Sunday, October 19, 2008

Seberapa besar saya ingin melarikan diri?

Hampir sepanjang hidup, I guess..haha… ya saya sudah banyak menghabiskan waktu untuk berlari, menghabiskan tenaga dan pikiran untuk menjadi pelari terbaik, dan menghabiskan ribuan alasan kenapa saya masih harus terus berlari.

Melarikan diri dari orang tua, melarikan diri dari kota yang membuat adrenalin stagnan, dan ketika sampai di Jakarta, rasa-rasanya juga ingin melarikan diri dari hirup pikuk yang membuat muak hari demi hari.

Mungkin itu pula yang saya lakukan malam itu. Saya baru keluar kantor pukul 8 malam, dan langsung mencari teman saya, Jupri. Saya menghabiskan waktu dengan omong kosong sampai pukul 12 malam, dan meneruskan menulis sampai pukul 3 pagi. Melarikan diri dari ketegangan-ketegangan yang terjadi belakangan ini.

Ketegangan yang saya ga ngerti kenapa harus muncul dan apa permasalahan sebenarnya. Sepele, tapi justru membuat saya tidak bisa berpikir jernih, dan hampir kehilangan kepercayaan diri saya. Sesuatu yang membuat tenggorokan saya tercekat, karena saya sudah ga rela air mata saya keluar. Saya ga tahu bagaimana memecahkan masalah ini menjadi bukan masalah buat diri saya. Dan malam itu lagi-lagi saya ingin segera angkat kaki melupakan semua masalah.

Jadi bisa disimpulkan, melarikan diri adalah hobi saya. Contoh : melarikan diri dari kehidupan sosial, setelah 5 hari kerja. Saya akan sangat-sangat pelit membagi waktu 2 hari itu pada teman, pada keluarga, pada siapapun yang meminta waktu 2 hari saya yang berharga, bahkan sebuah televisi pun tak mampu mencuri waktu 2 hari saya. Saya larut mengurung diri di kamar seharian, membuka laptop, dan menulis seperti ini. Melarikan diri. Ya sekali lagi saya mengulang kebiasaan ini.

Lama kelamaan saya terus menikmati semua ini. Kalau saya tidak suka, kalau saya merasa diintimidasi, kalau saya tidak suka diperlakukan semaunya, maka lebih baik diam dan melarikan diri. Tanpa ada opsi A, saya langsung loncat memilih opsi B.   

YASMINNNNN…teriak Jupri! Oke kita memang suka melarikan diri, kita selalu mencari alasan pembenaran. But you can not run anyway, huney! Hadapi masalah itu. Okeh, mungkin dengan melarikan diri kita akan menemukan ruang buat kita bernafas. Tapi kita sama sekali tidak menyelesaikan masalah dalam diri kita sendiri, sayang.

Tentukan sikap. Buang jauh-jauh pikiran melarikan diri. Hadapi yang memang harus dihadapi, ketika semua orang berusaha menjadi pengecut, menjadi penjilat, berusaha menjadi kambing congek dan membuat kamu ikut-ikutan jadi kambing congek kupret, bahkan kambing hitam yang congek. Please Yasmin, jangan biarkan itu terjadi. Dan jangan lari dari semua ini.

Jangan biarkan orang lain yang menentukan sikapmu, jangan biarkan seseorang membuat kamu ga percaya sama diri sendiri. 

Percayalah apa yang terjadi sampai dengan saat ini adalah sebuah pilihan. Sebuah konsekuensi dari apa yang kamu lakukan sekarang.

Tentukan sikap, sayang,…

Ahh Jupri, kenapa kita harus mendiskusikan ini semua kalau kau tahu sebenarnya, aku benar-benar menikmati ajang pelarian diri ini…

(Yasmin at starbucks sarinah, with Jupri, 10-12pm)

2 comments: