Ada ya konsep jawa, ntah dari mana sumber bukunya, salah satu teman kuliah saya, sempat berbagi cerita kepada saya. Begini konsep perempuan jawa…
Seorang perempuan hidup sesuai kodratnya. Dia akan jadi istri dan ibu dari anak2nya
Seorang istri akan mengikuti suaminya, mengasihi dikala dekat, menjaga dikala jauh, menentang dikala suaminya berucap yang tidak di porsinya
Seorang perempuan memegang trah keturunan, bukan lelaki. Jadi perempuan yang baik akan melahirkan anak2 yang baik
Anak yang tumbuh dengan cara yang buruk adalah tanggung jawab seorang ibu dan ketidakmampuan tempaan seorang ayah
Hidup perempuan jawa sama halnya dengan lelaki, semua berasal dari satu titik. Darma dan Karma.
Darma adalah semua tingkah, ucapan, dan batin yang kamu terapkan sehari2 menuju kebaikan. Jika kamu berdarma yang baik, karma yang muncul juga baik
Karma adalah akibat yang kamu dapat dari semua polah, batin, dan ucapan
Perempuan derajatnya lebih tinggi daripada lelaki, karena dia punya harta tak ternilai dari Tuhan di dalam tubuhnya
Di tubuhnya dia punya "kehidupan" aka womb aka rahim
That's why hiduplah sesuai darma dan karmamu karena sesungguhnya hidup itu mengulang sesuatu yang sudah ada sebelumnya. kamu bisa jadi mengulang hidup salah satu individu di keluargamu. Makanya dalam satu trah keluarga ada yang cerita hidupnya mirip
Kamu yang generasi baru harus memperbaiki kesalahan yang dilakukan pendahulumu...karena hidup itu hanya sebuah pengulangan
Alias reinkarnasi...Islam tidak kenal reinkarnasi
tapi itu yang terjadi...
Makanya kadang kita suka ngerasa dejavu
Perempuan yang tidak menikah dinamakan "madat" menyalahi kodrat…perempuan yang berjuang untuk hidupnya harus paham bahwa di satu sisinya ia bukan memperjuangkan eksistensi dirinya tapi secara tidak sengaja dia mencoba memperbaiki hidup keturunannya sebelumnya
Kesalahan yang terjadi dalam hidup adalah lecutan yang harus di perbaiki oleh keturunan-keturunanmu selanjutnya. Kamu yang mengalami harus menyucikan diri. Caranya mudah....dan ini diakui dalam islam "tobat dan ikhtiar”.
Tulisan ini bikin saya sedikit merenung…
*Ding
atau merinding ya...

