Monday, March 21, 2011

My 18 weeks pregnancy

Kandungan sudah hampir menginjak 18 minggu atau 4 bulan lebih 2 minggu. Dedek semakin sehat saja. Makan ga rewel, semua bisa dimakan tanpa rasa mual dan semua makanan tampak menyenangkan :)

Mual memang terjadi di trimester pertama tapi tidak terlalu menyulitkan. Biasanya kejadian muntah terjadi kalau badan memang benar-benar lelah dan stress, wajar si dedek juga kesulitan menerima keadaan itu.
Pernah satu kali ada badai angin yang kencang sekali. Saat itu saya sedang menyeberang jembatan busway. Besoknya saya muntah hebat sekali.

Pernah juga satu kali terjebak di kemacetan yang sangat panjang. Dari pagi sampai sore berada di jalanan ibukota. Dalam perjalanan sore kembali ke kantor, saya pun muntah hebat di dalam taksi.
“Maafkan pak supir..”
Perjalanan ke rumah Bandung juga sempat membuat saya muntah keesokan harinya.
Saya beri kesimpulan, saya tidak boleh terlalu capek secara fisik.




Ketika menginjak trimester kedua, ada masalah baru yang muncul. Tiap pukul dua siang, perut akan terasa kencang dan keras.
Great...apa ini?? Sebagai ibu hamil pertama memang perubahan-perubahan seperti ini akan membuat bingung.
Saya BBM ke dokter kandungan dan dia menyarankan saya harus bedrest.
Bedrest apa dok?
Kamu ga tau bedrest?? Turun dari tempat tidur saja tidak boleh apalagi kerja. Begitulah penjelasan si dokter yang membuat saya enggan bertanya lagi.
Saya diberi surat ijin dokter untuk bedrest selama 1 minggu. Namun setelah saya masuk kembali bukannya tambah membaik, keadaan memang lebih buruk lagi. Saya tidak bisa jalan dengan baik, saya coba memaksakan diri untuk berdiri dan jalan, walhasil jalan saya bisa terbungkuk-bungkuk menahan sakit.

Dokter kandungan saya selalu bilang kalau saya bersugesti kelelahan. Jadi kalau kamu bilang kuat, ya akan kuat. Begitulah sarannya. 

Karena saya juga ga mau dibilang terlalu bersugesti, saya tetap memaksa bekerja normal seperti biasa. Dan hasilnya sangat sempurna saya pingsan juga di mushola karena rasanya membuat saya sakit tidak bisa bergerak. Bahkan jari-jari saya pun membiru karena kekurangan oksigen. Seluruh tubuh saya kaku. Betapa kalutnya diri saya, saya langsung memegang perut dan mengatakan pada si dedek untuk kuat.

Kantor melarikan saya ke rumah sakit terdekat. Sebelumnya dilarikan, suami saya datang sangat cepat ke kantor dan dengan heroik membopong saya ke kursi roda. Momen itu membuat saya semakin sayang sama suami. #Damnitstrue. Saya diopname di rumah sakit terdekat, bukan rumah sakit bersalin langganan saya selama 3 hari 2 malam. Disanalah saya bertemu dengan dokter kandungan saya yang sekarang.

Nah pengalaman inilah yang ingin saya share...


Memilih rumah sakit bersalin dan dokter kandungan seperti mencari jodoh dalam waktu singkat.

Ketika tahu kita mengandung, saat itu kita diberi pilihan untuk memilih puluhan rumah sakit yang ada di kota kita. Mau yang dekat rumah, mau yang terkenal, mau yang mewah, mau yang budget tipis. Ada semua.  
Pengalaman saya : saya mudah terjebak dengan kebiasaan untuk memilih rumah sakit terkenal atau dokter senior yang tepercaya. Nyatanya hal tersebut tidak membawa manfaat cukup baik buat saya dan si bayi.
Bayangkan anda antri cukup lama di rumah sakit terkenal ditambah dokter senior cepat sekali memeriksa anda. Kalau anda tidak bertanya maka kita akan melewatkan kesempatan untuk tahu lebih banyak tentang kondisi bayi kita saat itu. Tau-tau kita sudah diberikan resep dokter dan membayar tagihan cukup gemilang harganya.

Saya masih ingat pertama kali saya memeriksakan diri, tidak sampai 15 menit pemeriksaan saya harus menebus 1,25 jt rupiah. Saya pikir itu harga yang lumrah... ternyata maahhaaalll...Karena rumah sakit terkenal dan dokter senior itulah yang membuat saya coba mengiyakan prosedur cepat dan mahal ini.


Dokter senior yang saya temui seringkali menggampangkan urusan kehamilan ini dan menganggap masalah ibu hamil kurang lebih sama setiap masing-masingnya.


Sebagai contoh, tensi darah saya selalu rendah dari awal pemeriksaan, baginya hal ini bukan menjadi masalah. Padahal saya sempat pingsan karena tekanan darah yang rendah itu.
Si dokter juga tidak melarang makanan apa saja yang tidak disarankan bagi penderita tekanan darah rendah. Padahal kalau si ibu tidak bisa menjaga tekanan darahnya, resiko untuk bayi prematur juga bisa saja terjadi. Tidak boleh terlalu tinggi dan tidak boleh terlalu rendah. Untuk si ibu bertensi rendah maka ibu harus banyak makan protein tinggi dan mengurangi makanan yang bisa menurunkan tekanan darahnya.  
Padahal kalau dia bisa memerhatikan keadaan yang saya alami tentunya dia sudah punya keputusan. Nyatanya uterus saya mengalami kontraktif berulang hal ini bisa menyebabkan persalinan prematur.
Karena itu coba  perhatikan gesture si dokter sejak awal,apakah dia cukup memberikan perhatian kepada kita, apakah dia memeriksa tidak hanya jabang bayi saja tapi kesehatan si ibu juga. Apakah dia bertanya keseharian ibu, naik turun tanggakah, bagaiman cara ibu bekerja, mengeluarkan tenaga fisik atau tidak, riwayat kesehatan si ibu. Tentu saja itu akan menjadi pertimbangan bagaimana si ibu bisa melewati hal ini semua. Well, ini perlu diperhatikan lho..


Pengalaman lain, dokter senior seringkali memeriksa keadaan bayi tanpa menjelaskan kepada si ibu kalau tidak ditanya.
Hmm haruskah kita biarkan ini terjadi selama 9 bulan? Saya rasa tidak, karena kita yang menjalani semua ini.

Pengalaman teman, bayinya tidak tertolong. Setelah ditelusuri si bayi sudah terkena virus dan sudah lama mengalami hal ini sejak lama. Saat ditanya bagaimana menjalani pemeriksaan, ia mengaku dokter kandungannya pelit bicara dan menganggap masalah kehamilan sama dari satu ibu ke ibu yang lain.
Perhatikan ini!!  Kita sudah membayar rumah sakit, sudah membayar biaya dokter dan dia harus mau menjelaskan secara detail apa yang kita butuhkan dan apa yang tidak kita ketahui dan harus diketahui.

(Bukan menganggap dokter dewa lho.. tapi kita perlu seseorang untuk sharing soal kehamilan kita, siapa lagi orang yang kita percaya selain dokter)
Dokter bisa menjelaskan bagaimana perkembangan bayi, keadaan detak jantung, tulang belakang, pembentukan organ dalam, ukuran kepalanya, lingkar perut, dan membantu kita membaca USG bayi. Ini tentu saja butuh kesabaran bagi seorang dokter. Dokter yang baik mau mengerti hal ini dan mau menjelaskan semuanya satu per satu. Kalau kita tidak paham, dia pun tidak sungkan untuk membuat kita mengerti.
Dokter senior lagi-lagi menggampangkan. Ketika saya berpikir untuk tetap kembali ke rumah sakit terkenal itu karena masih percaya pemeriksaan dokter senior -pada saat tak terduga, saya masuk UGD untuk kedua kalinya- sayapun kembali ke rumah sakit ini dan ditangani bidan disana. Sang bidan menanyakan kepada saya kronologis kehamilan dan riwayat kesehatan saya.
Beberapa saat kemudian, saya diminta untuk opname. Wait...wait...
Kenapa saya harus diopname?  Ya yang seperti ini harus diinfus dan diopname, jawab singkat si bidan. Tapi kenapa? Jelaskan..paksa  saya.
Bidan pun berputar-putar jawabannya tidak saya pahami sebagai orang awam. Pada akhirnya dia menyalahkan saya sebagai ibu yang baru hamil pertama. “Ibunya nih yang manja, kalau begini ini biasanya otot yang mengembang. Itu biasa bagi orang hamil. Namanya juga bayinya berkembang terus”
“Saya butuh dokter saya untuk menjelaskan keadaan saya.”
“Ya dokter ga janji bisa datang” singkatnya.

Ya..Ya.. saya lupa kalau dokter senior ga mau repot untuk datang dan mengecek si pasien yang dibilang si bidan manja itu.
Kalau bidan ini yang nantinya yang akan menemani persalinan kita.. pikir-pikir lagi deh.
Ga mau kan saat persalinan nanti sedang sakit-sakitnya si bidan Cuma nenangin begini, "Ibu jangan manja ya"
Pada akhirnya sebagai pasien kita dihadapkan pada pilihan apakah mau bertahan di rumah sakit terkenal dengan dokter senior yang ogah-ogahan menerangkan keadaan kita.

Atau mencari dokter kedua yang mau menjelaskan setiap detail perkembangan bayi, membuat kita senang dan lega sepulang dari rumah sakit.

Kembali pada pilihan...


Semoga dedek dalam kandungan sehat selalu sampai tiba masa persalinannya...
Mama Cuma bisa berdoa dan berusaha yang terbaik buatmu nak...
I love u my little star



2 comments:

  1. aku juga punya pengalaman sama dokter senior mbak. priksanya kilat banget, dan aku merasa nggak dapet apa2 dari priksa itu.. pas aku priksa ke dokter "junior", aku malah appreciate bgt, hampir setengah jam dia meriksa aku, nanyain ini itu, detail banget. Aku jadi merasa mendapat pengetahuan baru ttg bagaimana menghadapi penyakitku.. :)

    ReplyDelete
  2. iya kadang ga enaknya dokter senior sih gt.
    Tp dl aku pernah ke dokter spesialis paru2 yang uda senior juga, sama juga sih kurang detail tp krn sebelumnya ke dokter yg lebih muda asal diagnosa paru2ku..
    hmm emang kl jadi pasien ga boleh pasrah gt aja, jadi baiknya emg punya second opinion..

    ReplyDelete