1. My job, my daily life
Awal tahun saya sempat bilang ke Ari, my best officemate.
“Kita harus berubah Ri, tahun ini atau kita tidak pernah berubah sama sekali”, begitu kata saya mengawali perubahan itu. Saya dan dia menghabiskan banyak waktu di kantor. Mungkin sepanjang hidup saya, dalam enam tahun belakang ini, dia orang yang paling lama menghabiskan waktu bersama saya.
Sama-sama menghadapi klien, sama-sama duduk sebelahan, sama-sama punya atasan sama dan dia orang Bandung sama kayak suami saya. Jadi kadang meskipun saya ga bisa bicara sama suami saya, saya suka anggap lagi ngobrol dengan Ari sama kayak ngobrol sama suami saya ;p
Kita berdua sama-sama memasukkan proposal job posting di kantor dan sepakat siapapun yang bakal jadi atasan diantara kita berdua, kita akan saling support. Senangnya bisa bersaing dengan teman-teman, khususnya dengan Ari. Melalui psikotes, wawancara dengan HRD, wawancara dengan atasan, semua dilakukan bersama dengan penuh tawa. Saya tidak merasakan persaingan sama sekali. Justru kebersamaan. Meski keputusannya jatuh ditangan saya. Sebulan kemudian Ari diangkat juga mengisi kekosongan jabatan.
Dan jadilah kita berdua di posisi yang sama saat ini.
Sama-sama memiliki atasan yang sama, sama-sama punya anak buah, sama-sama duduk bersebelahan dan dia tetap orang Bandung, persis kayak suami saya ;p
2. Looking forward my Passion
Tiga bulan lalu, thanks God saya bertemu dengan tim Rene. Membuka mata saya dan membuat saya terjaga untuk menyimpan dan menjaga terus api kecil di hati saya. Menemukan apa yang saya inginkan dalam karir itu tidak mudah. Dan bersyukur saya menemukan key word-nya. Saya berusaha untuk tidak tenggelam dalam rutinitas dan berusaha untuk belajar banyak hal. Tidak hanya masalah pekerjaan saja.
3. My 29th birthday
Ini adalah titik terendah dalam hidup saya, ketika memasuki tanggal 20 Oktober 2012 kemarin, saya sempat bertanya-tanya dalam diri sendiri. Apa benar kehidupan seperti ini yang akan saya jalani. Dulu saya selalu senang ketika menanti setiap tanggal 20. Membuat tulisan panjang tentang harapan-harapan saya. Namun di usia 29 tahun itu saya tidak bersemangat.
Saya hanya menganggap usia 29 hanya tentang melanjutkan kehidupan. Benar-benar hanya itu yang saya rasakan menjelang hari ke 20 itu.
Namun tepat tanggal 20, saya keliru. Saya menemukan kembali perasaan saya yang dulu. Memiliki perasaan seperti ini rasanya benar-benar luar biasa. Saya jadi lebih terlihat banyak melamun, tapi saya justru banyak berpikir. Saya banyak menghabiskan waktu menulis, bertukar pikiran dengan diri saya sendiri. Mencoba men-firm-kan kembali diri saya seutuhnya. Dan ini pasti sebuah proses yang panjang kedepannya.
4. My Rakheza
Buat saya, tidak ada yang lebih penting dari membuat bibirnya melengkung seperti bulan sabit. Saya jatuh hati pada anak ini. Namun krn terlalu sayang sama si kecil ini, saya sering lupa sama diri sendiri. Waktu itu dia tertidur dalam pelukan saya, berkali-kali saya bilang “I Love U” di telinganya. Tapi saya sadar, saya ga boleh posesif seperti ini, kelak usianya menginjak 18 tahun, dia akan pergi dari rumah, menjadi sosok manusia dewasa.
Setelah usianya 1 tahun kemarin, perlahan saya mulai melepasnya untuk bisa lebih mandiri.
5. Anniversary
Usia pernikahan kami sudah menginjak dua tahun Saya mengajak suami saya untuk berdua pergi ke Singapore dalam sehari. Pagi berangkat, pulang malam. Kami berjalan di taman, makan es krim wafel. Berjalan di sepanjang orchard dan makan kebab di pinggir jalan. Menghabiskan waktu di MRT. Saya lega bisa merayakan ulang tahun pernikahan
| Tas kecil yang isinya cuma dompet, hp, bando dan pasport ;) |
6. Being Ignored
Dulu saya sangat peduli dengan apa kata orang. Nanti ga elok dilihat orang, nanti ga pantes. Saya butuh pengakuan dari banyak orang sebagai status sosial. Tahun ini saya mulai sadar bahwa itu bukan prioritas utama lagi. Mungkin lebih pada, saya punya prinsip tentang menjalani kehidupan saya seperti apa. Bukan karena siapa-siapa. Tapi karena saya ingin menjalani apa yang saya anggap benar. Kedewasaan untuk menerima segala permasalahan dan hal-hal baru.
7. Home sweet home
Bagian menata rumah adalah hal yang paling saya suka saat mengisi hari libur. Namun karena si kecil, sering kali pekerjaan yang sudah dilakukan, jadi berantakan lagi. Tapi ya begitulah seninya menata rumah.
Beberapa bulan lalu, saya membeli lemari pakaian. Senangnya saya bisa nego habis buat beli lemari itu. Yang bikin seru, di dalam lemari ini, ada banyak variasi bentuk penyimpanannya. Lemari 6 pintu ini terdiri dari gantungan baju di setiap pintu, laci dimana-mana dengan bentuk bervariasi, tempat simpan underwear, atasan, dasi, kaos kaki, bahkan celana panjang. :)
Berusaha untuk lebih hidup. Itu pesan di 2012 ini..
No comments:
Post a Comment