Postingan sebelumnya, saya pernah bicara tentang Kopi, Rokok dan Cowok. Bahkan sampai 3 seri. Kemudian saya juga menulis tentang Dunia Kopi. Dan sepertinya tiga kata ini tidak ada habis-habisnya dibahas.
*diam tertegun_mode on.
Baru menyadari, banyak juga ya..
Di postingan kali ini, saya tidak akan bicara asal mula rokok, sejarah, kandungan, Perda, ataupun aturan promosi. Bcause when you search google, you can find all the things about the cigarettes.
Yang ingin saya bicarakan kali ini hanya tentang rokok dan saya. Itu saja. Tidak ada lagi.
Ini adalah tentang beberapa fakta tentang rokok dan saya.
Pertama, saya bukan perokok.
Kedua, sampai saat ini saya belum terpikirkan menjadi perokok.
Ketiga, saya memang tidak bercita-cita menjadi perokok.
Keempat, bicara masa kecil, saya pernah mengiris daun dengan cutter, menggulungnya kemudian membakarnya menyerupai rokok. Rasanya tidak ingat tapi penuh kepulan asap yang menempel di rambut.
Kelima, bicara masa kecil juga, saya pernah mencuri bekas rokok ayah saya dan merasakan bagian filternya. Saya pikir itu sejenis permen yang sengaja diletakkan di bagian ujungnya.
Keenam, bicara masa kecil lagi, saya pernah membakar bagian filternya dan berpikir akan sama terbakarnya seperti yang ayah saya lakukan ketika membakar ujung yang lain. Tentu saja saya membakar bekas rokok ayah saya.
Ketujuh, saya memang terlalu penasaran kenapa ada permen di rokok dan asap yang bisa keluar dari mulut yang berbentuk O. Itu keren! (Ini pernyataan saya masih kecil)
Kedelapan, kok yang saya ingat tentang ayah saya hanya puntung rokok saja ya
Kesembilan, puntung rokok itu punya merek Djarum.
Kesepuluh, rokok mengingatkan saya tentang almarhum kakek yang meninggal akibat nikotin yang menggerogoti paru-parunya.
Kesebelas, beranjak kuliah saya selalu berusaha berkompromi dengan rokok. Bagi saya, saya lebih memilih teman yang merokok daripada substansi rokok itu sendiri. Saya akan mengabaikan asap yang mengepul di muka saya dan bau yang menempel di rambut (ini seperti postingan : rokok, kopi dan cowok 3).
Keduabelas, saya salah satu perempuan common yang selalu bilang kepada kekasihnya (mantan) begini:
“Jangan terlalu banyak merokok hari ini ya..!” (pasang muka perhatian dan prihatin)
“Bisa ga untuk ga ngarahin asapnya ke wajahku” (pasang muka cemberut sambil berusaha tersenyum)
“Bisa ga kali iniiii sajaaa, untuk tidak merokok” (pasang gaya batuk-batuk mode on)
“Kamu buang puntung rokok ke tong sampah donk…coba lihat betapa banyaknya puntung rokok yang dibuang sembarangan. Bayangin kalau ditumpuk jadi satu, bisa jadi daratan baru” (pasang muka intelek sambil bawa boneka panda wwf)
“Kamu bisa ga merokok tapi asepnya ditelen?” (uda kesel saking asapnya selalu nempel di rambut)
Ketigabelas, ini yang paling goblok: saya bisa kasihan kalau kekasih saya dulu kehabisan rokok.
Keempatbelas, saya juga tidak masalah ketika saya harus berkontemplasi dengan Jupri, sahabat saya yang selalu berjanji “cukup tiga batang hari ini” dan masih mengambil batang keempat sepuluh menit kemudian. Nice quote jup…
Kelimabelas, saya tidak pernah mengira di tengah dunia yang nyaman dan penuh asap rokok ini, di tengah komitmen untuk tidak merokok, saya harus duduk di salah satu ruang tunggu rumah sakit hampir sepanjang sabtu-sabtu saya tahun ini :)
Keenambelas, kalau saya boleh memilih lagi, karena tubuh ini titipan Tuhan, saya masih tidak ingin merokok sampai detik ini.
Ini tentang rokok dan saya.
Wrote by embunbantal, 25 April 2009, in my ordinary Saturday.
kalo aku otomatis batuk2 rejan gitu deket orang merokok sampe orangnya ketakutan sendiri. hahahahaha........
ReplyDeletewah kau harus mengajarkan caranya padaku spu..;p
ReplyDeletelho, adek ku bukannya selalu batuk karena kurang minum air dan kurang olahraga yah? Hihih..
ReplyDeleteerr...itu emang bawaan sih spu, jadi susah buat diajarin, heheheh.
ReplyDeleteTapi aku bisa melatihmu pura2 muntah atau menatap orang dengan pandangan sinis :p
itu masnya, darah tinggi karena kurang minum air dan olahraga :p
ReplyDeleteeh, nggak sepuluh menit kemudian yaaa... paling nggak setengah jam lah itu.
ReplyDeletengg...iya deh, 25 menit.
fine....fine...20 menit.
oke! 15 menit! FINAL!
CEREWET!!
=P
aku kurang jago spu untuk 2 hal ini, pura2 muntah, adanya muntah beneran. pandangan sinis, jagonya pandangan melas...hehe...
ReplyDelete@jupri: yeah in yur drim hunny..tapi aku benar2 menunggu moment km berhenti merokok:)
ReplyDelete