Sunday, October 19, 2008

My Last 24

Ini hari terakhir, embun bantal berusia 24 tahun. Satu malam yang saya ingat, pada saat saya berada di Starbucks Citos, bersama seorang manajer media virtual yang baru saja saya kenal 2 jam sebelumnya, saya mengatakan padanya, bahwa 24 tahun adalah usia terbaik yang pernah saya miliki. Saya mencintai angka ini dan menikmati detik-detik proses yang saya jalani sepanjang 1 tahun ini.

Celetukan itu mengingatkan saya kembali bahwa hari ini adalah hari terakhir saya berusia 24.

Hmm..saya harus meninggalkan angka 24 tahun ini.

Kemudian menuju angka 25 tahun. Lalu apa arti 25 tahun?.

Kata orang tua, perempuan yang menginjak usia tersebut sudah matang berpikir untuk melangkah lebih lanjut ke tahap hubungan pernikahan. Seakan-akan semua mengisyaratkan bahwa hentikan candamu sayang, sana ikuti suamimu berada dan mengabdilah…

Kata orang tua, perempuan di usia tersebut adalah masa-masa subur, nanti kalau lebih dari masa tersebut, bakal susah melahirkan, bakal susah punya anak. Biar usiamu dan sang anak tidak terlalu jauh perbedaannya.

Kalau makna 25 tahun hanya seperti itu, lebih baik saya kembali ke masa usia 15 tahun saja. Dimana saya belum beranjak 17 tahun. Dimana saya belum boleh pacaran. Dimana saya hanya diijinkan memikirkan pelajaran sekolah. Dimana saya hanya punya masalah dengan topi sekolah dan dengan terpaksa memakainya saat upacara bendera. Dimana saya hanya boleh keluar rumah sampai batas jam 8 malam. Dimana saya hanya diam-diam menyukai seorang teman yang memijam PR saya tanpa berani mengutarakan perasaan. Dimana saya belum boleh menonton film-film dewasa. Dimana saya masih sah merengek untuk dibelikan sepatu hitam seperti milik teman-teman yang lain.

Mungkin rasa penasaran saya sebagai ‘Anak Baru Gede’ yang kepengeeeen banget cepat-cepat berusia 17 tahun itu lebih menyenangkan ketimbang saya menanti usia 25 tahun ini.

Mungkin…

Kalau saja mantra orang tua itu tidak begitu menakutkan, mungkin saya akan menanti-nanti 25 tahun ini dengan sangat tidak sabar, sama seperti 10 tahun yang lalu.

Kalau saja, 25 tahun ini bukan hanya persoalan badaniah saja. Saya pasti harap-harap cemas menanti pergantian hari.

 

Lalu apa makna 25 tahun bagi saya?

 

 

Saya sendiri belum tahu apa yang terjadi di usia 25 tahun ini. Tapi saya tahu, saya belum selesai dengan pelajaran berdamai dengan diri saya.

Tentang nilai-nilai yang mengukung kehidupan saya selama ini, dan bagaimana saya mencoba untuk berdamai dengan nilai-nilai tersebut.

Ditengah pelajaran berdamai ini, saya menyadari hal penting dalam kehidupan yang saya  jalani saat ini. Keinginan yang saya harapkan dalam hidup ini. Menjadi Yasmin yang merdeka, yang selalu berusaha mendengar dan berkompromi dengan setiap kata hatinya, yang berani melangkah, yang tidak perlu membohongi diri sendiri tentang kehidupan yang ingin dijalaninya hanya karena ingin membahagiakan orang lain. Saya memilih untuk membahagiakan dan mencintai diri saya. Karena saya tahu, saya harus belajar mencintai diri saya sebelum saya benar-benar mencintai diri saya.

Beruntungnya, ditengah pencarian makna ini, saya masih berada diantara orang-orang berharga dalam hidup saya. Teman, sahabat, keluarga, orang-orang istimewa dalam hidup saya, dan mereka masih berada diantara saya.

Saya tahu, saya tidak perlu menjadi orang no.1 di hati mereka. Saya tak perlu memilih dan menjadikan salah satunya sangat-sangat berarti. Cukup ketika satu waktu bersama mereka, saya bisa menjadi diri sendiri dan mendapat respek yang baik. Itu satu kebahagiaan yang tak bisa saya utarakan. Betapa saya menyimpan momen demi momen kehidupan saya.

Terimakasih Tuhan untuk kesempatan usia ini. Semoga, saya menjadi manusia yang lebih berarti buat diri saya, orang-orang disekitar saya, membuat diri saya bisa sangat bahagia, dan menjalani semua ini dengan penuh rasa syukur. Amin.

 

Happy reborn day embun bantal. Semoga hidup kedepan lebih baik.

 

 

 

Friday, October 10, 2008

Ijinkan saya menjadi diri sendiri

Terkadang kau ingin mengatakan padanya,
Bahwa kau ingin mencintainya
Tapi kau tahu, dia tak akan mengerti apa yang kau ucapkan
Dan tak mau mengerti itu semua
kau pun berpikir untuk buang jauh-jauh pikiran itu

Saat kau menembus malam dengan kecepatan 120km/jam
Kau hanya ingin melalui malam kelam tanpa bintang secepatnya
Sesegera mungkin
Tidak ada maksud yang berarti
Hanya ingin melalui jalanan itu begitu saja

Kemudian kau pergi menghabiskan waktumu di dalam kamar
Dan seperti biasa, kau hanya ingin menulis sebait puisi
lalu menikmati buku-buku yang menghangatkanmu
Kau tahu, bahwa tidak ada lirik lagu yang bisa menghantar tidurmu
Dan kata kesepian mungkin menjalar dalam pikiranmu
Kau tahu bahwa kali ini dunia mulai memainkan nada yang berbeda
Hmmm..mungkin

Tapi kau hanya butuh waktu untuk menghapal liriknya
Itu saja

Ketika temanmu mengatakan bahwa kehidupan yang kau pilih sangat menakutkan
Tapi percayalah
Tidak ada yang lebih menakjubkan selain menjadi diri sendiri

Aku tahu ini sebuah kisah yang ingin kamu urai dan kisah itu akan berakhir menakjubkan
Jangan pernah takut melangkah
Bahkan detik-detik yang sudah mengubahmu

Kau tahu, yang ingin kamu lakukan hanya menjadi dirimu sendiri
Itu saja


Embun bantal, Madiun, 28th Sept 2008

Beruang di pagi hari.




Berkeliaran di sepanjang rumah tanpa penghuni.
Bermain di sudut-sudut ruangan.
Berharap masih ada madu yang tersisa.
Atau ruangan penuh karpet menghangatkan bulu-bulu tebalnya

Beruang..beruang..
Kalau kau bisa terka siapa robinson yang selalu mengenakan kaos kuning
Atau para prajurit yang menidurkan beruang kutub?
Kau pasti dipenuhi dongeng seribu satu malam
Haha,
beruang – beruang penggurutu..

Tuesday, October 7, 2008

Halal bihalal on the road!!




Mimpi adalah kunci
Untuk kita menaklukan dunia
Berlarilah tanpa lelah
Sampai engkau meraihnya

Laskar pelangi, Takkan terikat waktu
Bebaskan mimpimu diangkasa
Warnai bintang di jiwa

Menarilah dan terus tertawa
Walau dunia tak seindah surga
Bersyukurlah pada yang kuasa
Cinta kita didunia selamanya

Cinta kepada hidup
Memberikan senyuma abadi
Walau hidup kadang tak adil
Tapi cinta lengkapi kita

Laskar pelangi, Takkan terikat waktu
Jangan berhenti mewarnai jutaan mimpi di bumi

(nidji-laskar pelangi, 2008)

Halal bihalal on the road, 4 oct 2008 at lembah sarangan.
Awalnya hanya duduk2 di stasiun, dan akhirnya bikin rencana ke sarangan bareng temen2 sma dulu. Senang, karena mereka selalu ada disepanjang masa embun bantal.

Seseorang yang Mampu Mencium Tuhan

Masuklah ke rumahku larut malam

Janganlah malu

Hafizh akan bertelanjang kaki dan menari

Aku akan berada dalam perasaan yang begitu agung

Dan tulus..

 

Ketuklah pintu jam berapapun

Sekalipun matamu

Merinding oleh cahayaku

Kalbu dan tanganku terbuka

Dan tiada pernah istirahat

Yang akan selalu menyambutmu

 

Masuklah, kekasihku

Dari dunia yang tergesa

Yang telah menghujani bebatuan

Pada wajahmu yang lembut

 

Lihat!

Tersembunyi dibalik kakimu

Panggung bercahaya

Tempat kita berlatih

Tarian abadi kita

 

Lihat kedalam syairku yang merdu

Karena Hafizh sedang bertelanjang kaki dan menari

Dan sedang dalam perasaan yang demikian agung dan tulus…

 

(Hafizh : Aku Mendengar Tuhan Tertawa)

 

 

 

Photograph by embun bantal, 2008

hide and seek

Kalau aku menaruh remah-remah bertebaran disepanjang jalan ini

Akankah seseorang mengikutiku dari belakang?

 

Kalau aku bermain petak umpet

Adakah seseorang menemukanku?

 

Kalau aku berlari sekencang-kencangnya,

Kapan aku tiba di tempatnya tepat pada waktunya?

 

Kalau aku tersesat di tengah labirin

Adakah orang yang merasa kehilanganku?

 

Ijinkan aku menitipkan pesanku padanya

Kepada orang yang akan memungut remah-remah itu,

Yang menemukan tempat persembunyianku

Yang mencariku ditengah labirin

 

Katakan padanya,

Aku telah membawa peta menuju dermaga

Katakan padanya

 

(Embun Bantal, 7 Oct 2008)

Syududu..




Syudududu…serdadu..serdadu
Mari-mari berkumpul
Coba teh yang baru saja kuseduh
Lihat, asapnya mengepul panas
Seperti mata-mata telanjang, ingin menerka siapa musuh mereka

Syududududu…serdadu..serdadu..
Tampaknya seragam itu melelahkanmu
Coba lihat betapa damainya bumi ini
Malam mencoba menjamu bintang-bintang dalam pesta kebunnya
Jangan khawatir, biarkan saja semua bergaduh
Biarkan saja mereka mengadu
Toh teh ini masih mengepul panas
Mari-mari coba dulu…

(Bangkok, 17 Sept 2008)