Saturday, May 24, 2008

Dara, breaktrough of fashion performing art

Pertunjukan panggung bertajuk “Dara”, Fashion Performing Arts sudah beberapa waktu digelar di Assembly Hall – Jakarta Convention Center, tepatnya 15 April 2008. Namun konsep peragaan busana yang fenomenal ini tidak bisa dilupakan begitu saja. Musa Widyatmojo, sang desainer dan Boi G Sakti, sang sutradara berhasil menawarkan sebuah konsep baru dari sebuah peragaan busana, dipadu dengan seni tari kontemporer dan teaterikal yang mengalir mulus bak Siti Nurbaya modern.

Identitas bangsa tampak dalam detil-detil dan pemilihan warna dalam setiap busana yang dikenakan para penari dan model-modelnya. Kain songket, permainan bordir dan warna-warna berani seperti merah, hitam, emas, kuning banyak bermunculan. Aksen yang pas menggambarkan ide cerita. Musa benar-benar moncondongkan warna-warna Sumatra Barat tapi tidak melepaskan pengaruh kolonial Eropa, Timur Tengah, India dan China. Budaya-budaya yang ada disekitar Indonesia ini menjadi arsiran warna sekunder yang justru memunculkan fenomena baru dari sebuah pertunjukan.

Pemilihan karakter pas dengan sentuhan make up artistnya. Permainan batu dan aksesoris emas dengan ornamen kuno juga banyak ditemukan dalam peragaan busana yang ditampilkan.

Dentingan melayu dan china sangat akrab diawal sampai akhir paragraf pertunjukan. Pemilihan metofora sebagai simbol-simbol penceritaan terkesan mulus dan penggunaan multi media memberi warna techno yang apik dan lincah.

Cukup bikin tercengang dengan pertunjukan spektakuler seperti ini, Musa juga sangat concern dalam memperkenalkan busana tradisional bangsa di kancah internasional. Musa adalah salah satu desainer Indonesia yang mendalami bidangnya di New York, tapi inspirasinya berasal dari konsep kesederhanaan potongan dan sentuhan budaya Indonesia. Satu kata yang bisa mewakilkan perasaan pada saat itu : indah.


3 comments: