Embunbantal, kupu-kupu dan 2 teman lain, Anto dan Vicky. Kami berempat sampai juga di tepi pantai Parangtritis.
Malam tergelap yang pernah embunbantal datangi. Tanpa bintang, tanpa bulan dan tanpa angin. Tidak ada petanda dari alam. Hanya terdengar debur ombak yang terus menghujam bibir pantai. Sejauh mata memandang, terlukis garis putih yang menandakan batas langit dan bumi. Sisanya... hitam. Tak ada lagi yang bisa menggambarkan ruang di depan kami.
Pantai ini pernah menjadi isak tangis negeri ini. Mataku berusaha mencari-cari gambaran pantai itu. Namun yang kurasakan energi kemarahan yang tak ada habis-habisnya bersenandung.
Hanya berbekal senter di tangan Anto, kami mulai berjalan menuju tepi laut tanpa alas kaki.
"Takut?", tanya Anto.
Aku hanya diam tak benar-benar yakin dengan jawabanku.
"Ga kan, lebih takut dengan orang daripada dengan alam", jawab Anto.
Tanpa menunggu jawaban dariku dan tetap melanjutkan perjalanan sampai ke bibir pantai.
Kupu-kupu sudah ada jauh di depan kami. Dia mendekati air dan Anto mengejarnya menariknya dari belakang. Tepatnya sibuk menyadarkan kupu-kupu bahwa kita sedang bersama alam.
Sementara aku sibuk mencari celah tentang bagaimana mendefinisikan malam itu. Ayo Yasmin, coba berusaha temukan titik yang bisa menggambarkan ruang ini. Berusaha, tapi tetap saja tidak berhasil. Hanya warna kelabu hitam, persis seperti warna air di dalam gelas yang baru saja di celup kuas Acrylic ku.
Pada akhirnya, aku memandang teman-temanku yang sama heningnya denganku. Kupu-kupu juga sudah sadar sedikit. Dan kami berdiri takjub dengan apa yang kami lakukan disini. Berdiri dan diam mendengar baku hantam ombak.
Dalam hati kecilku, Yasmin, ini kurang berani. Menyingkirlah dari teman-temanmu. Berjalanlah sendiri. Aku tahu bisikan-bisikan itu terus ada dalam benakku. Terkadang begitu kuat, namun makin lama makin melemah. Seperti biasa, itulah yang kulakukan. Aku mengalihkan pandangan didepanku mengurungkan niatku. Vicky yang sedaritadi diam sambil membawa Piano(nama ponsel embunbantal) berada di sampingku mengangguk sepakat, ini benar-benar hebat. Seperti mendengar apa yang sedang kubicarakan di dalam hati. Memandang garis pantai berwarna putih, tanpa benar-benar yakin kami dihadapkan dengan berapa banyak air didepan kami.
Ada pesan yang disampaikan oleh garis itu, kami bukan apa-apa. Kalau memang ada yang terjadi, ya terjadilah.. tidak ada yang bisa membantu kami.
"Kita kembali yuk, air sudah mulai naik", Anto membuyarkan pandanganku yang mulai beradaptasi.
Aku berharap bisa lebih lama berada disana, supaya tulisan ini bisa bercerita lebih lama lagi tentang gelapnya sisi bumi itu. Cukup rumit untuk mengilustrasikan atau mungkin memang begitu sederhananya warna kelabu didepanku hingga tidak ada kata-kata yang mampu menggambarkan layar didepanku.
Dan kami melanjutkan duduk-duduk di kursi rotan didepan pantai kemudian perlombaan minum kelapa bersama kupu-kupu.
whatalovelynite
14 April 2009
Embunbantal di erpot, ngantuk-ngantuk
ayo ikuti gw aja...
ReplyDeleteayo ikuti gw aja...
ReplyDeletealam, menjadi korban dan juga saksi hidup dari ulah manusia juga....
ReplyDelete@sopiahyar: haha, well we'll see depend on pantai mana yg direkomendasikan..:p
ReplyDelete@mas yayak: iya mas, energi alam berasa banget malam itu..