Tuesday, April 29, 2008
Cinta Sejati Inggit Soekarno
Inggit tidak mengeluh. Tidak menangis. Demikianlah cinta Inggit pada Soekarno. Cinta semata-mata karena cinta. Tidak luka ketika dilukai dan tidak sakit ketika disakiti. Tanpa pamrih tanpa motivasi.
Orang yang mengerti dan setuju poligami tidak berpoligami. Orang yang tidak mengerti dan tidak setuju poligami justru berpoligami. Contohnya Soekarno dan Agus Salim. Mereka berpolemik panjang lebar soal poligami. Soekarno tidak setuju karena dianggapnya poligami adalah perendahan harkat dan martabat kaum perempuan. Sebaliknya Agus Salim setuju karena pengertian beliau yang mendalam tentang agama.
Beberapa tahun kemudian mereka bertemu. Soekarno istrinya banyak, sementara Agus Salim tetap beristri satu. Akhirnya segala sesuatu dikembalikan kepada niatnya.
Kata Huttaqi, yang luar biasa adalah istri pertama Soekarno, bu Inggit. Apabila Soekarno diibaratkan api, maka bu Inggit adalah kayu bakarnya. Inggit menghapus keringat ketika Soekarno kelelahan. Inggit menghibur ketika Soekarno kesepian. Inggit menjahitkan ketika kancing baju Soekarno lepas. Inggit hadir ketika Soekarno muda membutuhkan kehangatan perempuan baik sebagai ibu maupun teman.
Inggit bagi Soekarno laksana Khadijah bagi Nabi Muhammad. Bedanya Nabi Muhammad setia hingga Khadijah meninggal sedangkan Soekarno tidak. Dia kawin lagi, melangkah ke gerbang istana dan Inggit pulang ke Bandung, menenun sepi.
Dalam kamus hidupnya bu Inggit hanya ada kata memberi. Tidak ada kata meminta. Bu Inggit menjual bedak, meramu jamu dan menjahit kutang untuk nafkah keluarga. Sementara Soekarno seperti singa yang mengaum dari satu podium ke podium berikutnya. Pikirannya tercurah untuk untuk pergerakan. Inggit yang setia mencari uang. Inggit mencinta karena cinta, tanpa pamrih tanpa motivasi.
Suatu malam di jalan Jaksa, kedua pasang mata bertemu. Soekarno berkata, "Aku cinta padamu". Inggit tersipu menunduk dalam-dalam sambil mempermainkan ujung kebaya. Itulah cinta yang dibawakan Inggit dengan mesra, tanpa suara tanpa kata-kata, tanpa bahasa.
Kejadian yang sangat lazim dan sederhana tetapi merupakan kejadian penting yang terlupakan oleh segenap bangsa. Inggit menemani Soekarno yang terlunta-lunta di pembuangan. Jauh di pulau Ende lalu di Bengkulu, Inggit tetap menemani. Bu Inggit merupakan baterai bagi kehidupan Soekarno yang menderita.
Tetapi di ujung masa penjajahan Soekarno berkata pada Inggit,
"Eulis aku akan menikah lagi supaya punya anak seperti orang-orang lain."
"Kalau begitu antarkan saja aku ke Bandung!" Jawab Inggit.
"Tidak begitu. Maksudku engkau akan tetap jadi istri utama. Jadi first lady seandainya kita nanti merdeka."
"Tidak. Antarkan saja aku ke Bandung," jawab Inggit lagi.
Akhirnya Soekarno mengantar Inggit ke Bandung. Kembali tinggal di jalan Tjiateul dan Soekarno balik ke Jakarta. Dalam kesepiannya Inggit selalu berdoa bagi kebaikan Soekarno. Inggit kembali menjual bedak, meramu jamu dan menjahit kutang sebagai nafkah. Dagangannya dititipkan di toko Delima. Inggit tidak mengeluh. Tidak menangis. Demikianlah cinta Inggit pada Soekarno. Cinta semata-mata karena cinta. Tidak luka ketika dilukai dan tidak sakit ketika disakiti. Tanpa pamrih tanpa motivasi.
Bila anda di Bandung lewatlah Jl Ciateul yang sibuk dan panas itu, sekarang dinamakan Jl Inggit Garnasih. Tampak sebuah rumah lama dicat baru, katanya disitu dulu Inggit tinggal dan akan dijadikan museum. Tengoklah isinya ... kosong melompong. Tak ada yang ditinggalkan oleh Inggit selain satu pelajaran tentang CINTA.
adopted from http://m.yusuf.web.id/v20/enerlife/index.php?act=detail&p_id=488
Thursday, April 24, 2008
Aku sedang berbicara pada tubuhku
Aku bicara pada tubuhku, tampaknya dia hanya ingin menyendiri lagi
Sepotong blueberry cheese cake serta sekerat kue gandum menemaninya sore ini.
Tak lupa secangkir earl grey tea yang mengepul panas.
Sesekali ia terdiam..tidak..tidak…ia memang banyak terdiam
Tak banyak berubah dan tidak memindahkan ketukan jemari yang membelai meja kayu dihadapannya
Sesekali tinta biru digoreskan oleh jemari kanannya ke dalam buku harian yang semakin menebal saja
Iya, sekali lagi ia menghela nafas yang panjang,
Kemudian mengambil majalah terbaru bulan ini, membuka halaman demi halaman, kemudian menutup kembali, tanpa arti.
Sesekali sms terdengar memanggilnya
Ia melirik lirih, kemudian membuka satu pesan untuknya
Diluar sana, tidak tersentuh
Tidak tergambarkan, tapi ia tahu, jauh disana ia mengerti
“Ketika aku tulis surat ini kabut tipis meringis sinis. Pagi masih buta, tak cukup peka untuk melihat apa-apa.
Irene tersesat berkali-kali diudara, mencari cinta lamanya disini…
Jalanan basah terlanjut merampas jejak-jejak bekas sepatunya juga biografi dan tahi lalatnya.
Perlahan garis tubuhnya melayang, tenggelam lalu begitu saja hilang diurai hujan
Irene yang malang..
Lalu aku lihat irene lain menjelma kunang-kunang diatap bangunan
Menari nari dan melesat seperti anak-anak kembang api
Mereka berlarian sepanjang garis khayal pedestrian yang mabuk dibangku taman
Membunuh orang-orang sakit dalam drama 9 babak itu
Tiba-tiba kota ini jadi sarang pencundang…
Seperti kantung mata yang mulai menggantung
Pagi masih juga buta ketika ingin kuakhiri semuanya
Sebelum tersesat diudara dan hilang diarak hujan…
Irene, ini aku dimana?
Buat irene untuk pelarian yang sempurna”
Sebuah pesan dari Temmy
Aku tersenyum simpul
Lagi-lagi, pemuda ini mengirim pesan singkat agar dirinya memahami
Semua berawal dari langkah pertama, bukan jalan ditempat
Seperti apa yang dikatakan Temmy berkali kali padaku
Temmy, jangan katakan padaku kalau tebing itu terlalu tinggi
Katakan saja, kalau sayap yang akan kukepakkan akan menarikku keatas
Itu saja.
-Embun Bantal, 25 April 2008-
menunggu
Wednesday, April 9, 2008
Minggu yang mulai kacau...
Hari ini gw telat bangun pagi, telat mandi, tidak ada baju dan musti nyetrika pagi2, tidak sempat bikin susu cokelat, dan ketinggalan bis. Gw pun memilih perjalanan ke kantor dengan busway, sambil terkantuk2.
Hari ini pekerjaan seperti biasanya, email-email ke semua klien, telepon klien dan mastiin semua uda terima penawaran gw, kirim media profile, rapiin berkas2 yang menumpuk berhari2 di meja. Yap, emang gw sedikit aneh akhir2 ini, ga biasanya gw ninggalin file ga beres diatas meja. Kenapa ya…heran sendiri.
Meja gw jadi sedikit berantakan. Kenapa ya…bolpen mulai ilang, post id pada diambilin anak2, tidak ada gunting dan alat tulis juga mulai pada ilang, majalah pada numpuk, laci mulai berisi hal2 yang ga penting, bon2 berserakan…Arghhhh gw juga ga bikin laporan keuangan pribadi, tidak menulis berapa uang yang gw keluarin tiap hari nya, bahkan tidak mengingat gw ngeluarin duit buat kantor berapa…Arghhhh ada apa dengan diriku?????
Maria (kompi gw) juga sedikit ngambek, beberapa kali, dia suka berbunyi ringan. Gw takut aura jelek gw kena ke Maria. Yang paling parah agenda gw kena susu cokelat dan gw belum sempat ganti, jadi bayangin betapa joroknya tu agenda.
Koran2 pada berceceran dibawah meja, goody bag terbengkalai dan sepatu dibawah meja tersimpan tidak rapi dan gw juga bete banget ga nemu koran2 buat jualan. Yang pada akhirnya membawa protes kepada OB, kenapa koran tidak ada di gudang. Persiapan jualan yang sedikit tersendat, dan akhirnya gw telat 1 jam ke klien, di puterin ma supir taksi, karena gw lupa letak kuningan. Hallloooooo yasmin whats wrong with you huney??
Ga ngerti kenapa ya…
Benar2 kacau…mana rok yang gw pakai retsletingnya ga beres…
Yasmin
Yasmin
Slow down baby…yang lo butuhin Cuma ketenangan. Adakah yang membuat gw tenang dalam hidup ini
Ya ampun istighfar, Tuhan tolong bantu aku… sadarkan saya Tuhan…sadarkan
Sunday, March 30, 2008
Terlalu banyak bintang diantaramu
Terlalu banyak bintang di sekelilingmu yang buatku menoleh padamu
Memandangmu hanya sebuah keindahan
Dan aku tau bintang tak bisa disentuh, ia hanya terlalu indah dipandang
Aku mencoba menerangkan biruku saat hujan membasahiku
Agar aku tetap bisa memandangmu saat itu
Karena aku akan terus menganggapmu suatu yang indah dimataku
Aku pun mengingat-ngingatmu sebagai bintang hidupku
Mulai menyanyikan senandung hati untukmu
Aku pikir aku terlalu banyak memandangmu
Hingga aku lupa bahwa malam telah menggelayuti tubuhku
Dalam gelap itu, aku harap cahayamu jadi terangku
Dalam gelap itu, aku harap bintangmu dapat tampak lebih nyata meskipun diantara rintik hujan
Iya, tapi aku tahu malam semakin larut
Semuanya begitu gelap. Semuanya begitu dingin, dan semuanya begitu kelam
Memandangmu ternyata tak cukup melindungiku dari dinginnya malam
Memandangmu ternyata tak cukup membuatku aman diantara kegelapan malam
Aku masih harus jalan pulang buat bisa melindungiku
Karena aku tahu, aku bukan membutuhkan bintang.
Aku tahu aku sudah terlalu lama berjalan
Dan mengharap pada bintang kehidupan dapat terangi jalan pulang
Tapi ia terlalu jauh, ia hanya bisa dipandang.
Rasi bintangnya tidak tampak nyata.
Yang kubutuhkan bukan bintang, tapi lilin yang bisa terangi hati ini
Dan membawaku pulang ke rumah
Adakah lilin buatku pulang?
Dear Ada II
Dear
Salut, je suis vers de Paris maintenant, sudah hampir Paris…
Aku sedang membayangkan kamu duduk disampingku sekarang.
Seperti biasa, kita bisa menghabiskan waktu semalam suntuk untuk terus duduk terdiam. Saat kamu diam, saat itupun pikiranmu terbang entah kemana. Seperti mencoba menggapai setiap puncak menara yang kita tuju.
Kalau dipikir-pikir kamu banyak diam ya…dan aku ga habis-habisnya merasa takjub dengan apa yang kita lihat didepan mata kita. Saat ini aku lagi menuju Champ de Mars, stasiun terdekat menara terakhir kita.
Jangan tanya ngapain aku disana. Aku hanya menunggu matahari menenggelamkan dirinya kemudian terbelah menjadi dua saat menyentuh puncak Eifel yang mulai menghidupkan bulan. Sounds great hoh? sambil dengerin Bhrams Symphony no 1. Orkestra dengan ornamen musik yang sangat detil. Kisah tentang penderitaan hidup yang ujung-ujungnya bahagia. Gara-gara Ada doyan banget dengerin Mozart lewat MP3 butut yang kukasih itu, aku jadi ketularan deh...
Setiap kali mendengarkan Bethoven atau Schubert bermain selalu ada semangat baru untuk membuka hari-hari ini. Tunggu aku disana. Aku bakal cerita banyak tentang matahari pagi yang kulihat hari ini. Oke!!
Kangen,
Arimbi

