini terbang bebas tanpa kontrol.
Disatu sisi gw bersyukur tetangga kamar menemukan mimpinya.
Atau si jupri yang sibuk menjelaskan suatu saat nanti dia akan mewujudkan mimpinya.
Sementara gw terdiam
Do you have that butterfly, embunbantal?
tetangga kamar gw duduk dihadapan gw seperti membuat pengakuan.
Matanya berbinar-binar menatap gw yang sedang sibuk bersama neo (my laptop)
Tiba-tiba ia menanyakan pertanyaan yang menggelitik benak embun bantal.
Do you have a butterfly?
Pertanyaan ini sama seperti dilontarkan jupri ketika membacakan
artikelnya dalam kelas bahasa pagi ini,
have you done anything to fulfill your dream?
Dream
Bagaimana bisa semua orang sibuk membicarakan tentang mimpi,
dan sibuk mencari cara mengejar mimpi..
menemukannya dengan agresif..
sementara gw sibuk menikmati diri sekarang,
tanpa memikirkan apa-apa
atau lebih tepatnya tidak mengadakan sebuah mimpi untuk dikejar.
Gw sibuk dengan apa yang bisa gw jalani sekarang.
Gw sibuk menikmati semua yang gw alami setiap harinya.
Dan ketika Anto, temen dari Jogja datang ke kos gw minggu kemarin, dia juga bertanya,
"Jadi apa yang mau dikejar tahun ini?"
Gw sibuk mencari jawaban yang sebenarnya tidak benar-benar ada.
Do you have a butterfly?
Rasanya seperti kupu-kupu yang tiba-tiba muncul didalam dada
Yang sibuk berterbangan kesana kemari.
Dan dia berhasil meyakinkanmu bahwa ada mimpi yang harus kau kejar.
Si kupu-kupu ini telah menghidupkan mimpimu.
Gw mengamati bagaimana si kupu-kupu ini bekerja pada tetangga gw.
Dia memang seperti api yang kau nyalakan didalam tungku,
warna sumbunya masih merah menyala
warna itu akan terus menyala sampai pada satu titik, warnanya berubah.
menjadi biru tenang.
Sayangnya untuk menuju biru tenang itu memang tidak mudah.
Karena si kupu-kupu ini tidak terbang bebas.
Terlalu banyak semak yang belum kita tebas
untuk membuat jalan itu benar-benar bisa kita lalui.
Ga mudah membuat jalan baru
Sementara saat ini kita sibuk dengan jalan lama yang ga ada hubungannya dengan jalan baru.
Dan tetanggaku ini mulai mencari cara supaya si kupu-kupu ini terbang lebih leluasa
Gw cuma bisa berkata,
jangan biarkan si kupu-kupu ini terbang bebas tapi dia mulai mengaburkan identitas diri kita.
Karena kita sudah berada pada titik terjauh dari masa lalu.
Jangan sampai kita kembali pada masa lampau dan membuat nilai pada diri kita berkurang.
"Kau tidak bisa menjadi orang lain sementara kita sudah punya definisi tentang diri kita"
Gw memang tidak sepakat ketika seorang yang menginginkan beasiswa s2 kemudian dia keluar dari jalan lamanya
dan mengabaikan definisi mimpi itu sendiri bagi diri kita.
Siapapun yang punya uang bisa s2 atau siapapun bisa meraih s2.
Siapapun bisa meraih mimpi itu.
Tapi bagaimana menjadi s2 itu sangat bernilai dan menambah nilai identitas kita.
Itu poin paling penting.
tetap menjaga nilai diri kita.
Jangan menguranginya.
Jangan mempertaruhkannya dan keluar dari jalan lama hanya untuk membuat kupu2 ini terbang bebas tanpa kontrol.
Disatu sisi gw bersyukur tetangga kamar menemukan mimpinya.
Atau si jupri yang sibuk menjelaskan suatu saat nanti dia akan mewujudkan mimpinya.
Sementara gw terdiam
Do you have that butterfly, embunbantal?
Subscribe to:
Posts (Atom)