Friday, November 21, 2008

Pembicaraan pintar ala keluarga embun bantal

Sebenarnya waktu nungguin calon mempelai kakak sampai di Slipi, embun bantal dan yana, sepupunya, cari-cari bahan obrolan. Dan akhirnya nemu beberapa kosa kata yang cukup berkualitas.

Acara lamaran itu terjadi di rumah keluarga Lombok, tapi kubu nyokap dari Madiun juga turut hadir. Diantara personel tersebut: Ada eyang tersayang, my beloved mama, tante gw beserta anak bungsunya, Yana.

Kembali ke topik awal, ini beberapa kosa kata yang kita kumpulin selama 3 jam.

Bote’ : bahasa Lombok artinya monyet. Karena ga tua ga muda, pada manggil Bote, sebutan ini justru sebutan sayang, buat adik, kakak, anak, keponakan.

‘ga lulus jadi perempuan’ : istilah ini sering diucapkan tante gw. Bahwa seorang perempuan harus lulus keahlian di dapur. Baik itu mengolah makanan, menyimpan dan mencuci piring, menggunakan alat perkakas dengan cekatan, mengangkat galon dan tentu saja, semua dilakukan sembari menonton infotainment. Bagian menonton infotainment ini yang lebih saya dalami.

Food Management : istilah yang ditujukan untuk mengatur lauk pauk didalam piring. Kalau penempatan tidak tepat akan mengubah rasa sebenarnya. Food management akan terjadi pula apabila combining terjadi secara tidak tepat, seperti mencampur rawon ala madiun dan ayam taliwang ala Lombok. Dua rasa yang sama-sama enaknya akan menghancurkan semua rasa. Karena itu perlu sistem yang tepat dari awal mengatur komposisi makanan diatas piring dan timing yang cukup untuk mengosongkan perut kemudian mengisi kembali.

Fruit management : biasanya orang awam menyebutnya mix fruit. Atau bahasa populernya: Es Buah. Yaitu kegiatan mengatur dan membuat komposisi tepat dan seimbang antara buah segar, nata de coco, buah kaleng, sirup kental, dan air dingin. Kata kunci yang tepat dari keseluruhan sistem ini adalah balancing.

Public Display Affection (PDA) : Kegiatan ini dilarang keras dilakukan didepan keluarga besar. Yaitu menunjukkan hubungan romantisme yang mengarah pada kegiatan ‘dunia milik berdua, yang lain ngontrak’ terutama bagi anak dan sang pacarnya. Kegiatan ini dianggap tidak bermanfaat bagi seluruh keluarga. Karena keluarga masih tinggal di rumah yang sama dan belum memutuskan mengontrak.

Public Rejection : Biasa dilakukan anak besar terhadap anak yang lebih kecil (keponakan, anak, sepupu) yang masih dibawah 5 tahun. Anak seumuran ini biasa mengalami public rejection ditengah keluarga ketika menumpahkan air, memukul jidat kakaknya dengan sisir atau pegangan pintu tanpa alasan, mencibir kemudian membuang makanan di lantai, berteriak kencang saat ada tamu, dan berusaha melompat dari lantai 2 ke lantai 1.

Wedding composer/wedding arranger : Karena belakangan keluarga lagi tren menikah, kami membutuhkan orang-orang yang ahli dibidang ini. Akibat biaya terbatas untuk menyewa Wedding Organizer, maka sebutan keluarga yang ahli menata pernikahan ini kami sebut wedding arranger.

Local Genius Trans Relationship : sebutan ini muncul, karena seringnya kami memiliki sahabat perempuan. Alhasil kegiatan ini hampir disebut kegiatan homo. Ngomong-ngomong homo, maka tercetus bahwa hubungan sesama jenis adalah hubungan yang sangat jenius. Karena butuh usaha keras, untuk bersama jenis kelamin yang sama. Kata kunci adalah Challanging.



see...begitu banyak istilah2 baru dalam keluarga yang menunjukkan intelektualitas tingkat tinggi...huaaammmm



hehe...


Monday, November 17, 2008

august rush...embun bantal on vacation




setelah 1 tahun tanpa cuti, akhirnya lega juga bisa berlibur..gw dan monica, temen satu angkatan, satu kantor. hehe emang cuma bedua sih satu angkatan nya..

sempat jadi ga jadi, bingung milih destinasi..dan akhirnya gw n monce milih JKT- BKK- KL - JKT

ini beberapa foto di bangkok kemarin


monce n mince on vacation. 17-21 aug 2008

Thursday, October 30, 2008

Kehilangan

Lagi-lagi saya berada di tempat ini. Menunggu Jupri di Starbucks Sarinah. Dengan bangku yang sama kami duduk terakhir kalinya.

Masih dengan pakaian kantor, rok abu-abu dan cardigan hitam membalut turtle neck mocha yang saya kenakan didalamnya. Malam itu, riasan di wajah saya sudah memudar. Hanya sedikit eye shadow yang tertinggal di kelopak mata. 

“Umur 25 tahun, ga mengubah penampilanmu ya mik?”, sapa Jupri saat dia mendatangi meja yang saya duduki.

Saya tidak memesan green tea bleended seperti biasanya. Iya, tanpa pesanan malam ini. Saya hanya duduk menunggu Jupri selesai meminum caramelnya dan membiarkan ia menghisap rokoknya dalam-dalam.

Udara malam itu dingin. Mungkin karena hujan sepanjang hari. Entahlah, malam itu benar-benar mendung bergelayut dengan rintik hujan tanpa koma. Saya jadi teringat kembali ketika seseorang pernah mengatakan, sebentar lagi angin akan membawa hujan ke Jakarta. Saat itu, saya hanya menganggap omongannya sambil lalu.

Tapi ternyata ia benar. Kali ini, ia meninggalkan hujan itu disini.

Padahal, ia pernah janji akan mencari cara menghapus mendung di langit Jakarta.

Sekelebat dialog yang pernah terjadi itu teringat kembali.

 

Saya memandang novel Tony Parson “Man and Boy”, yang saya bawa diatas meja, bersama asbak yang dipenuhi puntung rokok. Teronggok, menanti untuk dibaca.

Nanti malam ya… seakan-akan saya berbicara pada novel itu.

Sudah terlalu lelah untuk dipendam begitu lama. Pembicaraan malam itu tampak begitu emosional. Saking emosionalnya, saya hanya bisa menahan air mata.

 “Manangislah”, Jupri bilang sambil mengusap rambut saya, sembari mendengarkan sebuah rasa yang menempa hati saya.

“Iya, beri aku waktu untuk menangis.” Saya tahu, Jupri sudah menjadi tong sampah dalam kehidupan saya. Setelah saya meninggalkan pesan offline lewat YM, ia tahu saya membutuhkannya malam ini.

Ada satu hal penting yang saya rasakan malam itu. Rasa kehilangan yang teramat besar menghinggapi diri saya.

Kalau saja saya bisa mengatakan perasaan kehilangan itu. Tapi saya tidak ingin mendramatisir sebuah perasaan.

Ini hanya masalah seseorang yang datang dan pergi. Begitu saja. Tidak ada penjelasan lain. Meski saya tahu, badan saya bergetar ketika mengucapkan kata kehilangan itu.

Malam itu, saya baru menyadari betapa pentingnya seseorang, saat orang itu benar-benar pergi.

Betapa dulu saya ingin mengatakan banyak hal kepadanya, namun sekuat tenaga saya menekan semua itu. Agar hanya saya saja yang mengetahui perasaan itu.

Malam itu pula, saya berjanji, saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan bersama seseorang, siapapun itu. Saya berjanji akan menggunakan waktu sebaik-baiknya dan menghargai waktu yang diberikan saat itu juga. Karena saya tidak pernah tahu kapan mereka akan pergi dari hadapan saya. 

 

 

sepenggal episode embun bantal

Wednesday, October 29, 2008

hanya jutaan perasaan yang sebentar menghinggap

Tidak ada yang perlu dibicarakan petang ini.

Seperti pada malam-malam sebelumnya.

Seperti kehidupan yang begitu saja berjalan didepan kita.

Tanpa sesuatu yang berarti.

Tidak ada keajaiban yang perlu dibuat-buat

Dan semuanya serba terbaca.

Kalau aku menengadah dan menatap malam

Tidak ada kegalauan yang perlu dipikirkan

Tidak juga harus tersenyum dengan apa yang tidak pernah ada

Dan ada sebelumnya

 

Aku mengumpulkan puluhan buku malam ini

Hanya ingin menemukan satu rangkaian kalimat yang membuatku hidup

Aku mencoba menemukan ayatmu

Sekalinya dalam kehidupanku

Biarkan semua membuatku bersyukur atas kehadiranmu

Atas semua yang aku dapatkan


Seperti itulah..






Sunday, October 19, 2008

Seberapa besar saya ingin melarikan diri?

Hampir sepanjang hidup, I guess..haha… ya saya sudah banyak menghabiskan waktu untuk berlari, menghabiskan tenaga dan pikiran untuk menjadi pelari terbaik, dan menghabiskan ribuan alasan kenapa saya masih harus terus berlari.

Melarikan diri dari orang tua, melarikan diri dari kota yang membuat adrenalin stagnan, dan ketika sampai di Jakarta, rasa-rasanya juga ingin melarikan diri dari hirup pikuk yang membuat muak hari demi hari.

Mungkin itu pula yang saya lakukan malam itu. Saya baru keluar kantor pukul 8 malam, dan langsung mencari teman saya, Jupri. Saya menghabiskan waktu dengan omong kosong sampai pukul 12 malam, dan meneruskan menulis sampai pukul 3 pagi. Melarikan diri dari ketegangan-ketegangan yang terjadi belakangan ini.

Ketegangan yang saya ga ngerti kenapa harus muncul dan apa permasalahan sebenarnya. Sepele, tapi justru membuat saya tidak bisa berpikir jernih, dan hampir kehilangan kepercayaan diri saya. Sesuatu yang membuat tenggorokan saya tercekat, karena saya sudah ga rela air mata saya keluar. Saya ga tahu bagaimana memecahkan masalah ini menjadi bukan masalah buat diri saya. Dan malam itu lagi-lagi saya ingin segera angkat kaki melupakan semua masalah.

Jadi bisa disimpulkan, melarikan diri adalah hobi saya. Contoh : melarikan diri dari kehidupan sosial, setelah 5 hari kerja. Saya akan sangat-sangat pelit membagi waktu 2 hari itu pada teman, pada keluarga, pada siapapun yang meminta waktu 2 hari saya yang berharga, bahkan sebuah televisi pun tak mampu mencuri waktu 2 hari saya. Saya larut mengurung diri di kamar seharian, membuka laptop, dan menulis seperti ini. Melarikan diri. Ya sekali lagi saya mengulang kebiasaan ini.

Lama kelamaan saya terus menikmati semua ini. Kalau saya tidak suka, kalau saya merasa diintimidasi, kalau saya tidak suka diperlakukan semaunya, maka lebih baik diam dan melarikan diri. Tanpa ada opsi A, saya langsung loncat memilih opsi B.   

YASMINNNNN…teriak Jupri! Oke kita memang suka melarikan diri, kita selalu mencari alasan pembenaran. But you can not run anyway, huney! Hadapi masalah itu. Okeh, mungkin dengan melarikan diri kita akan menemukan ruang buat kita bernafas. Tapi kita sama sekali tidak menyelesaikan masalah dalam diri kita sendiri, sayang.

Tentukan sikap. Buang jauh-jauh pikiran melarikan diri. Hadapi yang memang harus dihadapi, ketika semua orang berusaha menjadi pengecut, menjadi penjilat, berusaha menjadi kambing congek dan membuat kamu ikut-ikutan jadi kambing congek kupret, bahkan kambing hitam yang congek. Please Yasmin, jangan biarkan itu terjadi. Dan jangan lari dari semua ini.

Jangan biarkan orang lain yang menentukan sikapmu, jangan biarkan seseorang membuat kamu ga percaya sama diri sendiri. 

Percayalah apa yang terjadi sampai dengan saat ini adalah sebuah pilihan. Sebuah konsekuensi dari apa yang kamu lakukan sekarang.

Tentukan sikap, sayang,…

Ahh Jupri, kenapa kita harus mendiskusikan ini semua kalau kau tahu sebenarnya, aku benar-benar menikmati ajang pelarian diri ini…

(Yasmin at starbucks sarinah, with Jupri, 10-12pm)

Becoming 25.

Tuhan,

Aku tahu ada begitu banyak peristiwa dalam kehidupan ini lebih dari yang aku pahami

Ada begitu banyak senandung musik yang membuat orang bahagia dari lagu-lagu sederhana yang biasa aku dengar

Ada begitu banyak tetes air mata yang menunjukkan kesedihan paling dalam lebih dari yang aku rasakan

Dan aku tahu, ada banyak kuasa diatas ku, lebih dari kuasaku sebagai manusia

 

Terlalu banyak kehidupan hebat dari sekadar kehidupanku yang kecil dan sederhana ini

Yang aku yakin, aku tahu, aku masih berada dalam lingkaran kebahagiaan yang Kau ciptakan untukku

Sekadar tertawa, tersanjung, bahkan terharu

atau mengeluh, kecewa dan mencaci maki atas ketidakadilan yang kuhadapi,

Aku tahu aku masih berada dalam lingkaran kebahagiaan Mu.

Aku tahu kehidupan yang Kau ciptakan untukku adalah bagian terbaik yang pernah terjadi dalam hidupku

 

Terimakasih atas proses setiap detik yang terus menghidupkanku

Terimakasih karena Kau memberikan orang-orang terbaik sepanjang hidupku

Terimakasih atas dunia yang Kau ciptakan untukku

Terimakasih atas kepercayaanmu, bahwa aku masih punya seribu gerakan untuk terus menemukanMu selama hidupku

Terimakasih karena Kau terus berlari dan percaya bahwa aku akan selalu mencari Mu

Terimakasih karena ketika aku tersandung, Kau menungguku untuk bangkit dan berjalan kembali untuk Mu

Tuhan, berikan kepercayaan itu terus menerus.

Aku percaya, bahwa hidupku ini hanya untuk menamakan Mu dalam proses detik-detik kehidupanku

Karena ada seribu nama yang kupercaya itu petanda dari Mu

Aku tak akan diam dalam satu tempat untuk menemukan Mu,

karena kau berada dalam setiap jagat kehidupan ini

Dalam setiap nafas yang kusenandungkan, dan dalam kedipan mata yang tak terurai wujudnya

 

Terimakasih atas kesempatan ke 25 ini.

Happy birthday embunbantal.

My Last 24

Ini hari terakhir, embun bantal berusia 24 tahun. Satu malam yang saya ingat, pada saat saya berada di Starbucks Citos, bersama seorang manajer media virtual yang baru saja saya kenal 2 jam sebelumnya, saya mengatakan padanya, bahwa 24 tahun adalah usia terbaik yang pernah saya miliki. Saya mencintai angka ini dan menikmati detik-detik proses yang saya jalani sepanjang 1 tahun ini.

Celetukan itu mengingatkan saya kembali bahwa hari ini adalah hari terakhir saya berusia 24.

Hmm..saya harus meninggalkan angka 24 tahun ini.

Kemudian menuju angka 25 tahun. Lalu apa arti 25 tahun?.

Kata orang tua, perempuan yang menginjak usia tersebut sudah matang berpikir untuk melangkah lebih lanjut ke tahap hubungan pernikahan. Seakan-akan semua mengisyaratkan bahwa hentikan candamu sayang, sana ikuti suamimu berada dan mengabdilah…

Kata orang tua, perempuan di usia tersebut adalah masa-masa subur, nanti kalau lebih dari masa tersebut, bakal susah melahirkan, bakal susah punya anak. Biar usiamu dan sang anak tidak terlalu jauh perbedaannya.

Kalau makna 25 tahun hanya seperti itu, lebih baik saya kembali ke masa usia 15 tahun saja. Dimana saya belum beranjak 17 tahun. Dimana saya belum boleh pacaran. Dimana saya hanya diijinkan memikirkan pelajaran sekolah. Dimana saya hanya punya masalah dengan topi sekolah dan dengan terpaksa memakainya saat upacara bendera. Dimana saya hanya boleh keluar rumah sampai batas jam 8 malam. Dimana saya hanya diam-diam menyukai seorang teman yang memijam PR saya tanpa berani mengutarakan perasaan. Dimana saya belum boleh menonton film-film dewasa. Dimana saya masih sah merengek untuk dibelikan sepatu hitam seperti milik teman-teman yang lain.

Mungkin rasa penasaran saya sebagai ‘Anak Baru Gede’ yang kepengeeeen banget cepat-cepat berusia 17 tahun itu lebih menyenangkan ketimbang saya menanti usia 25 tahun ini.

Mungkin…

Kalau saja mantra orang tua itu tidak begitu menakutkan, mungkin saya akan menanti-nanti 25 tahun ini dengan sangat tidak sabar, sama seperti 10 tahun yang lalu.

Kalau saja, 25 tahun ini bukan hanya persoalan badaniah saja. Saya pasti harap-harap cemas menanti pergantian hari.

 

Lalu apa makna 25 tahun bagi saya?

 

 

Saya sendiri belum tahu apa yang terjadi di usia 25 tahun ini. Tapi saya tahu, saya belum selesai dengan pelajaran berdamai dengan diri saya.

Tentang nilai-nilai yang mengukung kehidupan saya selama ini, dan bagaimana saya mencoba untuk berdamai dengan nilai-nilai tersebut.

Ditengah pelajaran berdamai ini, saya menyadari hal penting dalam kehidupan yang saya  jalani saat ini. Keinginan yang saya harapkan dalam hidup ini. Menjadi Yasmin yang merdeka, yang selalu berusaha mendengar dan berkompromi dengan setiap kata hatinya, yang berani melangkah, yang tidak perlu membohongi diri sendiri tentang kehidupan yang ingin dijalaninya hanya karena ingin membahagiakan orang lain. Saya memilih untuk membahagiakan dan mencintai diri saya. Karena saya tahu, saya harus belajar mencintai diri saya sebelum saya benar-benar mencintai diri saya.

Beruntungnya, ditengah pencarian makna ini, saya masih berada diantara orang-orang berharga dalam hidup saya. Teman, sahabat, keluarga, orang-orang istimewa dalam hidup saya, dan mereka masih berada diantara saya.

Saya tahu, saya tidak perlu menjadi orang no.1 di hati mereka. Saya tak perlu memilih dan menjadikan salah satunya sangat-sangat berarti. Cukup ketika satu waktu bersama mereka, saya bisa menjadi diri sendiri dan mendapat respek yang baik. Itu satu kebahagiaan yang tak bisa saya utarakan. Betapa saya menyimpan momen demi momen kehidupan saya.

Terimakasih Tuhan untuk kesempatan usia ini. Semoga, saya menjadi manusia yang lebih berarti buat diri saya, orang-orang disekitar saya, membuat diri saya bisa sangat bahagia, dan menjalani semua ini dengan penuh rasa syukur. Amin.

 

Happy reborn day embun bantal. Semoga hidup kedepan lebih baik.