Ini hari terakhir, embun bantal berusia 24 tahun. Satu malam yang saya ingat, pada saat saya berada di Starbucks Citos, bersama seorang manajer media virtual yang baru saja saya kenal 2 jam sebelumnya, saya mengatakan padanya, bahwa 24 tahun adalah usia terbaik yang pernah saya miliki. Saya mencintai angka ini dan menikmati detik-detik proses yang saya jalani sepanjang 1 tahun ini.
Celetukan itu mengingatkan saya kembali bahwa hari ini adalah hari terakhir saya berusia 24.
Hmm..saya harus meninggalkan angka 24 tahun ini.
Kemudian menuju angka 25 tahun. Lalu apa arti 25 tahun?.
Kata orang tua, perempuan yang menginjak usia tersebut sudah matang berpikir untuk melangkah lebih lanjut ke tahap hubungan pernikahan. Seakan-akan semua mengisyaratkan bahwa hentikan candamu sayang, sana ikuti suamimu berada dan mengabdilah…
Kata orang tua, perempuan di usia tersebut adalah masa-masa subur, nanti kalau lebih dari masa tersebut, bakal susah melahirkan, bakal susah punya anak. Biar usiamu dan sang anak tidak terlalu jauh perbedaannya.
Kalau makna 25 tahun hanya seperti itu, lebih baik saya kembali ke masa usia 15 tahun saja. Dimana saya belum beranjak 17 tahun. Dimana saya belum boleh pacaran. Dimana saya hanya diijinkan memikirkan pelajaran sekolah. Dimana saya hanya punya masalah dengan topi sekolah dan dengan terpaksa memakainya saat upacara bendera. Dimana saya hanya boleh keluar rumah sampai batas jam 8 malam. Dimana saya hanya diam-diam menyukai seorang teman yang memijam PR saya tanpa berani mengutarakan perasaan. Dimana saya belum boleh menonton film-film dewasa. Dimana saya masih sah merengek untuk dibelikan sepatu hitam seperti milik teman-teman yang lain.
Mungkin rasa penasaran saya sebagai ‘Anak Baru Gede’ yang kepengeeeen banget cepat-cepat berusia 17 tahun itu lebih menyenangkan ketimbang saya menanti usia 25 tahun ini.
Mungkin…
Kalau saja mantra orang tua itu tidak begitu menakutkan, mungkin saya akan menanti-nanti 25 tahun ini dengan sangat tidak sabar, sama seperti 10 tahun yang lalu.
Kalau saja, 25 tahun ini bukan hanya persoalan badaniah saja. Saya pasti harap-harap cemas menanti pergantian hari.
Lalu apa makna 25 tahun bagi saya?
Saya sendiri belum tahu apa yang terjadi di usia 25 tahun ini. Tapi saya tahu, saya belum selesai dengan pelajaran berdamai dengan diri saya.
Tentang nilai-nilai yang mengukung kehidupan saya selama ini, dan bagaimana saya mencoba untuk berdamai dengan nilai-nilai tersebut.
Ditengah pelajaran berdamai ini, saya menyadari hal penting dalam kehidupan yang saya jalani saat ini. Keinginan yang saya harapkan dalam hidup ini. Menjadi Yasmin yang merdeka, yang selalu berusaha mendengar dan berkompromi dengan setiap kata hatinya, yang berani melangkah, yang tidak perlu membohongi diri sendiri tentang kehidupan yang ingin dijalaninya hanya karena ingin membahagiakan orang lain. Saya memilih untuk membahagiakan dan mencintai diri saya. Karena saya tahu, saya harus belajar mencintai diri saya sebelum saya benar-benar mencintai diri saya.
Beruntungnya, ditengah pencarian makna ini, saya masih berada diantara orang-orang berharga dalam hidup saya. Teman, sahabat, keluarga, orang-orang istimewa dalam hidup saya, dan mereka masih berada diantara saya.
Saya tahu, saya tidak perlu menjadi orang no.1 di hati mereka. Saya tak perlu memilih dan menjadikan salah satunya sangat-sangat berarti. Cukup ketika satu waktu bersama mereka, saya bisa menjadi diri sendiri dan mendapat respek yang baik. Itu satu kebahagiaan yang tak bisa saya utarakan. Betapa saya menyimpan momen demi momen kehidupan saya.
Terimakasih Tuhan untuk kesempatan usia ini. Semoga, saya menjadi manusia yang lebih berarti buat diri saya, orang-orang disekitar saya, membuat diri saya bisa sangat bahagia, dan menjalani semua ini dengan penuh rasa syukur. Amin.
Happy reborn day embun bantal. Semoga hidup kedepan lebih baik.
bukannya harusnya:
ReplyDelete"Menjadi 'embun bantal' yang merdeka"?? =D
happy birthday eniwei