Aku terduduk dalam cengkraman buku fiksiku
Dalam bayanganku,
Aku hanya terdiam tanpa sinar matahari pagi hangat yang biasa menerpa rambutku
Debu debu memainkan nadanya,
mereka menari diatas sinar yang menyelinap melalui jendela
Kadang dingin merayap tak biasa dalam perjalananku ke rumah ibu
Aku tak tahu bagaimana bersembunyi dari rasa dingin itu
Jangan terlelap, begitu kataku
Saat mataku terpejam
Aku bisa merasakan kebekuan menusuk nusuk tulang punggungku
Iya sekali lagi aku terdiam
Sekelebatan dancing fountain bergoyang tanpa senandung
Iya sekali lagi tanpa warna temaram lampu kota yang menghujani malam itu
Aku sedang tidak menunggu, sadarku
Bukan dia yang terkena batu kryptonite
Aku pikir dia pun sudah berlalu memunggungiku tanpa sempat menjemput penantian
Aku hanya menunggu waktu yang salah saja
Sederhana Irene, kembalilah membaca fiksimu
Dia hanya seorang yang punya kisah hidup datang dan berlalu
Iya seperti kata-kataku padamu
Dengan butir-butir pasir mengotori celana jeansnya
Dengan kisah petualang tanpa titik
Aku tidak sedang dijemput penantian
biarkan bagian selanjutnya hilang
Seorang menulis pesan di langit Jakarta
Agar ketika aku kembali
Aku bisa membaca pesannya
Dia hanya menghapus warna mendung dilangit
Itupun sudah cukup menuliskan kata sederhana untukku
(madiun, 14 Juni 2008. 2x2 kamar embun bantal)
No comments:
Post a Comment