Monday, February 18, 2008

Dear Ada,

Malam ini bulan benar-benar sedang mengamuk. Aku sampai pusing bagaimana cara menenangkannnya. Aku menunggu berjam-jam sampai ia bisa kembali tenang. Menunggu sambil membayangkan bagaimana kalau bulan bersanding dengan menara eifel. Tapi saat ini matahari merenggutnya dari malam kekuasaannya. Matahari benar-benar angkuh. Tapi bukan begitu kehidupan jagat semesta ini. Sesekali selalu ada saja yang iri dengan kebahagiaan yang lain. Aku tidak menyalahkan matahari, terkadang bulan juga demikian. Meski demikian, gerhana matahari dilangit tidak mempengaruhi malam cinta disini.

Eifel memang menara paling indah seperti katamu, dan menara yang paling romantis yang pernah kulihat. Malam ini rupanya cinta sedang bertumpah ruah. Banyak pasangan disini dan aku seperti biasa, menunggu emailmu disalah satu bangku taman. Sesekali memandang danau yang tenang.

Ada, kamu dimana? Di rig? Tempat biasa kamu menghabiskan waktumu? Bagaimana bulan di Qatar? Apakah matahari mencoba merebut kebahagiaannya juga disana?

Kangen,

 

Arimbi

 

 


A Paragraph Ada Untuk Arimbi – by embun bantal

Sunday, February 10, 2008

Malam kelabu

Awan mengepul menghitam, warna langit menjadi jingga marah. Yap, malam ini tidak ada hujan yang menghampiri. Air yang biasa membasahi bumi, berganti dengan awan hitam yang bukan petanda mendung, tapi petanda api yang sedang marah, menjilat-jilat perumahan penduduk.

Bergidik juga melihat warna merah api bercampur kelabu itu. Kebakaran tersebut memang tidak jauh dari kos gw…HUAAAA yasmin…baru aja 3 hari ngerasa home sweet home di kos, karena ga kemana-mana, harus ditakut-takuti dengan sang api…(kalau pernah baca postingan gw tentang persiapan menghadapi kebakaran, nah inilah saatnya bung, tuk buktikan kelihaian menyelamatkan diri)

Waktu itu gw sedang mengerjakan laporan buat besok meeting, dan seketika itu juga, gw menutup laptop memasukkan kedalam tas, berikut dengan ijasah. Dan..hm kemudian berpikir membawa DVD player baru gw, sepatu kerja, bletzer..arghhhh hentikan Yasmin..bawa HP, kartu ATM ma jaket. Titik.

Sambil ikut-ikutan nerves, gw pun datengin beberapa anak kos yang sedari tadi memandang sang monster api pasrah.

“Waduh jangan-jangan sampai ke tempat kita, ga lagi deh, masak untuk ketiga kalinya sih”

Gw melirik tajam ma tu temen kos gw, yaikss…bagaimana bisa gw memilih tempat idup gw di jakarta, yang ternyata api paling doyan main-main kesini.

Menurut pengakuan mereka, kejadian terakhir terjadi di belakang kos. Waktu itu kekacauan sempat terjadi. Dan untungnya Cuma 4 rumah yang kelalap api. Ngeri juga dengerinnya. Bayangin kejadian itu terjadi lagi, gw pasti uda nangis meraung-raung. Dan sekarang pun udah kejadian didepan mata gw…belum selesai menerima kejujuran teman kos, lampu diseluruh pemukiman penduduk pun mati lampu. 

 

Mama, aku mau pulang kampung ma…aku tak angon sapi wae ma…

desaku yang damai nan permai, desah gw sambil mengingat-ingat saat gw berada diatas sapi dan membajak sawah leluhur..(ini boong)

 

 

Saat kecemasan melanda, apakah tu api bakal mendekat ke kos atau ga, gw pun mencetuskan ide brilian.

“hei, gimana kalo kita datengin tu api”

“hah”

“Iya”

“Kenapa? Kenapa tidak menghubungi pemadam kebakaran saja”

“Itu mah uda ada yang manggil. Yang kita butuhkan adalah kepastian api tu dimana, uda sampai mana, biar kita tidak digantung-gantungkan gini ma si api dan keadaan”

“Tapi, kalau kita datang kesana, trus si api uda nyamperin kos kita gimana”

“Hmm iya juga sih”, gw pun berpikir keras.

“Yah gini aja, mending kita kesana, sambil cari makan malam??”

Entah kenapa temen2 kos gw pada manggut-manggut dan ngikutin apa kata gw. Sebenarnya yang gw butuhkan temen makan malam aja sih…

Lampu sepanjang gang padam

Suasana makin mencengkam

Dan satu titik, gw pun menangkap beberapa pria berkumpul di satu warung

Sambil kecemasan tingkat tinggi, gw datengin tu warung

Entah kenapa warung itu lampunya ga mati dan entah kenapa para bapak-bapak berkumpul disana

Ada kah korban jiwa disana??

Gw mulai tak sabar menanti oleh-oleh paman dari desa (halah..jaka sembung)

Setelah gw datengin tu warung ,

busyyeeet dah…ternyata bapak2 itu sedang nonton bola. Karena rumah mereka pada mati lampu

 

Melihat fenomena begini gw miris

Bagaimana bisa suasana duka, orang-orang kehilangan rumah tinggal, masyarakat tetangganya masih mentingin bola

Gw sumpahin tu acara bola yang digelar di Bandung itu ga ada suporternya..(ya emang disabotase kali miiinnn ><)

 

Sumpah serapah sudah keluar, kini gw dan temen-temen kos gw ngelanjutin perjalanan mara bahaya.

Perjalanan ini ternyata lama juga, secara gelap gulita, meraba-raba dinding yang bertebaran disepanjang jalan.

Sang asap mulai kelihatan batang hidungnya

Dan Gw pun bisa melihat sang api melalap apa yang bisa dimakan ma ketimun dan kemangi.

 

Usut punya usut ternyata api itu ada diseberang jalan tol, tepat di area eksekusi satpol PP yang mengambil lahan warga untuk dijadikan taman penghijauan.

 

Sedih, karena kebakaran itu katanya emang disengaja, biar semua warga bisa cabut dari lahan tersebut.

Sedih karena gw sebagai anak FISIP yang biasa demo dijalanan, setelah kerja gini ga bisa ngapa-ngapain

Sedih karena orang hanya bisa menyaksikan tanpa berbuat apa-apa

Tanpa bisa melakukan apa-apa, karena kita dipisahkan jalan tol.

Gw pun mengajak temen2 kos gw balik. Ga ada yang bisa kita lakuin disini. Kita pulang aja.

 

Saat itu malam masih terasa sepi, gw makan siomay gelap-gelap, sambil menatap mata nanar…

 

                                                                                     

                                                                             Wrote by embun bantal

 

Friday, February 8, 2008

hari ga ngapa-ngapain..^^

Hari ini full di Kos…hoho…rasa syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, Allah Maha Besar atas hari indah yang diciptakan Nya.

Untuk merayakan full day in the kost, gw pun menuju indomaret, mulai mengisi amunisi milo, indomilk penggemuk, roti, keripik kentang, yoghurt, yoghurt dan yoghurt, pear, jeruk, kiwi, anggur, apel, hehe yang aneka buah hasil rampokan kulkas kantor tadi malem dan beli ketoprak dipinggir jalan.

Kata temen : “besok kembali kerja kan? Sebegitu banyak kah makanan yang harus dipersiapkan??”

Ini hari kemenangan buat diri sendiri, ya iyalah harus dirayakan…teringat kata-kata supir taksi kemarin, ngapain kerja capek-capek kalau ga beli makanan…bener tuh…kehidupan mah harus disyukuri terus…

Orang bilang tahun baru imlek, banyak hujan banyak rejeki dan untuk menghayati renungan ini pula, gw memilih berada di kos.

Jarang banget bisa berada di kos sendirian. Kl ga kerja, ada aja yang ngajak ketemuan ataupun jadwal ketemu ma keluarga. Hari ini, spesial gw persembahkan kepada diri sendiri.

Saking kangennya ma kos, gw memulai dengan tradisi mengepel lantai 3 kali, cuci baju, nguras kamar mandi, bikin steril peralatan kebersihan, dan mulai masuk dengan kegiatan inti yaitu :

1.    Tidur di karpet sambil makan kripik kentang yang mulai berserakan remah-remahnya

2.       Mijet-mijet tombol TV pake kaki, karena remote TV diatas lemari baju, males ngambil

3.       Nyalain laptop seharian, nungguin ide menulis muncul kembali, tapi ga satupun ide brilian keluar dari otak yang makin tumpul ini

4.       Ambil yoghurt, langsung teguk, buang cupnya pake kaki ke tong sampah, ga nyampe, jadinya Cuma menggelinding di lantai. Memandang tanpa makna kemudian kembali peluk-peluk guling..Hoho

5.       Garuk-garuk rambut sambil mikir enaknya shampoan ga hari ini, kemudian memutuskan sebaiknya ditunda besok hari

6.       Sekelibat terpikir kerjaan besok, tidak..tidak..kembali konsentrasi nonton gosip dari satu channel ke channel lainnya

7.       Karena buahnya nongkrong aja diatas lemari, mulai bagi-bagi ke anak-anak kos lainnya

8.       Ngeliatin langit mendung siap-siap kembali berebah dan ambil selimut…

9.       Nungging-nungging ga jelas, kemudian menempel ke dinding-dinding..dingin..brrr..ini adalah tindakan selingan yang bisa dilakukan untuk mengisi kekosongan waktu

10.   Tergeletak tak berguna sambil nyalain HP dimatiin dinyalain dimatiin lagi.

11.   Tidur-tidur ayam, tidur-tidur kucing, dan akhirnya tidur beneran…

Berada di kos seharian itu mukjijat di tahun baru Imlek..5 hari full kerja, weekend sosialisasi ma temen, keluarga ditambah les dan beres-beres rumah.

Tidak melakukan apa-apa sambil tidak memikirkan apa-apa ternyata sangat menyenangkan. Ga kerasa waktu cepat berlalu..besok akan segera tiba…dan kembali bekerja…

 

Liburan yang menyenangkan 

 

Wednesday, December 19, 2007

idul adha dan aku

Sudah lama rasanya tidak menyentuh blog ini...Benar-benar hari yang membuat saya terlena dengan pekerjaan. Liputan fesyen yang berjalan cukup menyenangkan kemarin, seremonia yang bikin saya mabuk..karena hampir semua perusahaan bikin event akhir tahun.

Jam 7.45 malam yang seharusnya saya berada di sebuah rumah hangat bersama keluarga, dalam malam takbir, tapi harus saya alami di kantor. Sendiri, menunggu kepastian iklan besok Minggu.

Kemarin, seorang kawan lama sempat menyentak saya dengan perkataannya. "Min, kamu ga bisa menempatkan diri dimana km harus berada bersama keluarga, teman atau dikantor".

Perkataan itu sempat membuat saya terdiam.

Saya tidak bisa menjelaskan padanya kenapa saya terlalu fokus pada pekerjaan dibandingkan hal2 lain, ms. rumah, keluarga, teman. Seakan-akan saya terlihat menforsir diri dan terlalu banyak menguras tenaga untuk bekerja.


Saya benar-benar tidak bermaksud melupakan bagian lain dalam kehidupan ini. Benar-benar tidak mengerti apakah yang saya lakukan itu benar-benar sebuah keinginan, tujuan hidup, kesenangan.

Saya hanya terbuai dengan pekerjaan, itu saja, Dunia ini membuat aku terbuai...:)








Friday, November 23, 2007

Dini..

Musim hujan belum seharusnya jatuh bulan ini

Tapi kenapa air matamu terlanjur banyak yang jatuh?

Bukankah terlalu awal surat-surat cinta itu terkirim untuknya

Sementara udara disini masih saja dingin seperti kemarin-kemarin...


-temi-

Wednesday, November 14, 2007

Jakarta Kelabu

Jakarta kelabu kemarin, setelah berhasil lolos dari kemacetan luar biasa, pulang-pulang…kamar kos sudah dipenuhi air. Karpet plus kasur pada ga tau diri, tidak menyingkir dari kenyataan banjir.

 

Katanya sih kemarin hujan angin, pohon-pohon pada runtuh. Tapi yang meruntuhkan hati, gue kemarin sok simpati pada tetangga sebelah, melihat dia lagi beres-beres kasur saat gue pulang kerja.

 

“Lhoh mbak, banjir ya”

“Iya nih, loe ga tau, tadi hujan angin. Tuh lukisan kakak2 loe gue simpenin. Pada kemana-mana. Kasur kita kena nih”

“Masak sih…, mbak, gue punya karpet, mau pinjem buat tidur malam ini?”

“Gapapa kok, kita biasa tidur dilantai”

“Oo gitu ya, kalau mau pinjem karpet, pinjem aja. Ntar bilang kalau butuh.”

 

“Lhoh min, loe sendiri ga liat kamar loe??”

 

“Iya ya, kamar gue gimana ya...??” (*tuing...)

 

Kyyaaa…gue sok simpati ternyata kamar gue juga kena …hiks..hiks….

 

Hasilnya hari ini, badan gue kesakitan plus kesemutan karena tidur di lantai dingin, gue datang terlambat ke kantor karena sibuk njemur kasur, dan meeting gue ma klien di cancel pagi ini.

 

 

Sekarang lagi ngantuk tuk…tuk…huaaammm…

Wednesday, November 7, 2007

aku hanya ingin kau tau

Aku tidak marah padamu

Aku tidak ingin marah padamu

Dan aku selalu berharap kemarahanku tidak pernah ada padamu

Aku tidak kecewa padamu

Aku tidak ingin kecewa padamu

Dan aku selalu berharap kekecewaanku tidak pernah ada padamu

Yang kuinginkan hanya satu…

 

Duduk bersamamu

Beri aku kesempatan untuk bisa duduk bersamamu

Akan kubuatkan secangkir kopi hitam pekat untukmu

Sebungkus Djarum pun tlah ku siapkan untukmu

Mari kita duduk bersama

 

Didepan halaman depan yang kau rawat dengan kasihmu

Didepan bunga-bunga yang kau tanam dengan cintamu

Sambil kau bersihkan lensa dari kamera tua yang kau rawat baik

Kamera yang melebihi usiaku

Temani aku di beranda itu…

 

Aku memintamu untuk diam sebentar

Duduklah disampingku

Tidak perlu bicara…Tidak perlu

Karena aku hanya ingin kau mendengarkan saja

Dengarkan ceritaku

 

 

Saat usiaku 9 tahun

Aku berjalan di satu jalan setapak hutan lindung Sumatera

Aku berjalan sendiri dengan baju putih merahku dan termos yang masih menggantung dipundakku

Aku merasakan sensasi kesendirianku

Aku tahu sejak itu aku akan sangat menikmati sensasi itu

 

Saat usiaku 14 tahun

Aku mengayuh sepeda mungilku, di tengah sebuah taman.

Aku duduk disana sambil makan rujak yang kubeli dari sisa uang jajanku

Sambalnya jatuh menempel di seragam putih biruku

Aku duduk disalah satu ayunan tua.

Aku duduk sampai petang menghinggap..dan malam pun mulai beranjak

 

Ketika usiaku 16 tahun

Aku mengambil beberapa pakaian ke dalam tas kecilku.

Tak lupa seragam putih abuku.

Aku mengambil kunci sepeda motor

Malam begitu dingin, aku mengencangkan speedonya

Aku hanya ingin berlari sekencang-kencangnya

 

Saat usiaku beranjak 18 tahun,

Saat hasil ujian negara meyakinkanku

Aku tahu, akhirnya aku mendapat tiket kebebasanku!!

 

Saat usiaku beranjak 20 tahun,

Aku mengenakan stocking hitam dan eyeliner pedas dimataku

Aku menggenggam gaji pertamaku 

Sejak itu pula, aku yakin setiap detik akan melahirkan satu sensasi yang membuatku ingin terus hidup

 

Saat usiaku beranjak 22 tahun

Aku berlari dari satu tempat ke tempat lain dengan tape recoderku

Aku berlari dengan sepatu kets kuning hasil jerih payahku.

Aku tau dari setiap langkahku, aku bisa mendapatkan sensasi kesendirian itu lagi  dan lagi

 

Saat usiaku menjelang 24 tahun

Aku duduk di satu bis antar propinsi,

Duduk sendiri termenung

Aku mulai merasakan kebebasanku itu sekali lagi

Melebih sensasi kebebasan yang dulu-dulu

 

Aku hanya ingin kau tahu, bahwa di setiap detik itu aku menikmati kehidupanku

Dan aku hanya ingin kau mendengar kisah 14 tahunku yang terlewat begitu saja darimu…

 

 

Tapi waktu tetap saja berlalu,

Tanpa pernah ada beranda itu

Tanpa pernah ada perbincangan ini

Kau tetap saja bicara

Kau masih saja berbicara tanpa mendengar satu bagian dari kisahku

 

Dan aku hanya diam

Kembali diam seperti biasanya

Karena hanya ingin membuat hatimu senang

Dan kau bilang, “Maafkan, semua ini salahku”

Dan aku hanya diam tanpa satu kata pun

Tak ada rasa yang bisa kuungkapkan

Karena aku tidak ingin marah padamu

Karena aku tidak ingin kecewa padamu

Karena aku tidak ingin menangis untukmu

 

Aku hanya melihat langit semakin malam pekatnya

Sang pelaju tetap memaksaku untuk terdiam

Tanpa amarah, tanpa kekecewaan yang berarti

Tanpa air mata bahkan tak ada satu perasaan tergurat di benak ini

Tidak ada

 

Hanya saja,

Pada satu malam Malioboro

ketika seorang pria senja memanggul dagangan bakiaknya

Melangkah satu demi satu tungkai kakinya yang keriput

Tiba-tiba aku menangis…

Aku menangis sejadi-jadinya